Connect with us

Peristiwa

Rohingya Disebut Bukan Konflik Agama, Masyarakat Diminta Tak Emosional

Published

on

A banner is seen during a protest against what demonstrators say is the crackdown on ethnic Rohingya Muslims in Myanmar, as police stand guard in front of the Myanmar embassy in Jakarta, Indonesia November 25, 2016. REUTERS/Beawiharta

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Masyarakat Indonesia diminta untuk tidak emosional dalam merespon konflik Rohingya yang sekarang terjadi di Myanmar. Meski demikian, aksi solidaritas berdasarkan kesamaan agama patut dilakukan untuk membantu etnis Rohingya agar mendapatkan hak-haknya sebagai manusia.

Hal itu disampaikan Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz melalui pesan tersiarnya yang diterima Nusantaranews di Jakarta, Selasa (5/9/2017).

“Aksi-aksi emosional seperti pelemparan bom molotov ke Kantor Kedubes Myanmar di Jakarta, tidak perlu dilakukan. Aksi semacam itu hanya akan memperparah situasi dan tidak menyelesaikan persoalan. Lebih baik dilakukan aksi unjuk rasa secara damai atau aksi pengumpulan dana untuk membantu etnis Rohingya,” tuturnya.

Sebelumnya dikabarkan bahwa Kedutaan Besar Myanmar di Jalan Agus Salim, Menteng, Jakarta Pusat, mengalami pelemparan bom molotov pada Minggu , (3/9) dini hari sekitar pukul 02.35 WIB. Peristiwa pelemparan itu diketahui ketika anggota polisi yang berjaga di Kedutaan Besar Myanmar melihat api menyala di teras belakang lantai. Polisi pun berusaha memadamkan api tersebut dan setelah diperiksa, sumber api berasal dari botol bir bersumbu yang dijadikan bom molotov. Belum diketahui siapa pelakunya dan pihak kepolisian masih mendalami kasus tersebut.

Menurut Neng Eem, sikap responsif pemerintah yang telah melakukan berbagai langkah terkait konflik Rohingya termasuk mengirimkan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ke Myanmar, harus didukung sepenuhnya. “Konflik yang terjadi di Myanmar ini cukup kompleks dan selama ini pendekatan persuasif yang dilakukan Pemerintah Indonesia terbukti cukup berhasil membangun komunikasi dengan Pemerintah Myanmar guna mencari solusi terbaik bagi etnis Rohingya di sana.”

Neng Eem menegaskan bahwa yang diperlukan dari masyarakat Indonesia sekarang ini adalah dukungan politik dan solidaritas kemanusiaan agar Pemerintah Myanmar mau menyelesaikan masalah etnis Rohingya ini dengan baik. “Sebagai sesama muslim adalah wajar jika kita memberikan dukungan politik, ekonomi, maupun kemanusiaan agar saudara-saudara kita etnis Rohingya mendapatkan hak hidup yang layak,” kata dia.

Baca Juga:  Antusiasme Pengungsi Rohingya atas Bantuan Indonesia

Oleh sebab itu, Neng Eem sepakat dengan usulan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar untuk melakukan penggalangan dana guna membantu etnis Rohingya yang kini mengungsi di sejumlah negara. “Puluhan ribu warga etnis Rohingya sekarang berada di pengungsian dan pasti mereka sangat membutuhkan bantuan ekonomi, terutama untuk pemenuhan kebutuhan dasar mereka,” ungkapnya.

Neng Eem juga menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia harus mampu melakukan negosiasi dengan Pemerintah Myanmar agar konflik Rohingya ini tidak berlanjut. “Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, peran Indonesia menjadi sangat penting. Apalagi secara geografis, negara kita bertetangga dengan Myanmar. Oleh karena itu, dua aspek strategis ini harus bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan konflik yang sudah berlangsung sejak puluhan tahun ini,” jelas dia.

Pewarta: Ricard Andhika
Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler