Ekonomi

Pemerintah Diminta Stop Banding-Bandingkan Utang Indonesia dengan Jepang

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Sikap abai pemerintah yang cenderung menyepelekan utang Indonesia yang terus membengkak membuat mantan Menteri Keuangan (Menkeu) RI Fuad Bawazier angkat bicara. Menurutnya kebiasaan pemerintah yang selalu memakai alibi dengan membuat perbandingan utang Indonesia dengan negara lain seperti Jepang dianggap politis.

Fuad Bawazier menegaskan, utang Indonesia dan Jepang berbeda. Menteri Kabinet Pembangunan VII ini, mengungkapkan, Jepang memiliki ciri-ciri sendiri, yang tak bisa dibandingkan dengan utang Indonesia.

Sebagai contoh, utang Jepang statusnya adalah berhutang kepada rakyatnya sendiri dan kepada Bank Sentral Jepang dengan ratio masing-masing sekitar 50%. Belum lagi utang Jepang bentuknya, dalam mata uangnya sendiri yaitu Yen.

Baca Juga:
Jangan Bandingkan Utang Indonesia Dengan Jepang
Utang Indonesia, Aman atau Rawan?

“Bunganya sangat rendah hanya sedikit di atas 1 persen. Bandingkan dengan bunga utang Indonesia yang tertinggi di Asia dan bahkan sebagiannya masih 2 digit,” ungkap Fuad Bawazier dikutip dari keterangan tertulisnya, Minggu (18/3/2018).

Baca Juga:  Ladang Gas Jambaran Tiung Biru di Bojonegoro, Harta Melimbah Baru Untuk Jatim

Pria kelahiran Tegal 1949 ini menambahkan kredit rating Jepang nilainya adalaj A+ alias sangat secure, sementara rating Indonesia sendiri BBB. Dirinya menegaskan, sekalipun utang Jepang tinggi tetapi dari kaca mata riil ekonomi, Jepang mempunyai net international investment positions mencapai USD2.8 triliun yang berarti memiliki net external assets positif alias bangsa kreditor.

Berbeda dengan Indonesia yang net international investmen position-nya negatif yang hanya sekitar USD400 miliar alias mempunyai net external liabilities atau benar-benar negara dengan neraca sebagai negara debitor.

Dalam hal ini, pemerintah tidak membandingkan tax ratio Jepang yang 31% PDB, sementara tax ratio Indonesia kurang dari 11% atau praktis yang terendah di dunia. Pemerintah juga tidak membandingkan dengan rasio APBN terhadap PDB di Indonesia yang amat rendah dibandingkan dengan rasio yang sama dari negara- negara lain yang sering dijadikan pembanding. Begitu pula dengan debt service ratio di Indonesia yang 40% atau tertinggi di Asia Tenggara, sedang batas yang dianggap aman maksimal 25%.

Baca Juga:  Sebut Tak Transparan, Dewan Jawa Timur Kesulitan Akses SIPD Pemprov

Sementara itu sekitar 41% utang pemerintah saat ini dalam valuta asing. Dengan average time to maturity 9 (Sembilan) tahun dan yang bertenor (jatuh tempo) 5 (lima) tahun sebesar 40% nya, akan menjadi beban berat APBN dalam 5 (lima) tahun ke depan.

Editor: Romadhon

Related Posts

1 of 5