Connect with us

Ekonomi

Utang Indonesia, Aman atau Rawan?

Published

on

Pengamat ekonomi asal Universitas Indonesia Faisal Basri. (Foto Andika/Nusantaranews.co)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan utang Indonesia masih dalam level aman. Sebab utang tersebut untuk pembangunan infrastruktur.

Pertanyaannya, benarkah utang Indonesia aman? Jika Darmin Nasution menyebut utang Indonesia aman, sebaliknya pengamat ekonomi UI, Faisal Basri justru melihatnya rawan. Ini dikarenakan sebagian besar utang Indonesia berbentuk obligasi.

“Sebanyak 50 persen obligasi itu dipegang asing,” kata Faisal Basri, Jumat, 16 Maret 2018, di Jakarta.

Baca Juga:
Utang Pemerintah Gagal Dongkrak Produktifitas Ekonomi Dalam Negeri
Jangan Bandingkan Utang Indonesia Dengan Jepang

Saat ini, utang Indonesia per Februari 2018 telah tembus Rp 4.034,8 triliun atau naik 13,46% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Utang ini terdiri antara lain; utang dari pinjaman luar negeri dan pinjaman dalam negeri.

Untuk pinjaman luar negeri sebesar 19,13% atau Rp 771,6 triliun yang terdiri dari pinjaman bilateral 8,21% atau Rp 331,24 triliun. Sementara untuk pinjaman dalam negeri hanya 0,14% atau sebesar Rp 5,78 triliun.

Inilah kiranya yang membuat Indonesia menurut Faisal Basri sebenarnya berada dalam posisi rawan. Sebab banyaknya jumlah obligasi yang dipegang asing membuat kedaulatan pemerintah atas ekonominya berkurang. Sehingga mau tidak mau Indonesia akan sangat terpengaruh oleh kondisi keuangan global.

Baca Juga:
Ini Tanggapan Luhut Soal Ramalan Krisis Ekonomi di Tahun 2018

Mengenai utang tersebut, apakah Indonesia mampu membayar cicilannya? Untuk menutupi cicilan bunga Indonesia mampu. Namun jika untuk menutupi cicilan yang lebih besar maka hal ini akan mengorbankan yang lain.

Semisal menurut Faisal, beban APBN membayar utang negara akan mengorbankan sektor lain seperti pendidikan dan kesehatan. “Kalau itu pendidikan dan kesehatan bisa ditunda pembayarannya. Kalau utang ditunda bisa kena sanksi,” ungkapnya. (*)

Editor: Romadhon

Komentar

Advertisement

Terpopuler