Marinir Amerika Serikat dan Korea Selatan mensimulasikan penyerangan ke kawasan musuh dalam latihan perang antar kedua negara. (Foto: AFP/Jung Yeon-Je)
Marinir Amerika Serikat dan Korea Selatan mensimulasikan penyerangan ke kawasan musuh dalam latihan perang antar kedua negara. (Foto: AFP/Jung Yeon-Je)

NUSANTARANEWS.CO, Pocheon – Pasukan Amerika Serikat dan Korea Selatan merebut kembali sebuah desa di dekat perbatasan Korea utara. Bunyi ledakan dan kobaran api bergema di lereng bukit berhutan lebat di dekat perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara.

Komandan Batalyon, Rob Kimmel dari Tim Combat Bridage Lapis Baja AS mengamati sebuah desa di lereng gunung dengan melakukan penyerangan. Tujuannya untuk merebut kembali desa tersebut ke tangan Korea Selatan, sekutu AS.

“Itu sebuah tembakan kepada musuh yang mencoba R.O.K (Republik Korea) melakukan penyerangan pasukan kami yang berada di sana,” kata Kimmel.

Ini hanyalah sekadar latihan pasukan AS dan Korea Selatan. Pasukan kedua negara melakukan simulasi dan demonstrasi penyerangan dengan objek sebuah desa kecil di lerang bukit perbatasan Korsel-Korut.

Latihan penyerangan ini hanyalah salah satu dari beberapa kekuatan utama pasukan kedua negara selama latihan gabungan. Latihan ini menjadi terkesan sangat provokatif mengingat krisis di semenanjung Korea masih belum mereda.

Ketegangan AS, Korea Selatan dan Jepang kontra Korea Utara meningkat setelah Pyongyang melepaskan sebuah rudal jarak menengah awal September lalu yang terbang melintasi langit teritori Jepang, Pulau Hokkaido.

Rudal balistik ini bukan yang pertama diluncurkan Korea Utara tetapi sudah keenam kalinya. Dua di antaranya rudal terbang melintasi pulau Hokkaido, Utara Jepang sebelum akhirnya terjun ke Samudera Pasifik.

Menyikapi tindakan Pyongyang, AS dan Korsel menggelar latihan militer di perbatasan Korea. Kali ini, latihan militer kedua negara misinya adalah merebut kembali sebuah desa dari tangan musuh.

Dilaporkan Reuters, terdengar serentetan tembakan dari tentara melalui sebuah peralatan tempur, tentara bersembunyi di beberapa bangunan desa, dan berpatroli di sekitar desa tersebut.

Sekitar 700 tentara AS-Korsel yang terlibat dalam latihan yang berlangsung empat hari ini, dengan sandi Warrior Strike-8 di dekat Zona Demiliterisasi (DMZ) Korsel-Korut. Perbatasan ini disebut-sebut paling ketat di dunia.

Korea Selatan dan Amerika Serikat secara teknis masih berperang dengan Korea Utara setelah konflik Korea 1950-53 berakhir dengan sebuah gencatan senjata, bukan sebuah perjanjian damai.

Spesialis urusan media dari Divisi Infanteri ke-2 AS menyebut bahwa latihan gabungan ini mengundang media untuk mengamati jalannya latihan perang kedua negara.

Tak hanya Korsel dan AS yang menggelar latihan, angkatan laut Rusia dan China juga menggelar latihan perang di Laut Jepang serta daerah selatan Laut Okhotsk. Moskow dan Beijing mengerahkan 11 kapal perang, dua kapal selam dan sejumlah pesawat tempur serta helikopter ke pelabuhan Vladivostok. (ed)

(Editor: Eriec Dieda)

Komentar