Kapal Perang Rusia (Russian Warships). (Foto: Reuters)
Kapal Perang Rusia (Russian Warships). (Foto: Reuters)

NUSANTARANEWS.CO – Krisis di Semenanjung Korea menyeret perhatian Rusia dan China untuk terlibat dalam konflik. Sebagai sekutu tradisional, Rusia dan China tampaknya punya kepedulian besar terhadap Korea Utara yang kini terus menerus mendapat tekanan dunia internasional terutama AS, Jepang dan Korea Selatan.

Di tengah digelarnya latihan gabungan angkatan laut Rusia dan China bertajuk Russian-Chinese Joint Sea-2017 tahap kedua di Laut Jepang serta daerah selatan Laut Okhotsk, Moskow dan Beijing mengerahkan 11 kapal perang, dua kapal selam dan sejumlah pesawat tempur serta helikopter ke pelabuhan Vladivostok.

Vladivostok merupakan kota pelabuhan terbesar Rusia di tepi pantai Samudera Pasifik yang terletak di wilayah Rusia Timur Jauh dan merupakan ibukota dari provinsi Primorsky Krai. Kota ini hanya berjarak 100 mil dari perbatasan Korea Utara.

Seperti diketahui, ancaman perang tiba-tiba terdengar di seluruh masyarakat dunia menyusul krisis di Semenanjung Korea. Krisis ini tak lain karena ketersinggungan AS, Jepang dan Korea Selatan atas ambisi nuklir Kim Jong-un. Rusia dan China pun melakukan pengawasan ketat sekaligus antisipasi kalau-kalau perang meletus.

Pengerahan kekuatan militer Rusia-China ini bertepatan dengan demonstrasi pesawat tempur AS yang mengaum di langit Korea Selatan dan Semenanjung Korea. Kedua negara khawatir AS menyerang Korea Utara karena Moskow dan Beijing berpihak pada Pyongyang.

Keberpihakan Rusia dan China pada Korea Utara dapat dipahami. China adalah mitra dagang utama Korea Utara, sementara Rusia banyak mempekerjakan orang-orang Korea Utara di negaranya. Bahkan muncul dugaan, Rusia mensuplai bahan-bahan untuk pengembangan rudal balistik dan senjata nuklir negara yang dipimpin Kim Jong-un.

Sementara itu, Daily Star melaporkan, Menteri Pertahanan AS James Mattis mengaku tengah mendiskusikan tentang rencana pengiriman senjata nuklir ke Korea Selatan. Hal itu disampaikan Mattis dalam sebuah briefing di Pentagon. (ed)

(Editor: Eriec Dieda)

Komentar