Kolom  

Patung Jenderal Perang Cina Tertinggi di Asia Tenggara, Pahlawan Indonesia Dikemanakan?

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Patung seorang jenderal berkebangsaan Cina di Tuban, Jawa Timur yang mulanya ramai dibicarakan warganet kemudian mendapat respon penolakan dari beberapa pihak.

Pasalnya, patung yang dinobatkan sebagai patung tertinggi se-Asia Tenggara dab mendapat rekor MURI itu, adalah patung Kongco Kwan Sing Tee Koen yang hidup di zaman pengujung Dinasti Han, zaman yang populer dengan nama Samkok, saat Cina terpecah menjadi tiga kerajaan besar (Wu, Shu, Wei).

Jenderal perang bernama asli Guan Yunchang dan sering dipanggil Guan Yu itu populer sebagai panglimanya para pendekar. Sosok sangar dan gagah dari kabupaten Hedong itu selain dikenal tangguh dan kuat secara fisik, ia juga jenderal yang setia, jujur, dan tepat jaji alias tidak pernah melanggar sumpahnya.

Ketua Umum Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban mengatakan pendirian patung di beranda Klenteng bertujuan untuk menampilkan figur Kwan Kong sebagai lambang tauladan kesatria sejati. Menurut Gunawan, tidak ada ritual apapun di sana. Jadi, kalau sembahyang tetap di dalam klenteng.

Praktis, patung sang jenderal itu khusus dibangun untuk kalangan masyarakat Tionghoa. Dari sisi penempatan di dalam Kelenteng, jelas itu bukan untuk masyarakat Tuban dan apalagi Indonesia? Lantas kenapa mesti menjadi hangat dibicarakan dan bahkan ditentang?

Patung itu menjadi kontroversi, meminjam istilah yang dipakai Pengamat Tata Ruang, Nirwono Yuga, karena sosok yang dijadikan ikon patung tertinggi di Asia Tenggara itu bukanlah pahlawan Indonesia. Bagi Nirwono, ada tata cara untuk membangun patung, apalagi sebesar patung di dalam Klenteng itu. Pembuatan patung, kata dia, seharusnya didahului dengan kajian yang mendalam melibatkan banyak pihak. Dan alangkah bainya, lanjut dia, jika patung yang ditampilkan adalah tokoh lokal atau nasional.

Baca Juga:  Patung Kwan Sing Tee Koen, Habil Marati: Langgar Kedaulatan Sejarah Bangsa Indonesia

Kontroversi menjadi ada, lantaran sejumlah masyarakat beranggapan pemerintah tidak menghargai para pahlawan nasional yang sudah bertumpah darah memela negara. Dimana seperti yang diketahui bersama, patung-patung pahlawan nasional justru dibuat ala kadarnya saja.

Anggapan bahwa masyarakat kecewa kepada pemerintah lantaran peresmian patung tersebut mendapat rekor MURI yang disebut-sebut sebagai patung tertinggi di Asia Tenggara. Lalu yang dibanggakan dari patung yang nasionalis, patriot nusantara, dan pembela tanah air patung yang mana bila yang dibanggakan adalah patung jenderal perang dari Cina.

Penulis: Mugi Riskiana
Editor: Ach. Sulaiman