Kolom  

Patung Raksasa Viral, Nasionalisme Terjuntal, MUI Hadir

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Patung seorang jenderal berkebangsaan Cina di Tuban, Jawa Timur yang mulanya ramai dibicarakan warganet kemudian mendapat respon penolakan dari beberapa pihak. Pasalnya, patung yang dinobatkan sebagai patung tertinggi se-Asia Tenggara dab mendapat rekor MURI itu, adalah patung Kongco Kwan Sing Tee Koen yang hidup di zaman pengujung Dinasti Han, zaman yang populer dengan nama Samkok, saat Cina terpecah menjadi tiga kerajaan besar (Wu, Shu, Wei).

Sosok sangar dan gagah dari kabupaten Hedong itu selain dikenal tangguh dan kuat secara fisik, ia juga jenderal yang setia, jujur, dan tepat jaji alias tidak pernah melanggar sumpahnya. Praktis, patung sang jenderal itu khusus dibangun untuk kalangan masyarakat Tionghoa. Dari sisi penempatan di dalam Kelenteng, jelas itu bukan untuk masyarakat Tuban dan apalagi Indonesia? Lantas kenapa mesti menjadi hangat dibicarakan dan bahkan ditentang?

Salah satu alasan kepana patung setinggi 30 meter di beranda Kelenteng Kwan Sing Bio itu ditentang lantara belum memiliki izin. Kemudian penolakan muncul dari Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) dan Pembela Tanah Air (PETA).

Baca:

Politikus Senior Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Habil Marati pun bicara melayangkan pertanyaan-pertanyaan besar terkait dengan patung raksasa yang viral dan mencetak rekor MURI itu. Habil mempertanyakan sesiapa yang diuntungkan dari kekuasaan Presiden Jojowi. Ternyata, dalam pandangan dia, uang untung bukanlah keluarga dia. Bahkan, PDIP selakua partai pengusung, kata dia, pun tidak diuntungkan. PDIP sebagai pemenang Pemilu, gagal jadi ketua MPR dan DPR,

“Apakah Umat Islam dan Pribumi diuntungkan dengan kekuasaan Jokowi ini? kelihatannya juga tidak. Lalu siapa dong yang diuntungkan dengan kekuasaan Jokowi ini?. Secara politik Umat Islam dibenturkan dengan kekuasaan Jokowi, akibatnya politik gaduh dan gaduh, dan ketika politik sedang gaduh, lalu sekonyong konyong muncul meikarta dan patung Jendral perang China di Tuban, ini siapa yang design?,” jelas Habil Marati dalam tulisannya yang berjudul “Patung dan Nasionalisme yang Tergadaikan”, Selasa, 1 Agustus 2017.

Baca Juga:  Video Ceramah Tentang Salib Disoal, MUI Panggil Ustad Abdul Somad

Habil menyampaikan, patung-patung China seperti Patung Jendral China yang dibangun di Tuban serta patung Phon Antui di Taman mini ini, apa hubungannya dengan Bangsa Indonesia? Dan Apa hubungannya dengan Kedaulatan Rakyat Indonesia? Patung patung China ini menjelaskan Apa tentang Indonesia? dan Apa tujuan keberadaan patung patung ini?

“Terus terang, saya merasa Nasionalisme saya terusik, Jiwa saya berontak. Dimana pun di Negara mana pun yang memiliki harga diri sebagai bangsa tidak akan pernah mengizinkan mendirikan patung pahlan Negara Asing didirikan di negaranya,” tegasnya.

Ia pun mempertanyakan, mengapa Jokowi tidak memerintahkan keamanan untuk merobohkan patung raksasa China yang di Tuban itu?. Bukankah ini menunjukan intervensi Nasionalisme China ke dalam wilayah kedaulatan Bangsa Indonesia?.

Telaah: Patung Kwan Sing Tee Koen, Habil Marati: Langgar Kedaulatan Sejarah Bangsa Indonesia

“Patung-patung ini jangan dikira tidak memiliki arti politik, ekonomi, Nasionalisme dan Kedaulatan. Patung patung ini bisa saja sebagai simbol bahwa secara politik sebagai penaklukan wilayah kedaulatan Indonesia, bisa saja bahwa sang Jendral perang China yang patungnya di Tuban itu dulu mungkin bercita-cita ingin menaklukan dan menguasai Indonesia secara politik tapi gagal,” ungkapnya.

“Patung Jendral perang China di Tuban itu sebagai kebangkitan Nasionalisme China perantauan dan China daratan untuk menjadikan Indonesia sebagai daerah Koloni Baru mereka, ini mungkin saja, kalau di lihat dari spectrum ekonomi dan investasi,” imbuh

Menanggapi situasi yang mulai hangat akibat patung yang kontroversial itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tuban menggelar rapat tertutup di kantor MUI bersama Forpimda setempat. Para kiai meminta penjelasan Pemda Tuban untuk nantinya akan diterbitkan rekomendasi oleh MUI Tuban supaya tercipta suasana yang aman dan nyaman serta kondusif di Kota Bumi Wali.

Baca Juga:  Alasan MUI Dukung Kemenag Ambil Alih Sertifikasi Jaminan Produk Halal

Wakil Bupati Tuban Noor Nahar Hussain, seperti dilaporkan Detik.com yang ikut dalam rapat mengambil beberapa kesimpulan. Pemda Tuban harus berupaya memberikan informasi kepada masyarakat, netizen, atau pengguna media sosial berkaitan dengan patung yang dibangun oleh kelenteng Tuban.

Pemkab Tuban dan MUI banyak menerima aduan dari masyarakat karena keriuhan di medsos. Padahal patung ini bukan dibangun di tempat umum, melainkan di dalam kompleks kelenteng. Selanjutnya pihak yang membangun patung harus ditegur dan disanksi karena belum menyelesaikan berkas IMB hingga saat ini.

Patung Jenderal Perang Cina Tertinggi di Asia Tenggara, Pahlawan Indonesia Dikemanakan?

Selain itu, pihaknya meminta kepada Pemda Tuban untuk memberika teguran dan sanksi kepada yang membangun. Alasannya karena peresmian tetap dilakukan, kendati izin belum keluar. Alasan izin tidak segera keluar, karena banyak berkas perizinan yang kurang untuk segera dipenuhi. Seperti legalitas yayasan yang belum ada.

Pewarta/Editor: Ach. Sulaiman