Connect with us

Mancanegara

Pasukan AS Mulai Meningkatkan Pelatihan Teroris di Suriah

Published

on

Pasukan AS mulai meningkatkan pelatihan teroris

Pasukan AS mulai meningkatkan pelatihan teroris di Suriah

NUSANTARANEWS.CO – Pasukan AS mulai meningkatkan pelatihan teroris di Suriah. Tidak mengherankan bila dalam sebulan terakhir, serangan teroris secara sporadis terlihat meningkat di berbagai wilayah Suriah setelah kekalahan beruntun mereka di berbagai medan pertempuran. Meski Amerika Serikat (AS) gagal menggulingkan Presiden Bahsar Al Assad, namun laporan intel yang masuk mengungkapkan bahwa pasukan AS terus melanjutkan pelatihan para teroris di wilayah al-Tanf dekat perbatasan Yordania.

Senada dengan itu, kantor berita Turki Anadolu juga melaporkan bahwa teroris Jeish al-Maqawir yang berafiliasi dengan Tentara Pembebasan Suriah (FSA) masih terus dilatih oleh pasukan AS.

Berdasarkan laporan mutakhir, para teroris kini sedang menjalani pelatihan khusus yang berlangsung di pangkalan al-Tanf dan beberapa pangkalan di Yordania. Tercatat gerilyawan FSA turut menjalani pelatihan khusus, termasuk operasi penerbangan dan pertempuran dalam kondisi sulit.

Sumber-sumber itu juga mengatakan bahwa sejumlah perwira militer dan intelijen AS bersama sejumlah penasihat koalisi pimpinan AS mengawasi ketat pelatihan-pelatihan itu.

Di pangkalan al-Tanf, pasukan AS telah merekrut lebih banyak gerilyawan untuk kelompok teroris Jeish al-Maqawir.

Menurut Fars News, pasukan AS beroperasi secara ilegal menduduki wilayah utara dan selatan, termasuk mendirikan 18 pangkalan militer di provinsi timur laut dan timur Suriah untuk mengejar tujuan politik dan militernya.

Seperti diketahui, Presiden Obama mulai meluncurkan perang di Suriah pada Maret 2011 untuk menggulingkan Presiden Bashar Al Assad. Dan sejak awal pula Washington telah menggunakan ISIS dan teroris lainnya dalam melancarkan perang proxy terhadap kepemimpinan Presiden Assad di Suriah yang menewaskan ribuan warga sipil Suriah.

Meningkatnya serangan teroris di Suriah belakangan ini, tampaknya tidak terlepas dari hasil pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh pasukan koalisi pimpinan AS. Seperti serangan kelompok teroris Front Nusra di desa Qasabiyeh sebelah selatan Idlib,

Baca Juga:  Heboh Isu Kiamat Ponorogo, Putra Bungsu SBY Prihatin

Menurut kantor berita SANA, kelompok teroris melakukan serangan dengan dukungan beberapa kendaraan lapis baja, namun berhasil berhasil dihancurkan oleh pasukan pemerintah Suriah, membunuh beberapa teroris termasuk yang nekat melakukan serangan “bom” bunuh diri.

Kemudian serangan roket terhadap provinsi Hama di Suriah barat pada Sabtu malam lalu, di mana wilayah Muhradah dan Shaizar menjadi target serangan teror, lapor Iran Press mengutip TV Al-Ikhbaria.

Serangan roket tersebut menewaskan wanita dan anak-anak. Gubernur Hama Mohammad Hazouri mengatakan bahwa beberapa orang tidak sadarkan diri, sebagian lagi menderita dispnea, dan iritasi kulit. Para korban yang menderita luka telah dimasukkan ke rumah sakit. Kelompok teroris tampaknya mulai menggunakan senjata kimia. Padahal selama ini pemerintah Suriah lah yang selalu dituduh menggunakan senjata kimia seperti dalam kasus insiden “senjata kimia” di Khan Sheikhoun dan Ghouta timur.

Selain menargetkan pemukiman, serangan teroris kini juga mulai menyasar kepada kepentingan ekonomi Suriah. Pada 21 Juli, kelompok teroris meledakkan kereta api yang mengangkut fosfat di Homs. Akibatnya kereta tergelincir dan terbakar, termasuk kompartemen fosfat.

Menurut infromasi pemerintah lokal, teroris menanamkan bahan peledak di jalur antara al-Fajwa dan al-Basirah di timur Palmyra yang merupakan jalur kereta api ke tambang fosfat di daerah Khunayfis di pedesaan Homs timur.

Sebagai informasi, tambang fosfat tersebut merupakan proyek investasi Rusia untuk jangka waktu 50 tahun. Kapasitas tambang fosfat tersebut mampu menghasilkan 2,2 juta ton per tahun.

Pada bulan Mei, serangan teroris juga menghancurkan jalur pipa gas yang menghubungkan ladang gas al-Shaer di Homs timur dengan pabrik gas Ebla – menyusul operasi sabotase yang merusak lima pipa bawah laut terminal minyak Banias di pantai Suriah.

Baca Juga:  Erick Thohir dan Sandiaga Uno Beda Pilihan Politik, HIPMI Bantah Organisasi Pecah

Tidak ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas ketiga serangan ini, yang semuanya dilakukan secara profesional. (Banyu)

Loading...

Terpopuler