Tawaran Perdamaian di Afghanistan di Bawah Tekanan AS

Militan Taliban di Afghanistan.

Militan Taliban di Afghanistan. (Foto: Ilustrasi/AS)

NUSANTARANEWS.CO, Kabul – Presiden Ashraf Ghani mengajak Taliban untuk bergabung dalam sebuah perundingan damai setelah Afghanistan dilanda perang sejak 17 tahun terakhir. Ghani bahkan dilaporkan memberikan tawaran kalau dirinya akan memperlakukan Taliban sebagai partai politik yang sah dan diakui.

Dalam sebuah pernyataannya baru-baru ini, seperti dikutip New York Times menyebutkan bahwa pemerintahan Ghani akan memberi Taliban sebuah kantor di ibukota Kabul, paspor bagi anggota Taliban, membantu pembangunan pemukiman bagi keluarga militan serta bantuan untuk menghapus nama-nama komandan tertinggi Taliban dari daftar hitam teroris internasional.

“Kami ingin menciptakan kehidupan yang penuh damai dan saling menghormati bagi semua orang Afghanistan, termasuk Taliban untuk kita bersama menghentikan kekerasan,” kata Ghani dalam konferensi perdamaian.

BACA: Al-Qaeda dan 16 Tahun Perang Afghanistan

Sejak tahun 2001, Taliban adalah penguasan di Afghanistan di bawah pimpinan Mullah Mohammed Omar. Namun, pada tahun 2001, Amerika Serikat secara sepihak menggulingkan Omar atas tuduhan bersekutu dengan Osama bin Laden pasca tragedi serangan terhadap menara kembar World trade Center (WTC), New York pada tanggal 11 Septemebr 2001 silam. Invasi besar-besaran AS dan sekutu ke Afghanistan memaksa Taliban keluar dari Afghanistan. Sayang, AS dan sekutu tak mampu membuktikan bahwa serangan terhadap WTC murni dilakukan Osama bin Laden maupun Taliban, melaikan semata tuduhan belaka. Bahkan desas-desus yang beredar setahun setelah invasi Afghanistan, bahwa serangan terhadap WTC, 11 September 2001 merupakan operasi intelijen CIA dan Mossad.

Setelah 17 tahun perang dan mengakibatkan puluhan ribu nyawa sipil melayang, Ghani memandang ada sedikit celah yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan perundingan damai dengan Taliban.

BACA: Tahun 2018, AS Kembali Kerahkan Ribuan Tentaranya ke Afghanistan

Taliban sendiri belum menanggapi tawaran yang diajukan Ghani. Bagaimana pun, pemerintahan Afghanistan yang dipimpin Ghani selama bertahun-tahun telah dianggap Taliban sebagai boneka AS. Malah, Taliban yang sejatinya berkuasa justru dihancurkan dan Ghani dipandang sebagai salah satu sosok yang mendukung langkah AS dan sekutu tersebut dalam kurun waktu 17 tahun terakhir.

Apalagi AS telah merancang strategi baru di tahun 2018 untuk menghadapi Taliban, bahkan dengan mengerahkan pasukan dan peralatan militer tak sedikit serta canggih. Sebagai informasi, AS sediktinya menempatkan 14 ribu pasukan di Afghanistan di bawah instruksi Presiden Donald Trump. Dan jumlahnya berpotensi ditambahkan, setidaknya 1.000 personil lagi sebagai penasihat militer.

BACA:
Kehebatan Amerika Konversi Tragedi WTC 16 Tahun Silam
Mambaca Ulang Tragedi WTC 11 September

Fakta inilah yang kemudian membuat Taliban berpikir ulang untuk menerima tawaran Ghani. Dan dalam sebuah pernyataannya, Taliban menegaskan bahwa strategi militer AS selama 17 tahun terakhir di Afghanistan hanya akan mengintensifkan dan memperpanjang perang.

Seperti diketahui, di bawah kepemimpinan Presiden Trump, strategi AS untuk menyudahi perang di Afghanistan dengan melibatkan perluasan serangan udara dan menekan Pakistan untuk memaksa Taliban melakukan negosiasi dengan pemerintah Afghanistan.

Dengan kata lain, tawaran untuk melakukan bernegosiasi damai dengan Taliban sebetulnya merupakan inisiatif AS. Pasukan dan peralatan militer skala penuh yang ditempatkan AS di Kabul boleh jadi membuat Taliban berpikir ulang untuk menolak tawaran damai daripada mereka dianggap menyerah kalah.

BACA JUGA: Libya, Negeri Makmur Sejahtera yang Dihancurkan Koalisi Kapitalis-Teroris

Editor: Eriec Dieda

Exit mobile version