Connect with us

Ekonomi

Kehebatan Amerika Konversi Tragedi WTC 16 Tahun Silam

Published

on

Gedung WTC/Foto Dok. Amanzafar.com/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Enam belas tahun lalu tepatnya 11 September 2001 silam, sebuah tragedi besar menyasar kota New York, Amerika Serikat. Dimana simbol kekuatan kapitalisme dunia yakni gedung pencakar langit World Trade Center (WTC) dan Pentagon diseruduk burung besi. Peristiwa ini seketika membuat negeri Paman Sam berduka dan porak poranda.

Namun bukan Amerika namanya jika tak mampu move on dari peristiwa tersebut. Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali saat didapuk sebagai narasumber dalam acara di New York pada 1 September 2017 lalu menceritakan bagaimana kehebatan Amerika dalam mengkonversi tragedi WTC menjadi suatu keuntungan baru.

Dirinya menjelaskan bahwa acaranya ke gedung WTC, beberapa pekan lalu itu sesungguhnya sudah merupakan rangkaian dari peringatan terjadinya serangan teror ke kota New York sekitar 16 tahun lalu. “Di sinilah kehebatan Amerika dalam membangun imej dan mempromosikan apa yang dianggap memberikan keuntungan bagi negara dan bangsa ini,” ungkap Imam Shamsi.

Kehebatan Amerika ini, kata Shamsi menjadikan peristiwa 9/11 (Tragedi WTC) tidak saja menjadi seolah ritual tahunan, bahkan tempat kejadiannya (daerah WTC) menjadi destinasi turis yang dikunjungi oleh puluhan juta manusia setiap tahunnya. Dirinya menjelaskan, menurut perugas museum WTC, ada 36 juta pengunjung hanya dalam tahun 2016 lalu.

Dengan harga tiket masuknya, sebesar $30. “Silahkan dikalikan,” ujarnya. Tapi yang terpenting dari semua itu, kata dia adalah peristiwa 9/11 telah dijadikan sebagai “justifikasi” awal peperangan kepada terorisme internasional (war against international terrorism). “Dan karena Islam yang tertuduh saat peristiwa itu. maka peperangan kepada teror dunia juga tidak terlepas dari peperangan kepada apa yang disebut ‘radical Islam’,” bebernya.

Baca Juga:  Amerika Serikat Ingin Kembali Mengontrol Energi Iran

Kembali ke acara yang disebutkan di atas, Shamsi mengatakan acara itu dihadiri oleh para calon pendeta Katolik (seminarian), dengan tiga pembicara. “Saya sendiri mewakili komunitas Muslim, Rabbi Joseph Potasnik (Ketua Dewa Rabbi Yahudi New York) dan Kepala Pemadam Kebakaran kota New York di saat peristiwa 9/11 itu terjadi. Yang bertindak sebagai moderator adalah Bishop Massa, yang menjadi koordinator kedatangan Pope Francis ke kota New York tahun lalu,” ujar Shamsi.

Acara diskusi itu dimulai dengan pertanyaan kepada semua narasumber tentang pengalaman pribadi di saat tragedi 9/11 terjadi. Kepala pemadam kebakaran NY Cassano bercerita panjang lebar bagaimana para anggota pemadam kebarakan berjuang menyelamat nyawa manusia ketika itu. “Mendengarkan itu saya kembali membayangkan di saat kejadian hari itu. Bagaimana kepanikan yang terjadi di kota New York saat itu, ditopang oleh kemajuan media dan informasi menjadikan peristiwa itu tidak saja menggoncang Amerika. Tapi sekaligus menggoncang dunia, bahkan menjadi pewarna hubungan antar manusia (human relations) dunia,” sambungnya.

“Saya lalu terpikir kalau saja peristiwa yang menimpa Amerika di tahun 2001 dan menelan hampir 3000 nyawa manusia itu terjadi di sebuah negara Islam, entah apakah akan seheboh dengan tragedi 9/11 itu?” ungkap tampak penasaran.

Seketika dirinya diingatkan oleh puluhan ribu, bahkan barangkali ratusan ribu jiwa rakyat sipil yang terbantai di Irak, Afghanistan dan negara-negara Muslim lainnya. Tapi tragedi yang menimpa mereka tidak seheboh seperti apa yang terjadi di bulan September 2001 lalu. Bahkan saat ini, menurutnya pembataian yang terjadi di salah satu negara mayoritas agama yang dicap sebagai agama non violent (tanpa kekerasan), agama yang mengajarkan kesejukan dan penghormatan kepada kehidupan. Agama yang menghormati nyawa makhkuk, bahkan nyawa hewan sekalipun. Yaitu agama Buddha di Myanmar. Tapi pembantaian dan kekerasan yang dialami oleh masyarakat Rohingya tidak menjadikan dunia heboh. Bahkan cenderung dunia yang kerap mengaku sebagai pahlawan HAM dan kemanusiaan itu, ungkap Shamsi semua diam membisu.

Baca Juga:  Momentum Kehadiran Kembali Militer AS di Asia Tenggara

“Saya sendiri mendapat pertanyaan yang cukup mengejutkan dan menyudutkan, sekaligus menggambarkan kekurangjujuran. Pertanyaan itu adalah kenapa dalam tahun-tahun terakhir umat Islam semakin banyak yang menjadi radikal (radicalized)? Dan bagaimana sesungguhnya Islam memandang radikalisme? Menentangkah? Atau apakah memang ada justifikasi (pembenaran) radikalisme dari teks-teks agama (religious texts)?” ungkap dia.

Terus terang pertanyaan seperti itu bukan baru bagi dirinya. Seringkali diberbagai acara Shamsi mendapatkan pertanyaan yang sama, entah memang untuk tujuan mendapatkan klarifikasi. Atau sebuah pertanyaan dengan tujuan menyudutkan. Seolah-olah Islam itu memang demikian.

Pewarta/Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler