Connect with us

Berita Utama

Libya, Negeri Makmur Sejahtera Yang Dihancurkan Koalisi Kapitalis-Teroris

Published

on

Muammar Qaddafi

NUSANTARANEWS.CO – Reformasi yang dijalankan oleh Muammar Qaddafi telah mengubah Libya dari salah satu negara termiskin di dunia, menjadi satu negara yang paling makmur di Afrika, bahkan dalam banyak hal, menjadi salah satu negara yang paling makmur di dunia.

Fakta-fakta menunjukkan bahwa Libya tidak memiliki hutang luar negeri dan benar-benar menyimpan pendapatan dari pembayaran minyak ke rekening bank negaranya. Bank negara juga memberikan pinjaman kepada warga negara dengan bunga nol persen berdasarkan undang-undang.

Libya juga menyediakan rumah bagi rakyatnya sebagai hak azasi manusia. Termasuk akses pelayanan gratis kesehatan terbaik di Timur Tengah dan Afrika. Jika warga Libya tidak dapat mengakses kursus pendidikan yang diinginkan atau perawatan medis yang benar di Libya mereka akan didanai untuk pergi ke luar negeri.

Jadi di bawah pemerintahan Gaddafi, orang-orang Libya memiliki akses terhadap layanan kesehatan berkualitas gratis, pendidikan gratis dari dasar hingga ke tingkat universitas, menyewa perumahan gratis, listrik gratis, makanan bersubsidi dengan standar kehidupan yang tinggi.

Bukan itu saja, bila ada warga Libya yang ingin memulai sebuah usaha peternakan mereka diberi sebuah rumah, lahan pertanian dan persediaan hidup dan benih secara gratis. Ketika seorang wanita Libya melahirkan, dia diberi US$ 5.000,- untuk dirinya sendiri dan anaknya.

Sehingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menganggap Libya sebagai sebuah negara dengan pembangunan tertinggi di Timur Tengah dan Afrika Utara. Dalam bidang infrastruktur, Gaddafi membangun proyek irigasi terbesar di dunia yang dirancang untuk menyediakan air bagi seluruh negeri yang di danai oleh pemerintah. Gaddafi sendiri menyebutnya sebagai “keajaiban kedelapan dunia”.

Tingkat melek huruf 88,4%, harapan hidup 74,5 tahun, kesetaraan jender, dan berbagai indikator positif lainnya. Libya juga menikmati pertumbuhan ekonomi 4,2% di tahun 2010 dan memiliki aset asing lebih dari US$ 150 miliar. Qaddafi juga secara teratur melakukan reformasi dari waktu ke waktu.

Baca Juga:  Koramil Bareng, Warga dan Polisi Bentengi Desa Tebel dari Bahaya Laten Komunis dan Teroris

Nah, imperialis sangat membenci kemajuan Libya ini. Bagaimanapun, pencapaian ini akan menjadi inspirasi bagi negara-negara lain untuk meninggalkan model kapitalis neolib yang jelas-jelas hanya memperluas jarak antara yang kaya dan miskin. Termasuk meninggalkan sistem demokrasi-liberal palsu yang hanya memberdayakan segelintir orang untuk menguasai mayoritas. Pada gilirannya sistem pemilihan multi partai yang dirancang untuk memecah belah negara dengan garis etnis dan kesukuan pun akan ditinggalkan, dan sebaliknya, memilih Jamahiriya yang diperkenalkan oleh Qaddafi.

Sebelum jatuhnya Tripoli dan kematiannya yang terlalu cepat, Gaddafi sedang mencoba membentuk “Amerika Serikat” di Afrika, dengan militer sendiri dan satu mata uang tunggal. Bila ide Qaddafi ini berjalan, tentu negara-negara Afrika pada akhirnya akan memiliki kekuatan untuk melepaskan dirinya dari jeratan hutang dan kemiskinan. Sebaliknya, bila hal ini terwujud, bukan saja melemahkan nilai dolar AS bahkan akan menggeser kiblat kekuatan ekonomi global ke Afrika. Dengan kata lain, Qaddafi ingin mengubah tatanan dunia abad 21 menjadi lebih adil bagi semua.

Seperti diketahui, selama ini proyek-proyek pembangunan utama di seluruh Afrika, dibiayai oleh Libya. Tapi kini semuanya terhenti. Arab Saudi dan Qatar, sebagai aktor utama di balik kehancuran Libya, langsung sibuk menyambar lahan besar di Afrika. Sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi jika Qaddafi masih hidup. Ya, kaum imperialis berhasil menyabotase rencana besar Qaddafi untuk membangun Afrika yang bersatu dan berdaulat.

Hari ini, Libya telah menjadi negara gagal. Bukan itu saja, Libya kini telah menjadi tanah tak bertuan yang menjadi wilayah rampasan perang oleh para milisi bersenjata. Selain itu, wilayah Libya juga telah menjadi tempat yang kondusif bagi ajang latihan militer ISIS dan Al Qaeda, serta kelompok militan lainnya. Sungguh tragis.

Baca Juga:  Kodam Merdeka Turunkan Kendaraan Taktis Penunjang Operasi Tinombala

Di tengah kepiluan itu semua, ribuan warga Libya dan warga negara Afrika lainnya masih ditahan tanpa diadili dalam kamp-kamp konsentrasi. Banyak yang telah disiksa dan dieksekusi di kamp-kamp tersebut. Satu-satunya kejahatan mereka adalah setia kepada Qaddafi. Sementara mereka yang sekarang menguasai Libya adalah pembenci Pan-Afrika Qaddafi. Tidak mengherankan bila lebih dari 1,5 juta pengikut Qaddafi kemudian diasingkan dari negara mereka. Sehingga terjadi krisis pengungsi di seluruh Eropa.

Para pemimpin Afrika hari ini, kecuali beberapa orang, akhirnya hanya berbicara tanpa tujuan di aula markas besar Uni Afrika – tak berdaya menolak hubungan neo-kolonial lama yang telah membelenggu Afrika dalam perbudakan. (Agus Setiawan)

Artikel Terkait: Mengenang Muammar Qaddafi Dan Teori Universal Ketiganya

Loading...

Terpopuler