Connect with us

Mancanegara

Mengenang Qaddafi dan Teori Universal Ketiganya

Published

on

Sang pemimpin revolusioner Libya, Kolonel Muammar Qadafi. (Foto: David Bebber/Time)

NUSANTARANEWS.CO – Minggu lalu, semua orang yang melawan penindasan dan tirani di seluruh dunia, memberi hormat kepada Muammar Qaddafi yang melanjutkan perjuangan junjungannya. Tepatnya, 20 Oktober 2017, di mana Qaddafi, bersama dengan pengikutnya, termasuk anaknya Mutassim Billal Qaddafi, dan pejuang kemerdekaan veteran, Abu Bakr Yunis Jabr, berjuang sampai konvoi mereka dibom oleh jet tempur Prancis dan drone AS hingga mereka terluka parah – kemudian ditangkap dan dibantai oleh Al-Qaeda.

Eksekusi Muammar Qaddafi dan pengikutnya serta penghancuran Jamahiriya Libya boleh dibilang merupakan salah satu kejahatan terbesar abad ini. Berdasarkan fakta yang ada, bahwa tidak pernah ada pemberontakan massal di Benghazi atau di manapun di Libya. Bahkan selama invasi, jutaan rakyat Libya dengan tegas mendukung revolusi Qaddafi dengan demonstrasi terbesar dalam sejarah dunia abad 21 di Tripoli.

Namun, berita palsu dan mesin narasi palsu telah bekerja menyebarkan kebohongan secara masif menutupi apa yang sesungguhnya terjadi. Sehingga dalam waktu singkat, PBB langsung mengubah status Qaddafi dari seorang yang akan menerima Penghargaan Hak Asasi Manusia PBB menjadi seorang kriminal yang membunuh bangsanya sendiri – seperti halnya kriminalisasi terhadap Slobodan Milosevic di Yugoslavia.

Dengan istilah Arab Spring, kaum imperialis berhasil memicu gelombang pemberontakan masal di kedua sisi Libya, di Tunisia dan Mesir. Namun gelombang Arab Spring tersebut gagal menembus Libya. Sehingga AS dan Barat kemudian mendorong dengan kecepatan tinggi yang memecahkan rekor dunia keluarnya resolusi ilegal PBB untuk menginvasi Libya.

Koalisi unik yang terdiri dari tentara berbagai negara dan faksi-faksi teroris segera terbentuk di perbatasan Libya beberapa minggu sebelum serangan di mulai, termasuk CIA, Marinir Belanda, pasukan militer Prancis dan Sudan, Pasukan Khusus Qatar, gerombolan Al Qaeda yang difasilitasi oleh Saudi (demikian pula Al Qaeda di Yaman hari ini).

Baca Juga:  Jika Tiongkok Sukses Bangun Pulau Permanen, Natuna Akan Masuk ZEE
Loading...

Keterlibatan gerombolan teroris sebagai “pasukan khusus” imperialis sudah lama dipersiapkan. Ingat, ketika Presiden AS Ronald Reagan menyambut para pemimpin Mujahidin Afghanistan yang sedang memerangi Soviet saat itu, ke Oval Office dan menyebut mereka sebagai pejuang kemerdekaan Jihadi.

Hari ini kita menyaksikan Al Qaeda dan berbagai cabangnya, termasuk ISIS yang terkenal, telah memainkan peranan yang sama memecah-belah dan menghancurkan kawasan Timur Tengah hingga Afrika, bahkan Asia.

Dan menjadi tidak mengherankan bila kita melihat lebih jauh lagi, ketika pasukan kolonial Inggris memfasilitasi penciptaan kerajaan Wahhabi di Arab Saudi, yang pada gilirannya kemudian mendorong, mendukung dan mendanai pertumbuhan kelompok fundamentalis Islam di seluruh dunia.

Kaum imperialis sadar bahwa Islam yang benar dan revolusioner ini merupakan kekuatan yang bisa melawan mereka bila mulai terbangun. Di sinilah visi Teori Universal Ketiga (Third Universal Theory) Muammar Qaddafi telah berhasil membangunkan Afrika untuk bangkit melawan imperialisme. Revolusi Qaddafi lebih dari sebuah revolusi sosial, politik dan ekonomi, dia menembus spiritual dan budaya yang membingungkan bukan hanya kekuatan imperialis tapi juga bagi dunia Arab reaksioner.

Dunia Mathaba, The World Mathaba, yang didirikan oleh Muammar Qaddafi pada tahun 1982, memiliki misi yang menyatakan, “untuk melawan imperialisme, rasisme, fasisme, Zionisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme” yang menjadikan Libya sebagai pusat pertemuan bagi kekuatan revolusioner dan progresif dari seluruh dunia. Mathaba menjadi sebuah forum untuk kemajuan Teori Universal Ketiga di luar Kapitalisme dan Komunisme.

Seperti diketahui, sebelum Mathaba, satu-satunya formasi internasional untuk organisasi progresif dan revolusioner adalah Komintern yang didominasi oleh Uni Soviet, yang menuntut kesetiaan ideologis terhadap Marxisme – Leninisme dan Internasional Sosialis, yang mempertemukan partai sosial-demokratik.

Baca Juga:  Obama, Trump, TPP dan Arab Spring

Bukan hanya wacana, secara kongkret Qaddafi memberi bantuan material dan dukungan moral kepada kaum tertindas di setiap penjuru bumi, terlepas dari agama atau ideologi apa pun. Semua dibantu, orang-orang Roma di Eropa Timur hingga orang-orang Kanak di Kaledonia Baru di Pasifik Barat Daya, ke orang-orang Rohingya, yang saat ini dibersihkan secara etnis oleh kaum chauvinis Buddhis Myanmar.

Qaddafi dalam banyak kesempatan menyatakan bahwa Revolusi Libya memiliki tugas suci untuk membantu semua orang yang memiliki kebutuhan yang sah dan menderita karena penindasan sesuai ajaran Quran, yang merupakan landasan konstitusi Libya.

Sebuah revolusi yang melawan Islam palsu yang ditindas oleh penindas, yang bertujuan menghapus kapitalisme dan hubungan sosial semi-feodal yang didukung oleh elite penguasa di Arab Saudi, Qatar, UEA dan Sudan.

Inilah sebabnya mengapa Qaddafi begitu menakutkan bagi imperialis. Qaddafi bukan hanya mengemukakan gagasan tapi sedang membangun masyarakat baru – Jamahiriya – sebuah negara yang memiliki massa, sebuah demokrasi sejati yang didasarkan pada ajaran revolusioner Islam. (Agus Setiawan)

Loading...

Terpopuler