Connect with us

Mancanegara

Tandingi OBOR, India-Jepang Bangun Asia-Africa Growth Corridor

Published

on

Peta Koridor Pertumbuhan Asia-Afrika (Asia Africa Growth Corridor/AAGC). (Foto: Project Mausam)

NUSANTARANEWS.CO – India adalah salah satu negara yang merasa terusik dan terganggu atas inisiatif One Belt, One Road China (OBOR). Bagi India, OBOR semata hanyalah strategi politik ekonomi China belaka.

India enggan bergabung dalam proyek OBOR China. Keenggan ini bisa dipahami karena secara geopolitik India memang merasa terkepung dan terancam oleh konektivitas inisiatif OBOR.

OBOR adalah sebuah proyek kebijakan ekonomi global yang paling ambisius, yang bertujuan untuk menghubungkan lebih dari 65 negara di Asia dan Eropa melalui pembangunan infrastruktur dalam skala besar. Negara tetangga India, Pakistan justru memandang OBOR merupakan proyek infrastruktur yang akan merubah dinamika permainan di kawasan regional. Bagi Pakistan, pembangunan proyek infrastruktur koridor Ekonomi China-Pakistan secara radikal akan mengubah persahabatan bilateral menjadi kemitraan ekonomi yang lebih strategis.

Tak hanya jalur darat, China juga berambisi membangun jalur sutra maritim abad 21 (Maritime Silk Road). Ambisi China ini boleh jadi merupakan pertanda dunia akan menyongsong globalisasi gelombang ketiga di tengah krisis perekonomian global yang tak kunjung membaik. Artinya, dibutuhkan perubahan radikal agar mampu keluar dari situasi batas itu sehingga tumbuh model pertumbuhan perekonomian baru.

India melihat program ambisius Beijing tentang pembangunan infrastruktur sangat berbeda dan penuh kecurigaan. India kini mulai mencanangkan dua proyek jalur perdagangannya sendiri. Di bawah naungan kebijakan Connect Central Asia, India telah mengambil langkah strategis untuk keluar dari taktik kepungan OBOR. India mulai membuat koridor perdagangan North-South Transport Corridor (NSTC) sepanjang 7.200 kilometer yang membentang dari India ke Iran sampai Rusia, Kaukasus, dan Asia Tengah. Sedangkan dengan kebijakan Act East, India membuka klaim jalur perdagangan kunonya yang sudah berlangsung berabad-abad dengan negara-negara Asia Tenggara.

Baca Juga:  Krisis Memuncak, Dunia di Ambang Peperangan Global

Artikel Terkait:
India Merasa Terkepung Oleh Inisiatif Belt Road Cina
Inisiatif India Menandingi “One Belt One Road” Cina
Akhirnya, Pelabuhan Strategis Sri Lanka Dikuasai China

India serius. Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe berkunjung ke India untuk meluncurkan salah satu program tandingan OBOR China, yakni Koridor Pertumbuhan Asia-Afrika (Asia Africa Growth Corridor/AAGC). Abe dijadwalkan berada di India selama dua hari untuk membahas inisiatif Jepang dan India tersebut.

Gagasan AAGC muncul dalam deklarasi bersama yang dikeluarkan oleh Perdana Menteri Narendra Modi dan Abe pada bulan November 2016. Pada 2017, Sistem Penelitian dan Informasi untuk Negara Berkembang (RIS) bersama dengan Institut Riset Ekonomi untuk ASEAN dan Asia Timur dan Institut dari Developing Economies, Japan External Trade Organization (JETRO) merilis sebuah dokumen visi AAGC di sela-sela pertemuan dewan direksi tahunan African Development Bank (AfDB) di Gandhinagar, Gujrat.

Perdana Menteri Modi, dalam pidato pengukuhannya di acara Bank Pembangunan Afrika, mengatakan bahwa India bekerja sama dengan AS dan Jepang untuk mendukung pembangunan di Afrika. Para ahli mengatakan India dan Jepang memiliki tujuan strategis terutama bidang maritim sehingga kedua negara ingin mempertahankan kesimbangan kekuasaan setelah China begitu ambisius dalam proyek Maritime Silk Road-nya.

“Sinergi antara kedua negara telah meningkat sejak 2014 dan PM Modi dan PM Jepang Abe berbagi hubungan pribadi. Ada pemahaman strategis bersama antara India dan Jepang mengenai berbagai aspek di kawasan ini, terutama ketika menyangkut China dan ambisinya. Karena kehadiran maritim China yang meluas dari Laut Jepang hingga ke Samudra Hindia, Jepang dan India sama-sama tertarik untuk membangun kemitraan maritim. Bahkan dalam kebuntuan Doklam terbaru, Jepang tidak hanya mendukung India namun juga mengkritik China karena ekspansionisnya,” kata Dr Swaran Singh, Profesor Hubungan Internasional Universitas Jawaharlal Nehru seperti dikutip Sputnik.

Total panjang Koridor Utara-Selatan yang direncanakan India-Jepang mencapai 7.200 kilometer. Jika pembangunan jalur ini terealisasi, maka akan mengurangi panjang jalur transportasi Eropa-Asia sampai 40 persen dan biaya pengiriman pun akan berkurang hingga 30 persen.

Baca Juga:  Menkumham Bantah Ada Serbuan 10 Juta TKA Asal China

Di AAGC, Sigh mengatakan India dan Jepang berusaha menghalangi koridor ekonomi China-Pakistan atau Maritime Silk Road. “Kami sangat ingin bekerjasama dengan Jepang dalam mempromosikan konektivitas, infrastruktur, dan pengembangan kapasitas di seluruh wilayah tersebut,” kata dia.

India tidak hanya menolak undangan China untuk bergabung dengan OBOR namun telah menolak inisiatif infrastruktur triliun dolar dengan alasan bahwa hal itu melanggar kedaulatan negara mengingat CPEC, yang melintasi Kashmir, sebuah jalur yang masih disengketakan.

Sementara itu, Jepang diperkirakan siap mengucurkan dana sebesar 30 milair dolar untuk AAGC, sementara India juag diperkirakan akan mengeluarkan dana sekitar 10 miliar dolar. Hanya saja, angka 40 miliar dolar masih sebatas komitmen awal dan diperkirakan bisa naik lebih tinggi, tergantung bagaimana hasil perundingan Abe dan Narendra Modi.

Insiatif Jepang dan India ini boleh jadi akan dilirik negara-negara yang bersengeketa dengan China di sektor maritim terutama Filipina, Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Thailand.

Boleh jadi Singapura juga merapat. Dan India tengah berusaha menarik perhatian negara-negara yang banyak terperangkap utang seperi Sri Lanka. Hanya saja, Sri Lanka di bawah kepemimpinan Maithripala Sirisena baru saja melepaskan 70 persen saham pelabuhan Hambantota seharga US$ 1,12 miliar kepada perusahaan milik negara China Merchants Port Holdings. Pelabuhan Hambantota diketahui memang sudah sejak lama diincar China karena posisinya yang strategis. Beratahun-tahun gagal mengakuisisi karena derasnya arus penolakan dari masyarakat, tapi akhirnya pelabuhan itu dilepaskan Sri Langka kepada China untuk dikelola dengan alasan Colombo tak punya biaya untuk mengelolanya. (ed)

(Editor: Eriec Dieda)

Terpopuler