Connect with us

Mancanegara

Soal Rohingya, Erdogan Sebut Masyarakat Dunia Buta dan Tuli

Published

on

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan/Foto Dok. Pribadi/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Beberapa hari lalu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendesak masyarakat internasional untuk meningkatkan upaya untuk etnis Rohingya di Myanmar. Dirinya menyebut masyarakat dunia saat ini seakan buta dan tuli dengan diam menyaksikan kenyataan yang dialami warga Rohingya.

“Sayangnya saya bisa mengatakan bahwa dunia ini buta dan tuli terhadap apa yang sedang terjadi di Myanmar,” kata Erdogan dikutip dari AFP.

Hal yang tak kalah memiriskan bagi Erdogan adalah ketika seorang saksi mata menceritakan kronologi pembakaran mesjid di Rohingya yang langsung menjadi headline di media. Erdogan mengaku tak bisa menahan airmatanya.

Abdullah (20), warga Rohingya yang menjadi saksi mata kesadisan tentara Myanmar mengisahkan. Di suatu subuh yang sunyi senyap. Warga yang berlindung di sebuah masjid di Rakhine bergegas melaksanakan shalat Subuh berjamaah.

Setelah adzan berkumandang, tiba-tiba terdengar teriakan diselingi suara tembakan. Warga yang panik berhamburan keluar. Mereka melihat puluhan pria berpakaian loreng menenteng senjata.

Rentetan senjata api terdengar lagi. Satu persatu warga yang keluar dari masjid, tiba-tiba jatuh tersungkur. Darah mengalir dimana-mana.

Pria-pria bersenjata tersebut memerintahkan warga Rohingya untuk masuk kembali ke masjid. Abdullah cukup beruntung. Badannya yang kecil berhasil menyelusup diantara semak.

Setelah warga masuk masjid. Pria bersenjata yang diidentifikasi sebagai militer Myanmar tersebut kembali mengeluarkan perintah kepada warga untuk segera shalat.

Tragedi memilukan terjadi. Tong berisi bensin disiramkan ke sekeliling masjid. Seketika api membara. Membakar mesjid beserta isinya. Yaitu warga Rohingya yang sedang menunaikan shalat.

Sebagaimana diketahui, etnis Rohingya merupakan salah satu masyarakat tanpa kewarganegaraan terbesar di dunia. Mereka berbondong-bondong melarikan diri ke Bangladesh. Mereka mencoba melepaskan diri dari gelombang kekerasan di negara bagian Rakhine oleh militer Myanmar. (*)

Baca Juga:  Tragedi Rohingya, Kapitra: Ini Bukan Kekecewaan Religius, Tapi Kemanusiaan

Editor: Romandhon

Loading...

Terpopuler