Connect with us

Ekonomi

Mencermati Jalur Sutera Maritim Abad 21

Published

on

Mencermati Jalur Sutra Maritim Abad 21

Ilustrasi anti-Cina

NUSANTARANEWS.CO -Mencermati proyek Jalur Sutra Maritim Abad 21 sangat penting bagi kepentingan geopolitik Indonesia. Posisi Laut Cina Selatan memang sangat strategis disamping dikelilingi oleh banyak negara juga merupakan pintu perlintasan pelayaran ke Timur Jauh. Negara-negara Asia Tenggara pun dihubungkan oleh Laut Cina Selatan ini. Secara historis Cina memandang semua negeri yang terletak di Laut Cina Selatan itu dengan sebutan Nanhai atau Laut Selatan – oleh karena itu dalam peta, kawasan ini disebut Laut Cina Selatan.

Sejak jaman dahulu para pedagang dari negeri Cina melintasi Laut Cina Selatan, sampai ke Semenanjung Malaya, melintasi Selat Malaka dan Selat Sunda, dan terus menyeberangi Samudera Hindia hingga ke Arabia. Rute ini kemudian dikenal dengan sebutan Jalur Sutera Maritim.

Jalur Sutera Maritim memang berawal dari Laut Cina Selatan yang kini menjadi isu terpanas di kawasan Asia tenggara, khususnya di gugusan kepulauan Spratly yang terletak di sebelah utara pulau Kalimantan. Kawasan ini diperebutkan oleh lima negara, yakni Cina, Vietnam, Brunei, Malaysia dan Filipina – karena diyakini kaya akan cadangan minyak dan gas bumi.

Di samping itu, Laut Cina Selatan sampai Selat Malaka merupakan jalur lalu lintas ekonomi barang dan jasa yang padat dengan nilai lebih dari US$ 1 trilyun per tahun yang setiap hari dilewati lebih dari 200 kapal tanker minyak dan gas.

Kepentingan Cina sendiri sebenarnya adalah untuk mendorong integrasi ekonomi antar negara di Jalur Sutera, sehingga mempercepat koneksitas sistem ekonomi atar negara baik lewat darat, laut maupun udara. Bila Cina berhasil mengintegrasikan sistem ekonominya maka batas teritorial antar negara sudah tidak penting lagi – karena dengan sistem ekonominya yang konstan – secara alamiah Cina akan dengan mudah mendominasi kawasan.

Baca Juga:  Mendagri Ingatkan Camat Dana Desa Rawan Korupsi
Loading...

Perang Asimetris adalah pilihan yang logis. Apalagi bila investasi dan relokasi industrinya berjalan lancar dan mampu meningkatkan pembangunan di Jalur Sutera – maka Imperium Cina akan segera berdiri membelah dunia di abad 21.

Oleh karena itu, Jalur Sutera Maritim abad 21 memiliki arti sangat penting bagi kepentingan nasional Cina. Tidak mengherankan bila untuk menguasai Jalur Sutera Maritim, Cina berusaha keras mengintegrasikan sistem ekonominya dengan seluruh negara-negara Asia Tenggara melalui ACFTA. Dengan integrasi sistem ekonomi ini, Cina berhasil membangun koneksitas ekonomi yang kuat dengan seluruh negara-negara dikawasan Jalur Sutera Maritim.

Dengan kekuatan ekonominya saat ini, Cina mampu memperkuat posisinya dikawasan jalur sutera membangun koneksitas ekonomi kawasan yang terintegrasi.

Secara alamiah pendekatan historis, etnis dan ideologis Cina telah berhasil membangun iklim yang kondusif di negara-negara sepanjang Jalur Sutera Maritim, khususnya di Asia Tenggara, mulai dari Vietnam, Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan seterusnya. Di Thailand, Cina bahkan berhasil menampilkan Thaksin Shinawatra dan Yingluck Shinawatra menjadi Perdana Meneri di negeri gajah putih tersebut – sehingga membuat kelompok nasionalis marah, Raja pun bertindak.

Jadi tidak mengherankan bila sering terjadi kudeta di Thailand, perang asimetris yang dilancarkan Cina menjadi salah satu gamenya.

Nah, iklim ipoleksosbud Indonesia ternyata tidak cocok bagi metamorfosis kepompong ulat sutera. Masyarakat Indonesia yang majemuk menjadi ganjalan serius bagi mulusnya proyek di Jalur Sutera. Mengapa? Dengan bahasa sara, ternyata alam bawah sadar masyarakat Indonesia memiliki perasaan anti Cina yang bersifat reflek. Ya, reflek. Jadi perang asimetris yang dijalankan Cina untuk menguasai bangsa Indonesia seutuhnya merupakan pekerjaan rumah yang belum ketemu skemanya.

Baca Juga:  Mau Jadi Anggota KPU atau Bawaslu? Ini Tahap Proses Seleksinya

Peristiwa sabotase NKRI oleh kekuatan asing pada Mei 1998, boleh jadi dimanfaatkan dengan baik oleh Cina untuk menunjukkan bahwa mereka adalah “korban” (fiktif) dari keganasan pribumi. Meski fiktif dan tidak ada fakta lapangannya, namun dengan dukungan media yang kuat seakan-akan memang ada korban-korban kerusuhan tersebut. Meski psycological operation kekuatan asing yang didukung komprador berjalan, namun tidak berhasil memberikan efek psikologis yang diharapkan – sebagaimana Israel menekan Barat bahwa mereka adalah korban keganasan NAZI dalam Perang Dunia II. (as)

 

Loading...

Terpopuler