Connect with us

Ekonomi

Kita Harus Fokus Membuat Small Aircraft Saja!

Published

on

Small Aircraft Buatan Indonesia (Foto Istimewa)

Small Aircraft Buatan Indonesia (Foto Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kebangkitan industri dirgantara Indonesia mulai kembali menggeliat. Baik dari sisi traffic penumpang maupun industri manufaktur pembuatan pesawat narrow body dan small aircraft. Kesuksesan test flight N 219 tahun lalu yang disaksikan langsung oleh Presiden Joko widodo kala itu, maka PT DI seakan mendapatkan second wind atau kemenangan kedua, setelah sebelunya industri pesawat kita kembang kempis.

Meski proses sertifikasi N219 di domestik dan internasional masih diurus, namun tidak menyurutkan negara negara yang banyak mempunyai landasan pacu pendek hanya 900 meter, sangat menyenangi pesawat N219 produksi PT. DI ini. Dalam pertemuan World Bank dan IMF di Bali 6 Oktober 2018 lalu, PT. DI membuka semacam booth n 219 dan beberapa negara Afrika seperti Senegal dan negara negara sahabat Asia seperti Nepal, Korea Selatan, Vietnam, Malaysia , Thailand, Phillipina dan lainnya.

Nampaknya PT. DI harus mulai fokus dipembuatan pesawat jenis small aircfrat. Persaingan pabrikan pesawat kecil tidaklah sesengit seperti di industri pesawat wide body ataupun full engine jet. Hanya sedikit pabrikan small aircfraft yang exist saat ini, seperti Cessna, Grand Caravan , yang sudah bangkrut pabrik De Havilland Canada.

Baca Juga: Dimana Letak Nasionalisme Regulator Untuk Flag Carrier Garuda?

Nampaknya PT. DI  memang harus fokus, captive market PT. DI sudah jelas order 100 pesawat 19 seat oleh Lion air N-219, perlu terus diyakini oleh pemerintah dan PT. DI inilah kebangkitan industri manufaktur pesawat Indonesia yang terkenal dengan wilayah remore area dan sangat cocok untuk pengembangan pesawat industri domestik untuk pesawat jenis turbo propeller , narrow body dan small aircraft kelak.

Baca Juga:  Yayasan Pendidikan Doa Bangsa Cetak Generasi Muda Sehat Jasmani dan Rohani

Sejumlah negara Afrika, tertarik dengan pesawat CN 235 dan N 219 produksi PT Dirgantara Indonesia (PT DI), yang dipamerkan di Paviliun Indonesia di Nusa Dua, Bali. “Sudah ada Madagaskar, Kongo dan Sudan yang menyatakan tertarik dan dalam tahap penjajakan,” kata Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro, di Nusa Dua, Rabu (10/10/2018).

Dia mengatakan, keikutsertaan PT DI di pameran Paviliun Indonesia memang bukan bertujuan untuk menjual produk, namun lebih menunjukkan karya bangsa kepada para delegasi IMF-WB dari seluruh dunia.

Menurut dirut PT. DI, negara-negara Afrika termasuk pangsa pasar yang ditarget untuk pesawat jenis CN 235 dan N 219 karena kedua pesawat tersebut cocok untuk kondisi geografis mereka. “Kalau Eropa baru ada Norwegia yang nanya-nanya karena mungkin dua pesawat jenis ini kan khusus untuk daerah yang memerlukan short take off dan landing sehingga mudah dioperasikan di daerah terpencil,” katanya.

Saat ini, PT. DI mampu memproduksi rata-rata 10 pesawat dalam satu tahun. Tahun depan empat pesawat sudah dipesan oleh Senegal, Nepal dan Thailand. Dengan rincian Senegal memesan pesawat CN 235 seharga 25 juta dollar AS, Nepal memesan pesawat CN 235 dengan konfigurasi pesawat maritime patrol seharga 30 juta dollar AS sedangkan Thailand memesan dua pesawat N 219 seharga 13 juta dollar AS.

“Kenapa maritime patrol lebih mahal karena pesawat memerlukan kelengkapan seperti komputer, radar dan lain-lain, sedangkan kalau pesawat transportasi biasa kan cuma butuh kursi,” katanya.

Sampai saat ini PT. DI mampu memproduksi 431 pesawat. 48 di antaranya sudah diekspor ke Korea, Malaysia, Thailand, Turki, Brunei Darusalam, Filipina, Vietnam dan lain-lain. “Memang kita pasarnya cocok untuk negara-negara Afrika, Asia dan Amerika Latin karena sesuai untuk medannya,” ucapnya.

Baca Juga:  Pemkab Bondowoso Janji Akan Genjot Sektor Pariwisata

PT Dirgantara Indonesia tengah menyelesaikan pengiriman lima pesawat jenis NC-212 pesanan Filipina dan Vietnam medio hingga Juni 2018 yang lalu. Dari lima unit tersebut, tiga unit dikirim ke Vietnam dan dua unit ke Filipina.

“Sudah ada lima, terakhir kemarin berangkat satu. Bulan ini sudah selesai,” ujar Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta.

Dirut PT. DI mengatakan, rencananya PT. DI akan mengirim lagi satu pesawat ke Senegal. Namun, belum dapat dipastikan, apakah Desember 2018 bisa dikirim atau awal 2019.  PT. DI, kata Elfien, dimodali Bank Ekspor Indonesia sekitar Rp 400 miliar untuk modal proyek pesawat ke Senegal dan Nepal.

“Itu ekspor juga. Jadi BUMN juga penghasil devisa,” kata Eflien. PT.DI berharap negara-negara yang sudah pernah memesan pesawat ke PTDI akan kembali melakukan pesanan. Sejauh ini, ada Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Korea sudah beberapa kali memesan pesawat dan pemeliharaannya ke PTDI. “Seperti Korea, mereka akan repeat order untuk CN-235. Mudah-mudahan dapat kontraknya tahun ini,” kata Elfien. (bersambung)

*Arista Atmadjati, SE.MM penulis adalah Praktisi Penerbangan Nasional, Analis Penerbangan RI dan Anggota Asosiasi Profesional Pariwisata Indonesia ASPPI, DPC Jakarta Barat Mengajar Mata kuliah Aviasi di beberapa Universitas, CEO Aiac aviation.

Terpopuler