Connect with us

Mancanegara

Jaringan Perdagangan Senjata Global Ciptakan Perang Abadi

Published

on

jual beli senjata, perdagangan senjata, senjata global, produsen senjata, pemasok senjata, pembelian senjata, pembeli senjata, perdagangan senjata global, perang abadi, perdamaian dunia, nusantaranews, perusahaan senjata

Jual beli senjata. (Foto: Ilustrasi/Ist)

NUSANTARANEWS.CO, JakartaPerdagangan senjata kembali menjadi sorotan dewasa ini. Aksi jual beli senjata dinilai tak lagi hanya sekadar untuk kepentingan bisnis antar negara, tapi menjelma menjadi komoditas politik global. Krisis kemanusiaan di Yaman tampaknya menyadarakan global bahwa perdagangan senjata benar-benar bertujuan untuk menciptakan perang abadi di dunia.

Seorang peneliti senior di Stockholm Internastional Peace Research Institute, Pieter Wezeman, dikutip Aljazeera mengungkapkan, dalam setahun total jual beli senjata global senilai 100 miliar dolar AS. Pasalnya, kekuatan militer masih menjadi tulang punggung kebijakan luar negeri negara-negara pengekspor senjata sekaligus sebagai strategi sentral untuk meraup keuntungan ekonomi.

Kata Wezeman, volume jual beli senjata global terus meningkat setidaknya dalam kurun waktu 15 tahun terakhir.

Baca juga: Seruan Amnesty International: Hentikan Pengiriman Senjata Kepada Koalisi Saudi dan UEA!

Inggris adalah produsen senjata terbesar Eropa. Negara Ratu Elizabeth ini juga tercatat sebagai pengekspor senjata terbesar ke Arab Saudi. Kesepakatan jual beli senjata Inggris-Saudi paling menonjol ialah kesepakatan senjata Al-Yamamah. BAE System adalah kontaktor utama kesepakatan tersebut, di mana jual beli pertama kali terjadi pada 1985 yang disebut-sebut penuh skandal.

Namun, pada 2006 Tony Blair menghentikan tuduhan korupsi oleh BAE System dan suap kepada pejabat Saudi yang terlibat dalam kesepakatan senjata Al-Yamamah senilai 7,6 miliar dolar AS.

Inggris dan Arab Saudi tampaknya tidak merasa terganggu dengan skandal kesepakatan senjata Al-Yamamah. Tahun 2017, Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman melawat ke Inggris dan membuahkan kesepakatan pembelian 48 unit jet tempur Eurofighter Typhoon buatan BAE System.

Baca juga: Jual Beli Jet Tempur Eurofighter Typhoon Antara Inggris dan Arab Saudi Kontroversial

Baca Juga:  Parade Reog Ponorogo Memukau Warga Bungkal

Lawatan tiga hari Putra Mahkota Saudi itu juga menghasilkan kesepakatan kerjasama London dan Riyadh dalam perdagangan dan investasi jangka panjang tak kurang dari 65 miliar poundsterling selama beberapa tahun ke depan.

Tuduhan kejahatan kemanusiaan yang disematkan PBB kepada Saudi atas perang Yaman tampaknya tak jadi soal. Saudi terus melanjutkan blokade dan intervensi militernya di Yaman meski PBB memasukkan Arab Saudi dalam daftar hitam organisasi internasional tersebut selama perang Yaman. PBB menyebut, perang Yaman yang dipimpin Saudi sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Selain Inggris, Amerika Serikat tentu saja tetap menjadi eksportir senjata terbesar di dunia dan merupakan pemasok senjata nomor satu ke Timur Tengah. Penerima senjata buatan AS terbesar di Timur Tengah adalah Arab Saudi.

Sama halnya Arab Saudi, AS juga merupakan pemasok bantuan militer terbesar ke Israel. Perusahaan-perusahaan manufaktur senjata Israel menjadi semakin signifikan untuk perekonomian negara beribukota Tel Aviv tersebut. Artinya, perang di Timur Tengah bukan lagi sekadar soal keamanan dan ketertiban sebuah negara melainkan sudah menjadi kepentingan ekonomi meski harus mengorbankan nyawa manusia.

Baca juga: Inggris Tetap Jual Senjata Ke Arab Saudi Meski Melanggar HAM

Celakanya, setiap serangan Israel ke Jalur Gaza merupakan upaya Tel Aviv memamerkan kekuatan senjata dan teknologinya dengan menyebutnya sebagai percobaan yang sebenarnya karena target adalah manusia. Klaim ini lantas menciptakan persaingan antar produsen senjata untuk berlomba-lomba menciptakan produk terbaiknya.

Seorang wartawan dan novelis asal Uruguay, Eduardo Galeano pernah menulis bahwa abad 20 lahir dengan diproklamirkan perdamaian dan keadilan di atas darah manusia. Abad itu mewariskan sebuah tatanan dunia yang justru tidak ada keadilan. Abad 21 juga datang dengan perdamaian dan keadilan, mengikuti jejak pendahulunya.

Baca Juga:  Tak Puas Banting dan Rusak Motor Karena Ditilang, Pemuda Ini Bakar STNK

Dengan kata lain, maraknya perdagangan senjata global membuat demokrasi terus mengalami kerusakan dan menjadi peluang nyata yang terus bekerja guna menghambat keamanan dan perdamaian dunia.

Baca juga: ISIS, Wahabi, Serangan 9/11 dan Teror Barcelona

Terlepas dari itu, Amnesty International menjadi organisasi paling vokal meneriakkan agar negara-negara produsen senjata global menghentikan pengiriman senjata, terutama kepada Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Sebab, selama tiga tahun terakhir perang Yaman, sudah ratusan ribu korban berjatuhan. Sisanya, masih ada jutaan rakyat Yaman yang terus berjuang untuk bertahan hidup di bawah serangan udara, desingan peluru dan dentuman bom.

Lima negara eksportir senjata yang masih aktif menjadi pemasok utama ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab ialah AS, Inggris, Perancis, Spanyol dan Kanada.

“5 eksportir senjata yang masih memasok ke Saudi dan UEA ialah AS, Inggris, Perancis, Spanyol, Kanada dan masih banyak negara lainnya. Saatnya menyerukan diakhirinya pengiriman senjata yang digunakan untuk memicu krisis di Yaman,” seru Deputy Regional Director Middle East and North Africa Regional Office, Samah Hadid.

(bya/alme)

Editor: Almeiji Santoso

Loading...

Terpopuler