Connect with us

Mancanegara

Fakta AS Telah Lama Gunakan Teroris di Timur Tengah

Published

on

Fakta AS Telah Lama Gunakan Teroris di Timur Tengah

Ilustrasi AS telah lama gunakan teroris di Timur Tengah

NUSANTARANEWS.CO – Fakta bahwa Amerika Serikat (AS) telah lama gunakan Teroris di Timur Tengah. Setali tiga uang, Al-Qaeda dan ISIS merupakan instrumen teror yang dirancang oleh Washington untuk menaklukkan Timur Tengah yang kaya minyak – sekaligus untuk membendung pengaruh Iran yang semakin meningkat di wilayah tersebut.

Adalah sebuah fakta sejarah bahwa AS melalui CIA telah menggunakan kelompok teroris untuk kepentingan mereka menghadapi Uni Soviet ketika Perang Dingin. Kebijakan luar negeri AS memang melihat dunia secara sederhana yakni: Uni Soviet dan nasionalisme Dunia Ketiga sebagai alat Soviet dan negara-negara Barat dan Islam militan sebagai sekutu untuk melawan Uni Soviet.

Di tahun 1970-an CIA telah menggunakan Ikhwanul Muslimin di Mesir sebagai penghalang, baik untuk menggagalkan ekspansi Soviet dan mencegah penyebaran ideologi komunis di dunia Arab. AS juga secara terbuka mendukung Sarekat Islam (SI) melawan Soekarno di Indonesia, dan mendukung kelompok teror Jamaat-e-Islami melawan Zulfiqar Ali Bhutto di Pakistan.

CIA juga melahirkan Osama Bin Laden dan membesarkan organisasinya selama tahun 1980-an. Mantan Menteri Luar Negeri Inggris, Robin Cook, mengatakan kepada House of Commons bahwa Al-Qaeda tidak diragukan lagi adalah produk dari badan-badan intelijen Barat.

Dalam bahasa Arab, Al Qaeda secara harfiah berarti singkatan dari “database” – yang pada mulanya adalah database komputer berisikan ribuan ekstremis Islam, yang dilatih oleh CIA dan didanai oleh Saudi, untuk mengalahkan Rusia di Afghanistan.

Loading...

Bahkan ketika pembuat kebijakan luar negeri AS mengklaim menentang ekstremisme Muslim, mereka dengan sengaja menjadikannya sebagai senjata kebijakan luar negeri. Sekarang ISIS adalah senjata terbaru yang paling terkenal di dunia internasional.

Baca Juga:  Gugataan Prabowo ke MK Diragukan Refly, Poyuono: Kalau Hakimnya Punya Moral Pasti Hasil Pilpres 2019 Dibatalkan

ISIS tumbuh dan berkembang sangat cepat karena akibat invasi dan pendudukan AS di Irak pada 2003 yang menciptakan pra-kondisi bagi kelompok-kelompok radikal Sunni, seperti ISIS, untuk mengakar. Bahkan AS dengan sengaja menghancurkan mesin negara sekuler Saddam Hussein dan menggantinya dengan pemerintahan yang didominasi Syiah.

Di bawah rezim Syiah baru yang didukung AS, kelas pekerja Sunni kehilangan ratusan ribu pekerjaan. Secara sistematis aset mereka juga dirampas dan mulai kehilangan pengaruh politik. Kebijakan AS berhasil memperburuk perpecahan sektarian dan menciptakan lahan subur bagi ketidakpuasan kelompok sunni di mana Al-Qaeda mengakar.

ISIS adalah nama lain dari Al-Qaeda untuk menaklukkan dan memecah Suriah. Bila dilihat secara mendalam sebetulnya ada tiga perang di Suriah. Pertama antara pemerintah dengan pemberontak dan teroris; kedua antara Iran dan Arab Saudi dan ketiga Perang Dingin baru antara AS dan Rusia. Faktor ketiga inilah yang menyebabkan AS mempersenjatai para pemberontak dan teroris – karena Presiden Suriah, Bashar al-Assad, adalah sekutu utama Rusia.

Kebijakan Timur Tengah Amerika berkisar pada minyak dan Israel. Invasi Irak telah memuaskan kehausan Washington akan minyak, tetapi serangan udara yang sedang berlangsung di Suriah dan sanksi ekonomi terhadap Iran memiliki segalanya yang berkaitan dengan Israel. Tujuannya adalah untuk mencabut musuh Israel, Hizbullah Lebanon dan Hamas Palestina, dari dukungan penting Suriah dan Iran.

ISIS bukan hanya alat teror yang digunakan oleh Amerika untuk menggulingkan pemerintah Suriah tetapi juga untuk melawan pengaruh Iran.***

Loading...

Terpopuler