Puisi

Elegi Bulan Februari – Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

Elegi Bulan Februari

Setelah lama terseret arus waktu di kebisuan rindu
Menyala tanpa cahaya di panggung fatamorgana
Hari ini kusemayamkan jasad rinduku di pusara kata-kata

Inikah puisi tanpa nisan dan tak sempat terkuburkan itu?

Bergantung pada akar lapuk kenangan manis masa lalu
Yang tersisa hanya busa basi di mulutku
Hanya dusta yang merelakan kepergian senja
Sebab kesetiaan untuk bertemu di fajar pagi telah sirna tanpa sisa

Kini hanya elegi yang kutulis pada betis gerimis
Elegi bulan Februari yang merekah pada merah amarah memar mimpimu

Ma, berhentilah engkau di masa lalu
Menjadi potret hitam-putih dalam dompet sekaratku
Kenangan yang terus berdegub dalam detak jantung
Genangan abadi kedua kelopak mataku

Terimalah elegi bulan Februari ini
Entah sebagai embun di rimbun daun
Atau sebagai puisi di kedalaman hati

Jogja, 2018

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional.

Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.

Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.

Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir yang diterbitkan oleh LP3ES Jakarta, Kearifan Lingkungan Budaya Jawa yang diterbirkan oleh Obor Indonesia, Strategi Kebudayaan yang diterbirkan oleh Unibraw Press Malang, Bangsa Gagal yang diterbitkan oleh LKiS. Selain itu juga pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.

Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri. Selanjutnya, tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Dan di tahun 2013 menjadi Pembicara Kunci pada World Culture Forum yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.

Related Posts

1 of 35