Wayang Klithik Wonosoco tempil prima dalam panggung Teater Kudus di Auditorium Universitas Muria Kudus, Rabu (23/8/2017) malam. Foto Saliem Subandino/ NusantaraNews.co
Wayang Klithik Wonosoco tempil prima dalam panggung Teater Kudus di Auditorium Universitas Muria Kudus, Rabu (23/8/2017) malam. Foto Saliem Subandino/ NusantaraNews.co

NUSANTARANEWS.CO, Kudus – Satu jam pertunjukaan Wayang Klithik Wonosoco bertajuk Jaka Umbaran Dalam Perang Dalang Dua Generasi ini di panggung Teater Kudus di Auditorium Universitas Muria Kudus, Rabu (23/8/2017) malam lalu.

Wayang Klithik Wonosoco bersama Ki Sutikno satu-satunya dalang senior Wayang Klithik yang masih bertahan di Kota Kudus dan A. Tino Mulyadi dalang Wayang Klithik yang masih sangat belia seola menghipnotis semua mata penonton. Menariknya, kali ini, Dalang Cilik A. Tino Mulyadi menyentil kebijakan Full Day School yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Tino dengan sangat cerdas menyisipkan kritik sosial dalam pertunjukannya, seperti ketika menyentil kebijakan FDS, tentang anak-anak sekarang sudah kehilangan hak bermainnya karena sekolah seharian.

Esok sekolah, Sore sekolah, Malam belajar, Kapan Dolanane (pagi sekolah, sore sekolah, malam belajar, kapan bermainnya)?” urai Tino dengan suara cadelnya, dalam adegan wayang saat Jaka Umbaran pulang bermain dan mendapat teguran dari ibu dan kakeknya.

Wayang Klithik Wonosoco tempil prima dalam panggung Teater Kudus di Auditorium Universitas Muria Kudus, Rabu (23/8/2017) malam. Foto Saliem Subandino/ NusantaraNews.co
Wayang Klithik Wonosoco tempil prima dalam panggung Teater Kudus di Auditorium Universitas Muria Kudus, Rabu (23/8/2017) malam. Foto Saliem Subandino/ NusantaraNews.co

Demikian dituturkan Saliem Sabendino selaku moderator dalam acara diskusi mengenai wayang Klithik dan perkembanganya di penghujung acara yang diselenggarakan oleh Panggung Teater Kudus bekerjasama dengan Kelompok Kajian Teater Tigakoma ini.

Dalam diskusi ini muncul berbagai apresiasi positif terhadap pagelaran malam itu, juga terhadap permainan yang ditampilkan oleh Ki Sutikno dan Tino Mulyadi. Seperti Halnya disampaikan oleh Pincuk Puttusulay pegiat seni rupa dari Jepara merasa sangat beruntung dapat menyaksikan peristiwa langka ini.

“Malam ini saya dapat menyaksikan kehebatan dua dalang sekaligus dalam satu panggung,” ujar Pincuk.

Beda halnya menurut Ki Giyok Waryoto dalang Wayang Gojek dari Kudus, menyatakan bahwa ia sangat apresiasi dan diharapkan menjadi acuhan bagi siapapun mereka yang bergerak dalam pendidikan maupun pendampingan anak.

Wayang Klithik Wonosoco tempil prima dalam panggung Teater Kudus di Auditorium Universitas Muria Kudus, Rabu (23/8/2017) malam. Foto Saliem Subandino/ NusantaraNews.co
Wayang Klithik Wonosoco tempil prima dalam panggung Teater Kudus di Auditorium Universitas Muria Kudus, Rabu (23/8/2017) malam. Foto Saliem Subandino/ NusantaraNews.co

“Pada pagelaran ini Ki Sutikno mampu memberikan contoh yang luar biasa. Dimana Ki Sutikno mampu mendidik dan menempatkan Tino dalam koridor dunia anak-anaknya tanpa harus menyeret Tino keluar dari dunianya,” ungkap Ki Giyok.

“Tidak seperti proses Audisi anak-anak yang banyak muncul di televisi yang justru malah mengeksploitasi anak-anak dari dunia dan jamanya,” imbuh Ki Giyok.

Selanjutnya, Baca: Dengan Lakon Jaka Umbaran, Dalang Cilik Sentil Kebijakan FDS

Pewarta/Editor: Ach. Sulaiman

Komentar