Connect with us

Mancanegara

Benarkah Gerakan Perlawanan Houthi Mendapat Dukungan Senjata Dari Iran?

Published

on

Blokade Perairan Yaman

Blokade Perairan Yaman

NUSANTARANEWS.CO – Benarkah gerakan Houthi mendapat dukungan senjata dari Iran? Memang salah satu bumbu penyedap Perang Yaman yang selalu di kampanyekan sejak awal invasi oleh Arab Saudi bersama dengan mitra koalisinya adalah untuk memerangi Houthi, gerakan perlawanan dari Provinsi Sa’ada Utara yang berpenduduk Syiah. Koalisi pimpinan Arab Saudi atas dukungan Amerika Serikat (AS) kemudian melakukan invasi militer beberapa bulan setelah milisi gerakan Houthi berhasil bergerak maju dari Utara terus ke Provinsi Tengah dan Selatan Yaman, dan berhasil menguasai kota-kota besar, termasuk ibukota Sana’a.

Melihat gerak maju milisi perlawanan Houthi yang cepat, Presiden Yaman Mansur Hadi kemudian melarikan diri ke kota pelabuhan selatan Aden pada 2014, lalu meminta perlindungan Kerajaan Arab Saudi. Pasukan koalisi mulai membombardir Yaman segera setelah pengasingannya pada Maret 2015. Sejalan dengan pemboman itu, pemerintah Saudi mengatakan: Riyadh berusaha mengembalikan pemerintah Presiden Hadi di Sana’a dan menumpas gerakan Houthi.

Dengan dalih tersebut, koalisi Saudi kemudian juga menuduh Iran mendukung gerakan perlawanan Houthi. Dengan tambahan dalih penyedap ini, pasukan koalisi memperkuat alasan intervensi sebagai upaya menghentikan penyebaran pengaruh Iran yang dianggap dapat mengancam stabilitas kawasan. Media mainstream Barat patuh menguatkan pesan ini. Perang proksi pun lahir.

Media mainstream barat menulis bahwa konflik internal di Yaman telah menyebar luas dan pemerintah Yaman meminta Arab Saudi, sebagai kekuatan Sunni terkemuka untuk membantu melawan gerakan Houthi yang secara terselubung didukung oleh Iran. Media mainstream barat pun menegaskan bahwa gerakan Houthi tidak lebih dari proksi Iran, di mana Arab Saudi kemudian meresponnya. Teori ini jelas terlalu menyerdahanakan persoalan. Namun karena berulang-ulang dipublikasi hingga akhirnya menjadi “kebenaran” umum.

Baca: Menonton Pemusnahan Negeri Yaman Oleh Arab Saudi

Pesan Arab Saudi sendiri jelas ingin menenangkan Yaman, tetapi tujuan yang sebenarnya adalah mengirim pesan yang kuat ke Iran untuk berhenti ikut campur dalam urusan Arab. Padahal perang proksi Saudi dan Iran di Yaman adalah sekedar bumbu penyedap namun memberikan rasa yang sangat nikmat bagi penggemarnya.

Baca Juga:  Kostrad Perkenalkan Tank Leopard, Ranpur Scorpion Kepada Masyarakat di Monas

Argumen bahwa Iran sedang melancarakan perang proksi di Yaman dengan memberikan bantuan senjata kepada gerakan Houthi adalah mitos yang selalu dibesar-besarkan. Bila melihat kabel diplomatik AS yang diklasifikasikan oleh Duta Besarnya untuk Yaman, Stephen Seche, kabel dari 9 Desember 2009, ketika gerakan Houthi beroperasi di Provinsi Sa’ada – bertentangan dengan klaim pemerintah Yaman bahwa Iran mempersenjatai Houthi, sebagian besar analis politik lokal melaporkan bahwa Houthi memperoleh senjata mereka dari pasar gelap Yaman dan bahkan dari militer Yaman sendiri. Menurut seorang diplomat Inggris, ada banyak laporan yang dapat dipercaya bahwa komandan militer Yaman telah menjual senjata ke Houthi menjelang Perang Keenam.

Banyak laporan lain yang menyatakan bahwa, “Iran tidak mempersenjatai Houthi. Senjata yang digunakan Houthi adalah milik militer Yaman – di mana kebanyakan berasal dari para pejuang yang berperang melawan sosialis selama perang tahun 1994 dan kemudian menjualnya.

Menurut Mohammed Azzan, penasihat presiden untuk urusan Sa’ada, mengatakan bahwa militer Yaman menutupi kegagalannya dengan mengatakan senjata itu berasal dari Iran. Menurut Jamal Abdullah al-Shami dari pegiat demokrasi di Yaman, bahwa tidak ada pengawasan eksternal yang ketat terhadap anggaran militer yang besar dan meningkat – sehingga sangat mudah bagi anggota militer untuk menjual senjata mereka secara ilegal.

Kabel diplomatik lain juga menunjukkan bahwa Houthi adalah gerakan gerilya yang mendapatkan dukungan dari penduduk Sa’ada karena memperjuangkan ketidakadilan yang dilakukan oleh Presiden Ali Abdullah Saleh, seperti tindakan kekerasan oleh pemerintah setempat terhadap warga setempat. Gerakan militer Houthi bukanlah gerakan agama, tetapi lebih tepat diklasifikasikan sebagai gerakan politik-militer yang dipimpin oleh Abdulmalik al-Houthi.

Houthi telah melakukan gerakan politik-militer terhadap pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh sejak tahun 2004. Pada saat itu, Arab Saudi juga sudah terlibat berusaha “menenangkan Yaman” dengan membom Provinsi Utara. Jadi apa yang diungkapkan oleh kabel diplomatik AS, jelas menunjukkan bahwa Saudi sudah biasa membom Houthi sejak lama.

Berdasarkan kabel dari 30 Desember 2009 menjelaskan bahwa militer Saudi telah menggunakan kekuatan yang sangat besar dalam upaya menumpas gerilyawan Houthi di daerah perbatasan. Militer Saudi juga sangat membutuhkan bantuan AS untuk penyediaan amunisi, pencitraan dan strategi tempur yang lebih tinggi.

Baca Juga:  Gelar 'Cak Jancuk' Untuk Jokowi Dinilai Tidak Tepat

Sementara fakta di lapangan menunjukkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara Iran dan Houthi. Tapi kebangkitan gerakan Houthi pada tahun 2014 memang telah menimbulkan banyak pertanyaan, apalagi setelah berhasil merebut Sana’a.

Untuk melihat kebangkitan gerakan Houthi, yang paling signifikan mungkin adalah berhubungan peristiwa “Arab Spring” – di mana Presiden Saleh yang telah lebih dari tiga dekade menjabat dan berhasil berhasil menyatukan wilayah Utara dan Selatan ke dalam satu negara pada 1990-an – kemudian dipaksa mengundurkan diri di tengah-tengah aksi protes pada 2011.

Dua tahun setelah menyerahkan jabatan itu kepada wakilnya, Mansour Hadi, Saleh lalu membentuk aliansi dengan Houthi. Bersama pasukan angkatan bersenjata yang masih setia – aliansi Saleh dan Houthi melawan pasukan bayaran koalisi pimpinan Saudi yang direkrut dari Kolombia dan Amerika Selatan serta Sudan dan Afrika.

Baca: Drone dan Rudal Balistik Houthi Mulai Meneror Pasukan Koalisi Pimpinan Arab Saudi

Seorang diplomat Inggris yang berbasis di Yaman mengatakan bahwa Arab Saudi memiliki kepentingan untuk membangun saluran pipa melalui Hadramaut ke pelabuhan di Teluk Aden yang sepenuhnya dimiliki, dioperasikan dan dilindungi oleh Arab Saudi sebagai jalur alternatif guna menghindari Teluk Persia dan Selat Hormuz. Presiden Saleh selalu menentang keinginan Saudi ini, sehingga Riyadh berusaha keras untuk menggulingkannya. WikiLeaks mengungkapkan bahwa rencana tindakan untuk penggulingannya dirancang pada tahun 2009. Kabel rahasia dari 31 Agustus 2009 menggambarkan seorang tokoh berpengaruh Salafi sayap kanan yang ultra-konservatif Hamid al-Ahmar siap menggerakkan demonstrasi massa untuk menggulingkan Saleh.

Pembangunan sebuah pipa yang akan menghubungkan ladang minyak Timur Arab Saudi dengan Teluk Aden adalah tujuan strategis. Jika dilaksanakan, proyek Hadramaut akan memiliki arti geopolitik. “Menghindari Teluk Persia dan Selat Hormuz”, di mana jalur pipa itu akan membentuk peta baru rute pengapalan minyak di Timur Tengah. Seperti diketahui, Selat Hormuz adalah “chokepoint” minyak paling penting di dunia karena dilewati oleh kapal-kapal tanker yang mengangkut 17 juta barel per hari pada tahun 2013 – artinya 30% kebutuhan minyak dunia diperdagangkan melalui Selat Hormuz. Oleh karena itu, Arab Saudi sangat berkepentingan mencari rute ekspor alternatif. Kondisi ini bukan saja memusingkan Arab Saudi, tetapi juga ahli-ahli strategi negeri Paman Sam. Dengan demikian alternatif pembangunan pipa Saudi melalui Yaman dianggap pilihan yang tepat.

Baca Juga:  Sosialisasikan Protokol Kesehatan, Danrem Gandeng Komunitas Sepeda

Arab Saudi melihat bahwa ketergantungan pada Selat Hormuz merupakan kelemahan strategis. Oleh karena itu, mengalihkan ekspor minyak ke Teluk Aden dan kemudian ke Laut Merah akan menjadi langkah strategis bagi Riyadh dan Washington. Rute Laut Merah adalah jalur pengiriman minyak penting ke negara-negara Barat.

Menutup tulisan ini, ada semacam konvensi yang perlu dikritisi terkait pengiriman senjata Iran ke gerakan Houthi. Konvensi yang menyatakan bahwa senjata-senjata Iran, diangkut dengan kapal nelayan. Sampai artikel ini ditulis, blokade laut terhadap Yaman merupakan blokade paling rapat di dunia di mana angkatan laut 32 negara berpatroli dengan dukungan peralatan dan persenjataan canggih mengawal perairan Yaman.

Seperti diketahui, Washington menuduh Iran menggunakan perahu nelayan untuk menyelundupkan senjata kepada gerakan Houthi. Tuduhan ini dilontarkan bersamaan tertangkapnya empat kapal nelayan kecil di sekitar Laut Arab pada September 2015 hingga Maret 2016. Kapal-kapal ini dicegat oleh angkatan laut negara-negara yang berpartisipasi dalam Pasukan Gabungan Maritim yang berpatroli di dekat pantai Timur Afrika dan di Teluk Aden.

Kapal-kapal yang disergap itu memang membawa senjata, namun tujuannya ke Somalia, bukan Yaman. Tapi bukannya mengakui fakta yang jelas bahwa senjata itu tidak terkait dengan hubungan Iran-Houthi, malah seorang juru bicara militer AS mengeluarkan pernyataan: “Bahwa tujuan akhir dari senjata itu adalah wilayah yang dikendalikan Houthi di Yaman. Sungguh menggelikan. (Banyu)

Artikel Terkait

  1. Helikopter Tempur AH-64 Apache Berguguran Dalam Perang Yaman
  2. F-15 Eagle Arab Saudi Rontok Dalam Perang Yaman
  3. Rudal R-27T Houthi Berhasil Tembak Jet Tempur F-15 Saudi

Loading...

Terpopuler