Pasukan AS di Afghanistan Mencari Mineral/Foto Daily Mail
Pasukan AS di Afghanistan Mencari Mineral/Foto Daily Mail

NUSANTARANEWS.CO – Banyak orang tidak tahu bahwa Afghanistan memiliki sumber daya alam (SDA) yang berlimpah, mulai dari minyak, gas dan sumber mineral strategis seperti emas, besi, tembaga, kobalt, lithium, dsb. Mineral yang disebut terakhir merupakan bahan baku strategis guna memproduksi baterai berteknologi tinggi. Di samping itu, Afghanistan juga dikenal sebagai penghasil opium terbesar dunia yang bernilai miliaran dolar.

Di balik kebijakan baru Presiden Trump di Afghanistan baru-baru ini dengan mengirim pasukan tambahan – nampaknya lebih tertuju kepada menjarah kekayaan SDA Afghanistan sebagai biaya perang dan rekonstruksi pasca perang di Afghanistan.

Hal tersebut terungkap dalam sebuah memo internal Pentagon pada tahun 2007, yang mengungkapkan bahwa Afghanistan itu adalah “Lautan Lithium”. Informasi ini, bukan hanya AS saja yang tahu, Russia dan Cina pun telah lebih dulu mengetahui kekayaan SDA Afghanistan ini.

Oleh Karena itu, tidak mengherankan bila Cina telah mendahului AS dalam mengembangkan proyek pertambangan dan energinya di Afghanistan. Cina bukan hanya mengeduk SDA Afghanistan – tapi juga menjadikan Afghansitan bagian dari inisiatif Belt Road-nya. Terutama untuk membangun proyek pipa dan koridor transportasi.

Sebagai mitra dagang dan investor utama Afghanistan, bersama Rusia dan Iran – Cina ingin mengintegrasikan jalur transportasi darat melalui Koridor Wakhan yang menghubungkan Afghanistan ke wilayah otonomi Xinjiang Uyghur di Cina.

Sekedar informasi, bahwa kekayaan SDA Afghanistan diperkirakan bernilai lebih dari US$ 3 trilyun.

Afghanistan dan Cina juga telah membuat Pakta Kemitraan Strategis pada tahun 2012. Dalam konteks perdagangan ini, Afghanistan telah memiliki status sebagai pengamat di Shanghai Cooperation Organization (SCO). Menyusul Pakistan yang sudah lebih dulu menjadi anggota penuh SCO.

Dengan Pakta tersebut, perusahaan Cina memperoleh hak untuk mengeksplorasi sejumlah besar tembaga dan batubara serta konsesi eksplorasi minyak pertama yang diberikan kepada orang asing dalam beberapa dasawarsa terakhir. Selain itu, Cina juga mengincar deposit lithium Afghanistan yang sangat melimpah.

Sementara, menurut laporan Foreign Affairs, bahwa ada lebih banyak pasukan militer AS yang ditempatkan di Afghanistan di banding di zona tempur aktif lainnya – dengan mandat mengejar Taliban, Al Qaeda dan ISIS sebagai bagian dari Perang Global melawan terorisme.

Bila diperhatikan, lokasi pangkalan militer AS di Afghanistan lebih merupakan pengepungan terhadap perbatasan Barat Cina – mulai dari fasilitas militer di Guam, Korea Selatan, Okinawa, Pulau Jeju, dll. Di bawah Pakta Keamanan Afghanistan-AS, yang didirikan dalam kerangka Poros Asia Obama – AS dan NATO telah mendirikan pangkalan militer permanen di Afghanistan yang terletak di dekat perbatasan Cina di Barat.

Dengan Pakta tersebut memungkinkan AS untuk mempertahankan sembilan pangkalan militer permanen yang strategis di perbatasan Cina, Pakistan dan Iran serta Turkmenistan, Uzbekistan dan Tajikistan. Meski begitu, tetap saja pasukan militer AS, tidak mampu mencegah perluasan hubungan perdagangan dan investasi antara Cina dan Afghanistan.

Tidak mengherankan bila Presiden Trump sangat gusar dengan Pakistan yang kini telah menjalin hubungan bilateral yang erat dengan Cina. Pakistan, Afghanistan, Iran dan Cina telah bekerja sama dalam proyek pipa minyak dan gas. Bersama SCO, Turkmenistan, Uzbekistan dan Tajikistan yang juga telah menyediakan platform geopolitik bagi integrasi Afghanistan ke dalam koridor energi dan transportasi Eurasia – yang merupakan bagian dari proyek inisiatif Belt Road Cina. (Banyu)

 

Komentar