Kreatifitas

Jatuhnya Pohon Apel – Cerpen Bayu Pratama

Avond; De rode boom (Atardecer, árbol rojo) / De grijze boom (El árbol gris) / Bloeiende appelboom (Manzano en flor) / Tableau No. 2 - Composition No. VII/Foto via artealasocho.blogspot.com

Avond; De rode boom (Atardecer, árbol rojo) / De grijze boom (El árbol gris) / Bloeiende appelboom (Manzano en flor) / Tableau No. 2 – Composition No. VII/Foto via artealasocho.blogspot.com

NUSANTARANEWS.CO – Di bulan Desember yang lebih gelap dan panjang dari biasanya, seorang laki-laki mengintip ke luar jendela. Hari ini hujan turun, dengan hanya menyisakan hawa dingin dan bau tanah basah yang masuk ke hidung setiap orang ketika berakhir. Dengan angin yang masih bertiup tak tentu arah, semua pohonan berderu dan beberapa tetes air yang entah datang dari mana beterbangan ke wajah orang-orang dan beberapa anak kecil yang berani keluar rumah mereka –mereka berlarian, memekik kencang, berteriak seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Angin itu memukul sebuah jendela sampai terbuka, menimbulkan suara yang mirip seperti kepakan sayap burung yang ingin melarikan diri. Tirainya yang putih berkibar-kibar seperti bendera tanda menyerah yang kelelahan.

Anak-anak berlarian di jalanan. Seperti tidak takut pada ingatan mereka: beberapa tahun yang lalu, tepat saat bulan Desember berwarna dan menawarkan suasana yang hapir sama –hanya saja sedikit lebih terang, seorang anak kecil tewas mengenaskan ditimpa pohon apel yang jatuh dari langit tepat ketika anak kecil itu sedang asyik berlari-larian mengejar khayalannya sendiri.

Kabarnya, pohon itu datang dari kebun apel yang jaraknya berpuluh-puluh kilo meter dari tempat itu. Hampir semua surat kabar mengatakan kejadian itu adalah sebuah bencana alam: Di musim penghujan di akhir bulan Desember, angin biasanya memang kencang. Bertiup tak tentu arah. Beberapa orang mengaku melihat angin yang sedikit ganjil berputar-putar di kebun apel. Menerbangkan debu dan tanah halus, membentuk sebuah gambaran garis yang terlihat seperti bentangan serat putih kecoklat-coklatan lurus sampai ke langit mendung hari itu. Ketika pusaran angin ganjil itu sampai ke bagian tengah kebun, putarannya menerbangkan pohon apel yang kebetulan tumbuh tepat di bagian paling tengah, dan kebetulan juga adalah pohon yang paling banyak buahnya.

Saat pohon itu melayang ke udara, dia berputar-putar dan terlihat bergembira. Semua orang yang sedang berada di luar rumah mereka di daerah sebelah timur bisa melihat pohon itu terbang pergi, dan semua orang yang sedang berada di luar rumah mereka di daerah sebelah barat bisa melihat pohon itu datang. Kemudian terjadilah kejadian tragis itu: angin ganjil itu tiba-tiba saja berhenti, hilang entah ke mana. Pohon apel itu jatuh, dengan suara berdebam yang terdengar seperti suara pintu neraka sedang dibuka, menimpa anak kecil yang sedang asyik mengejar khayalannya sendiri. Saat itu, orang-orang baru tahu, ternyata gravitasi bisa berlaku sekejam itu. Tepat saat pohon yang jatuh itu menyentuh permukaan tanah, debu dan tanah halus beterbangan dengan liar, membuat orang-orang yang ada di luar rumah merasakan perih di mata mereka. Debu dan tanah halus itu menempel di jendela setiap rumah, membuatnya menjadi buram, dan karena itu juga, orang-orang yang ada di dalam rumah hanya melihat kejadian itu dengan telinga mereka.

Orang-orang yang berada di dalam rumah tidak percaya pada pemberitaan surat kabar tentang kejadian itu. Mereka menduga kejadian itu bukanlah sebuah bencana alam, tapi merupakan sebuah pertanda bagi sesuatu yang besar. Suara jatuh yang terdengar seperti pintu neraka sedang dibuka itu membuat mereka lebih percaya pada pendengaran mereka sendiri ketimbang pada pemberitaan surat kabar. Mereka menyusun sebuah rumus aneh yang menghubungkan antara dongeng tentang pohon terlarang –yang katanya mirip pohon apel– dengan bulan Desember yang lebih gelap dan panjang dari biasanya. Menurut mereka, itu pasti pertanda, entah apa, yang jelas mereka merasa sesuatu yang buruk dan besar pasti akan terjadi setelah pohon apel itu menimpa anak kecil yang sedang asyik bermain mengejar khayalannya sendiri.

Tepat sehari setelah kejadian itu, semua orang –yang tidak percaya pada pemberitaan surat kabar– berkumpul di tengah lapangan, sementara orang-orang yang orang-orang yang percaya kalau kejadian itu hanya bencana alam tetap berdiam diri di rumah mereka. Hari itu gerimis turun, menyulap lapangan itu menjadi kubangan lumpur yang meruapkan hawa dingin dan bau yang aneh. Membuat semua orang yang berkumpul di sana memakai mantel yang cukup tebal dan sepatu karet untuk menghangatkan tubuh mereka, kemudian jas hujan untuk melapisi itu semua: yang mana membuat mereka terlihat seperti gorilla pelastik. Mereka semua merapal semacam doa dari campuran banyak bahasa, sambil melompat-lompat seperti sekumpulan orang mabuk, bergumam tentang pohon terlarang dan terus-terusan menyebut dosa-dosa mereka. Seseorang yang menjadi pemimpin di depan berteriak-teriak seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Tubuhnya mengeliat, meliuk-liuk dengan kelenturan yang aneh. Semakin orang itu meliuk dengan sangat sakti, semua orang yang ada di tengah lapangan itu berteriak semakin kencang. Mereka mengeluarkan tawa yang terdengar seperti “Buahaha! Buahaha! Huja Huja Huja!” Tapi di telinga orang-orang yang berdiam di rumah mereka, tawa itu terdengar seperti hitungan mundur dari angka sepuluh. Tapi kesalahan pendengaran semacam itu memang biasa terjadi, maka hal semacam itu tidak memiliki hubungan dengan sesuatu yang akan atau sedang terjadi di tengah lapangan. Orang-orang yang berkumpul di tengah lapangan tetap merapal doa dan melompat-lompat sementara orang-orang yang berdiam di dalam rumah dengan santai membaca berita di surat kabar.

Hampir semua surat kabar mengirim orang-orang mereka untuk datang pada hari di mana orang-orang berkumpul di tengah lapangan itu. Mereka meliput kejadian yang dituliskan dengan head line ‘AKHIR TAHUN, AKHIR ZAMAN!’

Di dalam pemberitaan itu, orang-orang dari surat kabar mengatakan bahwa orang-orang yang berkumpul di tengah lapangan merupakan juru selamat dari keburukan besar yang akan segera datang, ditandai dengan jatuhnya pohon apel yang menimpa anak kecil yang sedang asyik mengejar khayalannya sendiri.

Orang-orang yang berdiam di dalam rumah –ketika orang-orang yang lain berkumpul di tengah lapangan– membaca berita itu dengan reaksi yang hampir sama. Orang-orang itu tertawa dan semua mengatakan secara bersamaan di rumah mereka masing-masing: Mana mungkin. Di musim penghujan di akhir bulan Desember, angin biasanya memang kencang. Bertiup tak tentu arah, itu sudah biasa. Pohon apel itu tentu saja jatuh, cuma tidak sengaja menimpa anak kecil yang sedang asyik sendiri itu. Gravitasi memang selalu berbahaya. Seharusnya ada tanda yang mengingatkan untuk hati-hati pada gravitasi, apa saja bisa jatuh tiba-tiba seperti itu.

Hanya orang-orang yang hadir di perkumpulan di tengah lapangan kemarin yang percaya pada pemberitaan hari itu. Ketika orang-orang yang lain sibuk tertawa, mereka hanya duduk diam dengan wajah biasa-biasa saja di depan pintu rumah mereka masing-masing sambil mengelap sepatu karet mereka yang dipenuhi lumpur. Di beberapa rumah terlihat jas hujan yang dijemur, sementara di beberapa rumah yang lain tidak. Orang-orang yang tidak ikut berkumpul di tengah lapangan kemarin sambil masih tertawa-tawa yang terdengar seperti “Buahaha! Buahaha! Huja Huja Huja!” menyuruh anak-anak mereka keluar bermain. Mereka asyik dengan khayalan mereka sendiri. Anak-anak itu kembali berlarian di jalanan.

Beberapa tahun kemudian, Di bulan Desember yang lebih gelap dan panjang dari biasanya, seorang laki-laki mengintip ke luar jendela, berusaha mengingat tentang berita kematiannya beberapa tahun yang lalu. Sebuah pohon apel melayang-layang di benaknya. Angin yang bertiup memukul jendela kamarnya sampai terbuka, menimbulkan suara yang mirip seperti kepakan sayap burung yang ingin melarikan diri. Tirainya yang putih berkibar-kibar seperti bendera tanda menyerah yang kelelahan.

Hari itu hujan turun, dengan hanya menyisakan hawa dingin dan bau tanah basah yang masuk ke hidung setiap orang ketika berakhir. Dengan angin yang masih bertiup tak tentu arah, semua pohonan berderu dan beberapa tetes air yang entah datang dari mana beterbangan ke wajah beberapa anak kecil yang berani keluar rumah mereka –mereka berlarian, memekik kencang, berteriak seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Sebagian orang berdiam di rumah, dan sebagiannya lagi tidak.

2016

Bayu Pratama lahir di Aiq Dewa, Lombok Timur, 2 Mei 1994. Belajar penulisan kreatif di Departemen Sastra Komunitas Akarpohon, Mataram. Cerpen-cerpennya terbit di Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Minggu Pagi, Solo Pos, Banjarmasin Pos, Batam Pos, Sumut Pos, Suara NTB, Fajar Sumatra, Radar Surabaya.

_______________
Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected].

Komentar

To Top