Connect with us

Cerpen

Suara-suara Hati Nurani

Published

on

Suara-suara Hati Nurani

Suara-suara Hati Nurani

Kadang aku menganggapnya sebagai orang Yahudi atau Gypsi yang layak disingkirkan. Orangnya rese, ngabetin dan ngerecokin. Beberapa hari lalu, kembali aku mengkritiknya habis-habisan di depan kelas, bahwa cerpen yang ditulisnya hanyalah karya kacangan yang tidak berpedoman pada kaidah-kaidah kesusastraan Indonesia. Tetapi, yang paling membuatku beralasan untuk menyerangnya, bahwa dia memang tak pernah menduduki ranking pertama seperti halnya aku. Kelebihan yang dia miliki di antara teman-teman lainnya hanyalah, bahwa Mural memang rajin menulis cerpen atau puisi hasil gubahannya sendiri.
Oleh: Muakhor Zakaria

 

Ya, si Mural, itulah dia namanya. Sungguh, nama yang aneh dan jarang dimiliki orang Indonesia maupun Nusantara. Dengan mengenakan kerudung jilbab hitam yang dikenakannya, aku merasa jengkel ingin menjambak kerudungnya saat membacakan bait-bait puisi gubahannya di panggung peringatan Maulis Nabi beberapa waktu lalu. Ya, aku membencinya karena banyak alasan yang bisa dipahami beberapa teman-temanku. Pertama, aku adalah keturunan Jawa yang siapapun kenal etnis Jawa yang dominan di republik ini, juga memiliki martabat yang luhur dari garis keturunan kami. Sedangkan Mural, cuma gadis Baduy kampungan yang dipingit dari pedalaman Banten Selatan. Kalau bukan lantaran musibah banjir yang dialami keluarganya beberapa tahun lalu, tentu tidak bakal mereka hadir dan berhijrah di tengah-tengah masyarakat kami.

Selanjutnya, sebagai gadis Baduy yang satu kelas dengan aku, belum pernah dia masuk peringkat, alih-alih ranking teratas, wong peringkat lima besar saja belum pernah ia dapatkan. Selain itu, Mural seringkali meminjam novel atau kumpulan cerpen dan puisi terbaik dari koleksi buku-buku sastra yang aku miliki. Sedangkan dia, boro-boro koleksi buku, wong buat jajan sehari-hari saja sepertinya pas-pasan. Lalu, ada lagi yang lebih parah. Mural hanyalah seorang pelajar dengan pekerjaan orang tuanya sebagai petani yang menggarap lahan orang tua kami. Itu artinya, dia hanyalah anak seorang buruh kasar, yang berarti tergolong kasta Sudra yang merupakan kelas yang paling rendah.

Dengan beragam pertimbangan itu, lalu apakah alasan kepala sekolahku untuk mengutus dia sebagai peserta lomba cipta puisi tingkat SMU yang diadakan di Alun-alun Rangkasbitung nanti. Apakah alasan guru pembimbingku hingga memberinya kewenangan sebagai pemimpin redaksi untuk mengurus majalah dinding di sekolah kami. Emangnya dia itu siapa? Apakah dia seorang penulis profesional layaknya Ayu Utami, Eka Kurniawan, Helvy Tiana, Hafis Azhari, Benny Arnas, ataukah Djenar Maesa Ayu?

Baca Juga:  Gubernur Kaltara Sebut Pencapaian Bisa Menjadi Cobaan

Yang tak habis pikir, kenapa juga berani-beraninya dia menampilkan tulisan-tulisanku yang sering mengkritik karya-karyanya melalui majalah dinding. Padahal dia punya hak untuk menyaring dan menyeleksi semua karya siswa dan siswi yang akan dipampang di mading tersebut.

Suatu hari, ketika dia mencoba meminjam sepatu milikku yang akan dipakainya pada perayaan Hari Kartini, yang kebetulan dia ditugaskan sekolah untuk membacakan surat-surat Kartini yang terhimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, aku pun berdalih bahwa sepatuku mau dipakai saudara yang mau kondangan. Lantas aku pun mencibirnya agar beli sepatu sendiri ke Cibaduyut sana. Kenapa harus meminjam sepatu milikku. Tingbating!

Tak berapa lama setelah peringatan Hari Kartini, lagi-lagi aku menyerang Mural untuk ke sekian kalinya. Aku melayangkan esai sastra melalui bulletin di sekolahku, sambil menyatakan bahwa cara-caranya dalam membacakan surat-surat Kartini adalah kuno dan kampungan, norak dan ketinggalan zaman. Bagiku sebuah karya sastra harus dibacakan dengan intonasi dan ekspresi yang sepenuhnya mewakili kehendak publik yang menyaksikannya. Sementara pada cara Mural, kecenderungan yang subyektif terlalu menonjol ketimbang apa-apa yang diinginkan oleh pedoman yang termaktub dalam buku pelajaran sastra.

Ketika kusodorkan bulletin itu agar dia membacanya, ternyata Mural senyam-senyum di hadapanku, sambil memberi komentar singkat, “Trims atas saran dan kritikannya.”

“Jangan cengar-cengir kamu, ayo baca dulu!”

“Iya trims banget, aku sudah baca kok, dua kali malah.”

Sialan, sontoloyo doang! Aku malah menunggu respon darinya atas kritik-kritik yang kulayangkan di bulletin itu. Kenapa dia tidak tertarik untuk mengambil reaksi agar membantahnya, hingga aku bersiap mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan balik yang lebih tendensius lagi? Kenapa justru dia makin menyibukkan diri untuk persiapan menghadapi lomba cipta puisi yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan di Alun-alun Rangkasbitung nanti?

***

Guru sastra di kelasku menerangkan bahwa dunia sastra bergerak di wilayah konotasi yang bersifat imajinatif, sedangkan ilmu-ilmu eksakta bekerja dengan pengertian denotasi yang terlampau logis. Jadi, dunia sastra mengandung pengertian-pengertian yang cenderung subyektif, dan karenanya setiap individu boleh menafsir dengan bermacam-macam arti dan makna, meski tetap dalam batas-batas etika universal yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan.

Baca Juga:  Presiden Suriah Mengecam Presiden Turki Sebagai Pencuri

Aku melirik ke arah Mural yang sedang menyimak uraian Pak Sofiyan guru sastraku. Meskipun aku tahu bahwa dia memiliki keterbatasan dalam penguasaan rumus-rumus fisika dan matematika. Malahan dia pernah komplain kepada guru matematika, bahwa sistem pengajaran eksakta sebaiknya dibumbui dengan metode-metode baru yang lebih mengandung unsur seni, hingga cenderung menyegarkan bagi siswa. Walah welah, emangnya dia siapa? Pake istilah “menyegarkan” segala? Emangnya rumus-rumus matematika itu sejenis minuman jus apa?

“Maksud aku, supaya pelajaran matematika itu lebih menghibur.”

Tuh kan, masih saja dia menampik omonganku.

“He, kunyuk, kalau pelajaran matematika ya kaya gitu? Kalau pengen hiburan ke Dufan atau ke Taman Safari saja. Atau, kalau perlu ke Ragunan, biar ketemu saudara-saudaramu seasama wong Baduy!” celetuk seorang temanku, dan kami pun tertawa terpingkal-pingkal. Sementara Mural malah senyam-senyum saja mendengar sindirannya. Dasar kuper!

Perihal lomba itu, sering aku mencibirnya bahwa dia tak bakal sanggup bersaing dengan siswa-siswi SMU lainnya, dengan berbagai pertimbangan yang telah kubeberkan kepada teman-teman sekelasku, bahkan kritik-kritik yang semakin pedas telah kulayangkan melalui mading dan bulletin edisi terbaru.

“Rasain tuh, tulisanku di madding sudah beredar,” umpatku dalam hati.

Hari-hari menjelang pelaksanaan lomba cipta puisi, kuperhatikan Mural semakin intens dalam berlatih. Seusai pelajaran sekolah ia rajin mengunjungi perpustakaan sambil mengumpulkan literatur sastra dari dalam dan luar negeri. Puisi-puisi hasil gubahannya dengan terampil diadakan perbandingan dengan bahan bacaan yang telah dihimpunnya. Seakan cita-rasa yang diolahnya semakin meningkat, seakan kecintaannya pada sastra semakin meretas pada suatu kemauan yang kukuh, bahkan meningkat pada suatu kebutuhan dan keterpanggilan.

Kritik-kritik yang kulayangkan padanya semakin tidak dirasakan pengaruhnya, hingga membuatku uring-uringan untuk melakukan suatu tindakan yang bakal membuatnya kecewa dan menyesal hingga akhir zaman.

***

Belum sempat aku melakukan serangan yang paling menentukan, kini aku tidak kuat lagi mengangkat penaku ketika mendengar Mural dinobatkan sebagai sastrawan muda terbaik oleh Bapak Bupati Lebak. Kemenangan yang disandangnya saat mengikuti lomba cipta puisi mengantarkannya menjadi tokoh muda di sekolah, bahkan di kabupaten kami. Ketika ia meluncurkan buku kumpulan puisi, aku pun membaca bait-bait pertama yang ditulisnya di halaman muka:

Baca Juga:  Pengamat INDENIS Sebut Mahfud tak Cukup Modal Sosial dan Finansial Jadi Cawapres

Biarkan angin kencang menerpa dirimu, Kawan

Bertahanlah dalam terpaan yang makin keras lagi

Semakin ia mengguncang dirimu

Semakin menjulang tunas-tunas baru

yang membuat mentalmu sekokoh baja

Jadilah akar-akar pohon yang mengeras, Kawan

Bagaikan batu-batu fosil di hutan belantara

Ketika kau semakin kuat menembus prahara

Semakin itu pula cahaya kan bersinar terang

Saat ini, dunia seakan menatap pengambara Gypsi

maupun Yahudi yang melanglang buana

Jika kita menganggapnya sebagai perintang jalan

yang mengusik kesabaran kita

Maka dengan jalan apa kita akan masuk surga?

Beberapa wartawan menghampiri Mural saat peluncuran buku pertamanya. Ia pun menjawab semua yang dipertanyakan para wartawan, khususnya mengenai proses kreatif saat penulisan buku tersebut.

Tetapi ketika aku mencoba mendekatinya lantas menanyakan tentang rahasia kesuksesannya, ia pun menjawab sambil tersenyum, “Kaulah rahasianya.”

“Maksudmu?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.

“Selama ini aku membaca semua kritik yang kau layangkan untukku, baik di mading maupun di bulletin sekolah. Semakin kau lantang untuk mengkritik karya-karyaku, semakin itu pula aku terpacu untuk menulis yang lebih baik lagi.”

Seketika aku meneteskan airmata. Setelah menyalaminya erat-erat, aku pun menatap wajahnya, “Maafkan aku, Mural… maafkan aku….”

Kemudian teman-temanku seraya menghambur ke arah kami sambil menyatakan maaf atas kekhilafan mereka selama ini.

Sementara para wartawan masih mewawancarai Mural, kami hanya berdiri terpana di kejauhan. Saat itu, terlintas dalam ingatanku sosok wanita Indonesia yang tangguh dalam menghadapi cobaan dan ujian hidup, hingga memang pantas keberhasilan diraih olehnya. ***

Penulis: Muakhor Zakaria, cerpenis adalah peminat dan pengamat sastra milenial, menulis cerpen dan esai di berbagai harian lokal dan nasional, di antaranya www.kompas.id, nusantaranews.co, sastranesia.com, NU Online, alif.id, Kabar Madura, Radar Banten, Satelit News, Ahmad Tohari’s Web dan lain-lain.

Loading...

Terpopuler