Connect with us

Cerpen

Cerpen Muhamad Pauji: Pelayan Masyarakat

Published

on

Pelayan Masyarakat

Cerpen Muhamad Pauji: Pelayan Masyarakat

Salman adalah polisi yang baru diterjunkan di daerah Provinsi Banten. Dia termasuk anak buah Pak Hamid di institusi kepolisian. Tetapi, sepertinya ia sudah paham teritorial Pulomerak, sebagai wilayah penugasannya yang terletak di Kota Cilegon bagian barat.
Oleh: Muhamad Pauji

 

Malam itu, di bawah sinar rembulan yang menyinari sepanjang tepi pantai, mereka melihat mobil sedan diparkir di bawah pohon kelapa yang rindang. Pasangan muda-mudi yang berada di dalam mobil melihat kedua polisi itu, setelah Pak Hamid menyalakan senternya. Cahayanya persis menyorot kedua wajah yang sedang berciuman mesra, hingga mereka pun bersejingkat dari kemesraan mereka.

Kedua pemuda itu mengedip-ngedipkan mata lantaran sinar yang menyilaukan. Yang lelaki melepaskan pelukannya, tetapi yang perempuan justru memperketat rangkulannya karena merasa takut.

“Ayo, ini tempat umum, kenapa kalian pacaran di sini?” tanya Pak Hamid.

“Emangnya nggak boleh pacaran, Pak?” kata si perempuan seraya melepaskan pelukannya pelan-pelan.

“Bukan nggak boleh pacaran,” kata si polisi agak gugup, “tapi di sini tempat umum, kan masih ada hotel di sana? Kalau kalian mau begituan, kenapa harus di sini?” ia menunjuk sebuah hotel yang terletak di sebelah utara.

Salman dapat merasakan kejengkelan Pak Hamid, tetapi ia justru tersenyum. Kemudian, ia pun menyambung untuk membela atasannya, “Ayo, ke tempat lain, jangan di sini, sebab kalau nanti ada ormas-ormas semacam FPI, nanti kalian malah kerepotan sendiri.”

“Baik Pak, baik,” sahut si lelaki. Usia mereka sepantaran, sekitar sembilanbelas, seperti pemuda seumuran mahasiswa yang sedang menjalani kuliah semester awal. Suara mobil pun berbunyi, kemudian mereka meluncur dengan cepat menuju arah kota Cilegon.

Pak Hamid mengamati kepergian mereka sambil menyepak pasir pantai hingga berhamburan mengenai mobil patroli. Salman memperhatikan ulah atasannya sambil tertawa terpingkal-pingkal.

***

Setelah mereka kembali ke mobil patroli, Pak Hamid berkata lagi, “Saya tahu tempat lainnya, ayo kita ke sana?”

“Baik, Pak,” sahut Salman.

Salman mengemudikan mobil menyusuri pantai, kemudian lewat di sebuah jalan kotor di antara rerumputan dan kayu-kayu berserakan. Sesekali ia memperlambat jalan mobil dan mematikan lampu. Ternyata mereka tidak menemukan apa-apa. Di tengah keheningan itu terdengar suara Salman, “Sepertinya kosong, tidak ada lagi yang mencurigakan. Bagaimana kalau kita kembali saja ke kantor, Pak?”

“Nggak usah khawatir, ini kan malam Jumat, bukan malam Minggu? Biasanya malam Jumat nggak terjadi apa-apa di kota. Kalaupun ada panggilan radio dan jarak kita terlalu jauh, mereka akan memanggil patroli yang lainnya. Tenang saja.”

Setelah itu, Salman diperintahkan mengarahkan mobil ke sebuah jalan pendek yang menuju ke arah laut. Mereka melihat pasangan muda-mudi lagi, tetapi mereka tidak mengganggu kedua makhluk yang sedang asyik bercumbu itu. Ketika mobil meluncur menuju tempat yang dikenal Salman, ia merasa terusik dan terganggu. “Apakah kita akan beroperasi seperti ini setiap malam?” tanya Salman.

“Lalu, sebaiknya bagaimana?” sahut Pak Hamid sambil tertawa kecil.

“Tapi, untuk apa? Urusan muda-mudi pacaran kan, bukan urusan kita?”

“Ya sudah, tenang saja.”

Pak Hamid mengarahkan mobil agar melawati jalan sunyi. “Seringkali kita temukan hal-hal aneh yang di luar dugaan,” kata Pak Hamid, “sebab, saya pernah menemukan orang yang mati bunuh diri di dalam mobil pada malam Minggu.”

Pak Hamid menjelaskan lebih lanjut, bahwa ia pun pernah menemukan mayat korban pembunuhan di dalam mobil yang diparkir. Pernah ada yang sudah mati selama lima hari. Yang menemukannya justru bukan polisi. Akibatnya, institusi kepolisian RI dipersalahkan oleh pihak keluarganya yang pengusaha dan birokrat itu. “Kita kan tidak tahu apa yang mereka lakukan di dalam mobil-mobil itu. Orang bisa saja saling bertengkar dan membunuh,” ujar Pak Hamid lagi.

“Iya juga sih,” jawab Salman.

Setelah beberapa saat, ia bertanya pada Salman. “Setelah tugas begini, nanti kamu akan banyak belajar. Sudah berapa lama menjadi polisi?”

“Sekitar enam bulan, Pak.”

“Tugas di bagian mana?”

“Patroli lalu lintas bagian timur, menangani mobil-mobil kecelakaan. Bulan lalu mereka memindahkan saya ke wilayah Cilegon bagian barat ini.”

Pak Hamid tertawa kecil. “Wah, daerah sini terdapat gudangnya perempuan, terutama di sepanjang pantai Pulomerak ini. Apa kamu sengaja minta tugas di wilayah sini?”

Baca Juga:  Tahun 2019 SPP Sekolah di Jatim Gratis, Ini Tanggapan DPRD

Pak Hamid menunggu jawaban Salman, tetapi sang anak buah tidak menanggapi pertanyaan itu.

“Kita pun pernah menangkap beberapa pengedar narkoba kelas kakap di sekitar sini,” ujar Hamid sambil mengenang masa lalunya, kemudian ia menunjuk ke daerah Sangkanila. “Di sanalah gudang dan banknya perempuan. Kalau saya berjalan di wilayah itu, saya akan disibukkan terus sepanjang malam. Saya pernah minum kopi dengan 50 orang perempuan cantik-cantik,” Pak Hamid tertawa bangga menceritakan kisahnya dengan wanita-wanita itu.

Bosan mendengar cerita Pak Hamid, Salman membiarkan pikirannya mengembara. Wilayah itu memang penuh wanita-wanita tunasusila. Semua orang juga tahu. Sebagian besar tentu enak diajak ngobrol. Ia juga paham bagaimana para wanita cukup tertarik dan antusias melihat pakaian laki-laki berseragam dan berlencana. Selain itu, senjata yang bertengger di pinggang juga menambah suasana seksi bagi sang polisi. Salman menengadah menatap bulan. Ia mengingat kembali cerita beberapa orang tentang cara wanita bereaksi kalau melihat senjata. Bahkan, ada yang meminta senjata itu dibawa ketika mereka bercinta di atas ranjang.

Ya, senjata itu. Dan semua kewenangan laki-laki yang memiliki energi dan kekuatan di mata kaum wanita. Sangat berkaitan erat dengan masalah yang menyertainya. Baik otoritas, hukum maupun undang-undang. Pak Hamid menarik napas lega. “Wilayah Sangkanila memang menarik. Kamu akan banyak belajar dari saya,” kata Pak Hamid meyakinkan. “Tapi, tugas dengan mobil patroli hanya dua kali seminggu. Tugas selebihnya berjalan kaki, dari pukul enam hingga tengah malam.”

“Berjalan kaki? Di sepanjang pantai Pulomerak?”

“Di daerah Sangkanila dan sekitarnya.”

“Waduh, luas sekali, Pak?”

Mereka terdiam lagi. “Aaagh” Pak Hamid menguap dan menggerakkan badannya, hingga tulang-belulangnya bergemeretak. Lalu, sambungnya lagi, “Ya, beginilah hidup, terpaksa kita harus pasrah pada tugas.”

Untuk beberapa lama, mereka berdiam diri lagi. Sementara Pak Hamid memikirkan ketidakadilan dalam pembagian tugas, Salman berharap agar tidak banyak polisi bernasib serupa dengan Pak Hamid, yang usianya kini sudah beranjak 60-an tahun.

***

“Di sebelah sana masih ada satu tempat lagi,” ujar Pak Hamid. “Biasanya saya mendatangi tempat itu tengah malam. Kita periksa dulu tempat itu, dan setelah itu kita pulang.”

Salman membelokkan mobil ke arah barat daya, melewati tempat yang becek dan kotor. Ia disuruh memadamkan lampu, dan ketika ia mulai menyaksikan air laut berkilauan di balik pepohonan, ia menghentikan mobil.

“Mobil diparkir di sini saja. Dari sini kita jalan kaki pelan-pelan.”

“Saya menunggu di sini aja, Pak,” ujar Salman.

“Bagaimana sih kamu?” kata Pak Hamid kesal, “nanti kalau anak-anak brengsek itu bersikap kasar, bagaimana? Kamu kan pasangan saya, ke mana pun saya pergi, kamu mesti ikut dong?”

“Oke deh,” kata Salman agak terpaksa, dan ia pun keluar dari mobil.

“Jalan pelan-pelan, usahakan jangan ada suara,” bisik Pak Hamid.

Mereka berjalan dengan tenang di jalanan sepi. Salman menarik napas panjang di malam dingin itu. Ia terbayang atasannya sewaktu coaching dan training dulu, “Ikuti apa kata atasanmu.” Ia ingat kembali kata-kata kaptennya: “Perhatikan atasan kalian, belajarlah dari mereka! Dan perhatikan bagaimana dia bertindak.”

Ia menatap ke depan dan memperhatikan Pak Hamid beraksi. Laki-laki yang lebih tua itu melangkah ringan di jalan dengan hati-hati sekali. Salman tidak dapat berbuat seperti itu. Selain itu, ia juga tidak tahan. Ia merasa, di tempat itu Hamid-lah yang menguasai wilayahnya. Sepotong ranting berderak. Ia melihat Pak Hamid menjejakkan kakinya pada sebatang ranting. Dari kejauhan Salman memperhatikan Pak Hamid mendekati sebuah mobil kijang diparkir di tempat terbuka di tepi pantai.

Mobil itu menghadap ke laut, Pak Hamid menghampiri mobil itu dari belakang. Sinar bulan demikian terang, hingga Salman dapat menyaksikan laut dari kaca mobil. Tetapi, ia belum melihat seorang pun keluar dari mobil itu. Pak Hamid mendekati mobil sambil membungkukkan badan. Salman juga melangkah dengan lebih perlahan. Ia melihat Pak Hamid tiba di samping mobil itu. Ia tahu kali ini Pak Hamid pasti akan menangkap basah orang yang disergapnya.

Baca Juga:  Politik Demokrasi, Antara Persatuan Umat dan Ambisi Kelompok

Tubuh Salman gemetar. Bulu kuduknya merinding. Ia melihat Pak Hamid melambaikan tangan, memintanya agar membungkuk. Dengan patuh perintah itu diturutinya. Ia menunggu Pak Hamid menyorotkan senternya, tetapi lelaki itu tidak melakukan apa yang diharapkannya. Pak Hamid berdiri perlahan dan mengintip dari jendela belakang. Salman tidak dapat menyaksikan wajahnya. Tetapi, kini ia sangat dekat dan ia dapat mendengar mobil itu bergerak dan bergoyang. Pak Hamid mendengar orang tertawa terkekeh-kekeh di dalam mobil. Ia kembali membungkuk dan tidak berupaya berdiri untuk melihat. Ia hanya menunggu di belakang mobil yang bergerak dan bergoyang itu.

Setelah beberapa lama, Pak Hamid menyorotkan cahaya senternya, menembus kaca mobil. Kedua pasangan di dalam mobil terperanjat dan bingung. Salman merasakan ketegangan pada raut wajahnya. Ia mendengar Pak Hamid melontarkan kata-kata. “Ayo keluar! Cepat keluar dari mobil!” Ia membuka pintu mobil, dan sambungnya lagi, “Ayo, cepat keluar, atau saya akan menarik kalian?!”

Yang laki-laki keluar dari pintu depan. Ia hanya mengenakan celana panjang, tanpa memakai baju. Salman melongokkan mukanya, untuk melihat ke sisi lainnya. Tiba-tiba ia menyaksikan seorang wanita telanjang bulat, keluar dari mobil itu di bawah sorotan senter Pak Hamid. Ia memegang pakaiannya sambil menutupi bagian depan tubuhnya dengan wajah ketakutan.

“Ayo, Neng,” kata Pak Hamid, “pakai bajunya sekarang juga.”

Wanita itu berpaling menghadap ke mobil. Pasangan wanita itu, Pak Hamid, dan Salman terus menatapnya. Ia menjatuhkan salah satu pakaiannya. Tubuhnya gemetar bercampur gugup dan bingung, mana yang lebih dulu akan dipakainya. Ia mengangkat kedua lengannya untuk memasukkan roknya melalui kepala. Untuk beberapa saat, seluruh tubuhnya berkilau karena sorotan cahaya senter Pak Hamid. Tidak seorang pun berkata-kata ketika ia mengenakan pakaian itu. Ketika ia selesai berpakaian, ia pun berpaling.

Salman merasa ia mengenal wajah perempuan itu. Pak Hamid kemudian mengizinkan yang lelaki mengenakan bajunya pula. Setelah itu, ia mengajukan beberapa pertanyaan. Lelaki itu menjelaskan siapa dirinya dan siapa gadis pasangannya sambil menunjukkan SIM dan STNK. Salman terpana memperhatikan gadis itu. Ia bekerja di sebuah minimarket dekat rumahnya di daerah Cilegon, yang terbiasa melayani pembeli di belakang konter. Usianya kira-kira 20 tahun, dan wajahnya yang cantik membuat Salman merasa malu. Ia melihat gadis itu hampir setiap hari ketika ia berbelanja di minimarket tersebut.

Berkali-kali ia pernah bicara dan berbincang-bincang dengan gadis itu, terutama ketika minimarket kosong pembeli, atau tak ada antrian untuk membayar di depan konter. Salman mengenal semua wanita yang bekerja di minimarket tersebut. Ia bahkan pernah minum kopi dengan salah satu dari mereka, sambil duduk-duduk santai pada meja yang tersedia di depan minimarket. Ia ingat betul betapa gadis-gadis lainnya kurang senang pada gadis ini karena kecantikannya, tetapi mereka tidak pernah mengatakan sesuatu yang menjelek-jelekkan gadis ini. Ia begitu dingin dan penyendiri. Salman terus menatap gadis itu dengan terbengong-bengong.

Setelah gadis itu selesai berpakaian, Pak Hamid mengalihkan sorotan cahaya senternya. Gadis itu menundukkan kepala dan tidak melihat Salman. Di bagian leher pakaian gadis itu masih terbuka dan ia mulai mengancingkannya pelan-pelan. Rambutnya kelihatan acak-acakan dan sebagian menutup wajahnya. Tanpa mengenakan sepatu, gadis itu kelihatan lebih pendek dari biasanya. Salman ingin sekali membantu gadis itu, tetapi badannya serasa kaku dan tak bisa bergerak.

Salman terus memperhatikan gadis itu menatap ke bawah, memandangi tumpukan pakaian dalamnya yang putih di sekitar kakinya yang telanjang. Salman merasakan jantungnya berdegup kencang. Gadis itu berlutut di pasir dan mengumpulkan pakaian dalamnya, mengibaskan rambutnya yang jatuh menutupi wajah. Ia melihat ke depan, dan terpaku menatap muka Salman. Ya, gadis itu juga benar-benar mengenal Salman.

Salman mengalihkan pandangannya. Ia mendengar suara lelaki pasangan gadis itu yang mencoba berdamai dengan Pak Hamid. Lelaki itu mendengarkan dengan sabar, tersenyum pahit dan wajahnya berkeringat. Salman sekali lagi menatap wajah gadis itu. Sambil berdiri ia memegang pakaian dalamnya dan mendekapkannya di dada. Ia memperhatikan mata gadis itu yang terbuka lebar di bawah sinar bulan. Ia mengerti adanya kekhawatiran di balik tatapan mata gadis itu. Salman berpikir, barangkali gadis itu ketakutan, bahwa dirinya akan menceritakan kejadian itu pada seluruh teman-temannya di minimarket nanti. Salman berpaling kepada Pak Hamid, dan ujarnya, “Bagaimana, Pak, sudah beres?”

Baca Juga:  Telisik Keterlibatan Hakim, KPK Panggil Hakim Casmaya dan Partahi

“Oke, kita biarkan mereka pergi, tetapi lain kali mereka jangan sampai berbuat senonoh di tempat umum, kalian paham?”

Kedua muda-mudi itu pun mengangguk, dan mereka pun memasuki mobil dan meluncur di kejauhan.

***

Setelah mobil itu hilang dari pandangan mata, Pak Hamid duduk-duduk di sekitar tepi pantai kemudian menyusul Salman di sebelahnya.

“Sebaiknya kamu jangan bicara pada siapa-siapa mengenai perempuan tadi,” kata Pak Hamid memberi peringatan, “sebab bagaimanapun, dia itu kenal sekali dengan kamu. Ini menyangkut kredibilitas kepolisian, paham?”

“Iya, Pak, saya mengerti,” kata Salman mengangguk.

Bagaimanapun, Salman sebagai petugas baru di dunia kepolisian, semakin memahami bahwa Pak Hamid dan tipikal polisi semacamnya adalah sosok penyabar, dan bukan seorang bodoh yang sembrono. Dalam perjalanan pulang, Salman merasa bangga dengan figur Pak Hamid, seorang pengayom masyarakat yang sudah lanjut usia, namun tak merasa lelah dan capek mengabdi untuk kemaslahatan umat.

Dua hari berikutnya, beberapa jam menjelang tugas di lapangan, Salman duduk-duduk di bangku depan minimarket seperti biasa. Ia harus berbicara dengan gadis itu, meminta maaf dan meyakinkannya bahwa ia tidak akan menceritakan kejadian itu pada siapa pun. Gadis itu keluar dari minimarket. Ia menatap Salman yang waktu itu belum mengenakan seragam polisinya. Gadis itu kelihatan cantik sekali. Ia memakai rok warna hitam dengan kaos orange yang dikenakannya sebagai seragam minimarket. Kemudian, perlahan-lahan ia melangkah menghampiri Salman.

“Punya waktu untuk makan baso?” Salman menyapa lebih dulu.

Ia menatap kosong pada Salman. Matanya dingin. Setelah berdiam diri sejenak, ia pun mengangguk. Ia masuk lagi ke dalam minimarket, meminta izin pada temannya bahwa ia mau keluar beberapa saat, dan temannya pun mengiyakannya.

Mereka melangkah tanpa mengucapkan sepatah kata pun, menyeberangi jalan menuju warung baso, seraya memesan dua mangkok baso dan teh botol. Ternyata, gadis itu begitu kalem dan tenang. Salman agak merasa riskan. Gadis itu kelihatannya lebih mampu menguasai diri.

“Saya cuma mau bilang, tentang kejadian yang kemarin malam itu…,” Salman menahan diri, dan tidak melanjutkan ucapannya.

Ia terdiam sejenak. Gadis itu menatapnya dengan pandangan kosong, dan kemudian menyulut rokok. Dari kepulan asap itu, Salman melihat bagaimana mata gadis itu memperhatikan seraut wajahnya yang nampak kaku dan tegang.

Setelah baso dihidangkan, dan mereka pun menyantapnya perlahan-lahan, obrolan ternyata lebih rileks dan menyenangkan. Gadis itu berbicara dengan suara rendah tetapi hangat, ditambah dengan senyumnya yang khas menawan.

“Menjadi polisi tentu merupakan profesi yang menyenangkan,” ujar gadis itu.

“Hmm, ya, ada benarnya,” sahut Salman. Setelah itu ia berdiri, “Sekarang saya harus kembali bertugas,” iapun meminum teh botol dengan sedotan.

Gadis itu tidak beranjak dari tempatnya. Ia hanya menatap Salman sambil tersenyum.

“Di mata saya, Pak Salman ini istimewa… sangat istimewa…,” kata gadis itu.

“Apanya yang istimewa,” pancing Salman.

“Semua tentang saya sudah diketahui oleh Bapak, iya kan?”

“Ah, saya kira tidak semuanya.”

“Saya tahu apa yang ada dalam pikiran Pak Salman,” ujar gadis itu lagi.

“Oya?” Salman terpana, belum juga beranjak dari tempat duduknya.

“Lalu, mengapa Bapak tidak pernah minta?”

“Kamu tentu paham kenapa saya tak berani minta.”

“Kenapa?”

“Karena saya pelayan…”

“Kalau memang pelayan masyarakat, kenapa tidak terus terang minta pada majikannya?”

Salman menarik napas panjang.

“Bahkan mengajak pun Bapak tidak berani, kan?” tanya si gadis.

Salman hanya tersenyum, matanya berangsur-angsur tertutup. Saat itulah, ia semakin menyadari betapa sedikit pengetahuannya tentang sosok seorang wanita.

“Baiklah kalau Bapak tidak berani minta,” kata gadis itu dengan tenang, “sekarang, bagaimana kalau selesai tugas malam ini, Pak Polisi Salman yang terhormat, mendatangi tempat saya lalu membawa saya keluar…”

“Ke mana?” tanya Salman.

“Ke mana saja, tapi sebaiknya ke tempat yang tak terjangkau oleh teman-teman Bapak.” ***

Penulis adalah cerpenis dan kritikus sastra kontemporer Indonesia. Pegiat organisasi kepemudaan OI (Orang Indonesia). Menulis cerpen dan kritik sastra di berbagai media massa dan online.

Loading...

Terpopuler