Connect with us

Cerpen

Cerpen Ramli Lahaping: Warga Miskin

Published

on

Warga Miskin

Cerpen Ramli Lahaping: Warga Miskin

Niatku sudah mantap. Ketika malam telah larut, aku mulai melancarkan rencana untuk menggarong rumah Toni, tetangga samping rumahku, yang menjabat sebagai kepala desa.
Oleh: Ramli Lahaping

 

Aku memiliki kesempatan yang baik setelah ia pulang ke rumah orang tuanya, bersama anak dan istrinya. Hingga akhirnya, setelah memanjat dinding sisi belakang dan turun lewat lubang plafon, aku pun mendarat di dalam kamarnya, dan segera memulai aksi dengan tenang.

Mula-mula, aku memeriksa dua buah lemarinya. Aku menyibak-nyibak tumpukan pakaian untuk mencari keberadaan uang bantuan sosial simpanannya. Tetapi lama-lama, aku tak kunjung mendapatkannya. Sampai akhirnya, setelah membuka laci mejanya, aku pun menemukan sebuah amplop tak bernama. Aku lantas membukannya, dan menemukan beberapa lembar uang di dalamnya. Setelah menghitung nominalnya, aku pun yakin telah menemukan target sasaranku.

Tanpa menunda waktu, aku pun mengantongi seamplop uang itu, kemudian lekas beranjak pergi. Aku melewati jalan masukku sebelumnya, lalu mengendap-endap di tengah kegelapan malam. Hanya dalam sekejap, aku pun tiba di rumahku dengan aman. Aku lalu masuk ke dalam kamarku, lantas menyimpan uang jarahanku di dalam lemari. Aku kemudian mengempaskan tubuh di atas kasur, lantas berusaha meredakan keteganganku sendiri.

Sampai akhirnya, aku merasa tenang dan senang telah berhasil menunaikan setengah rencanaku untuk mewujudkan niat baikku. Tak lama lagi, aku akan menyampaikan uang tilapanku kepada Hasrin yang memang berhak menerimanya. Aku tahu betul bahwa ia adalah orang yang miskin, yang semestinya mendapatkan bantuan sosial. Aku pun tahu bahwa kepala desa telah berbuat zalim dengan mencoret namanya dari daftar penerima bantuan.

“Apa Bapak tidak pernah bertanya kepada kepala desa perihal kenapa Bapak dicoret dari daftar penerima?” tanyaku kepada Hasrin, dua hari yang lalu, saat ia menuturkan keluh kesah perekonomiannya kepadaku. Ia mengaku kelimpungan memenuhi keperluan anak dan istrinya, sebab penghasilannya sebagai tukang ojek pangkalan terus menurun seiring pembatasan mobilitas akibat pandemi virus korona. “Cobalah Bapak sampaikan keluhan kepadanya, agar Bapak kembali dimasukkan ke dalam daftar penerima.”

Ia lantas menggeleng. “Aku merasa berat, Pak. Aku kira keputusannya itu ada sangkut pautnya dengan pemilihan kepala desa yang lalu. Aku yakin ia tidak senang kepadaku, karena secara nyata-nyata, aku telah menjadi tim sukses calon yang lain.”

Baca Juga:  Tak Adanya Perwakilan Kalimantan di Kabinet Membuat Perbatasan Selalu dalam Ketertinggalan

Aku pun mendengkus kasihan. “Tetapi bagaimanapun, setelah proses pemilihan, ia seharusnya menjadi pemimpin untuk semua warga. Ia semestinya berlaku adil dan tidak membeda-bedakan warga hanya karena pilihan politik,” balasku, sekadar berharap, di tengah kebingunganku sendiri perihal cara mengatasi dampak dari pertarungan politik yang sengit itu.

Ia hanya mengangguk-angguk lesu. “Tetapi mau bagaimana lagi?”

Aku pun kelimpungan menanggapinya.

Atas kenyataan Hasrin itulah, akhirnya, aku memantapkan hati untuk mengambil uang bantuan sosial dari rumah sang kepala desa, untuk kuberikan kepadanya.

Sampai akhirnya, keesokan harinya setelah aku menjarah seamplop uang itu, saat masih pagi, aku pun menghampiri Hasrin yang tampak murung di kolong rumah panggungnya, sembari menabur pakan untuk beberapa ekor ayamnya. Aku tak ingin menunda-nunda untuk menyerahkan uang jarahanku itu kepadanya, agar ia lekas berhenti meratapi kesulitan ekonominya karena ketidakadilan pemerintah desa.

“Ini, Pak, aku punya kelebihan rezeki untuk Bapak,” kataku kemudian, setelah basa-basi pengantar yang panjang, sambil menyodorkan seamplop uang itu. Aku tentu harus merahasiakan perihal asal-usulnya demi menghindari perkara, dan agar ia menerimanya tanpa keraguan.

Ia lalu menyambut pemberianku dengan wajah semringah. “Terima kasih banyak, Pak,” balasnya, kemudian menyalamiku.

Aku pun mengangguk-angguk dan melayangkan senyuman. “Sama-sama, Pak,” pungkasku, lantas pamit dan pulang setelah basa-basi penutup yang singkat.

Seiring langkah-langkahku, diam-diam, aku pun berbangga diri telah melakukan kebajikan secara terselubung. Aku merasa berarti telah mengambil uang penggelapan sang kepala desa dan menyerahkannya kepada seseorang yang memang patut menerimananya. Aku merasa berhasil melawan pemerintah yang zalim dan membela rakyat yang tertindas.

Terlebih lagi, secara pribadi, aku memang tak menyukai Toni sebagai kepala desa. Aku merasa ia tidak memiliki pengalaman dan mental yang baik untuk memerintah. Ia hanyalah seorang sarjana pengangguran yang baru menetap setahun di desa, dan langsung mencalonkan diri sebagai kepala desa. Karena itu pula, pada saat pemilihan, sebagaimana Hasrin, aku memilih untuk mendukung rivalnya, sang petahana. Tetapi akhirnya, calon dukunganku itu kalah, dan aku gagal jadi kepala dusun.

Meski begitu, aku sama sekali tidak menyesal menjadi penentang Toni dan tidak mendapatkan apa-apa. Setidaknya, aku berada di pihak yang benar, bersama orang-orang baik yang terzalimi setelah pelantikanya. Aku bersama para warga yang kehilangan jabatan di tingkat desa dan dusun, juga bersama mereka yang dicoret dari daftar penerima bantuan sosial. Aku merasa lebih baik berada di dalam golongan mereka ketimbang menjadi bagian dari pemerintahan yang tidak adil.

Baca Juga:  Jawa Timur Masih Tertinggi Kedua di Indonesia Jumlah Penderita AIDS

Hingga akhirnya, saat hari sudah sore, aku pun kembali menemukan bukti ketidakbecusan Toni dalam mengurus warga. Tiba-tiba saja, Parlan, seorang lelaki tua yang baru dua tahun menetap dan menjadi penduduk desa, yang tinggal seorang diri di rumah kebunnya yang berjarak dari perkampungan, datang bertamu ke rumahku. Ia lantas menuturkan maksudnya untuk meminjam uang kepadaku untuk membeli bahan makanan pokok, sembari berjanji akan melunasinya setelah hasil jual ubi jalarnya mencukupi. Dengan penuh keprihatinan, aku pun mewujudkan permohonannya.

Seketika pula, aku merasa semakin berarti setelah kembali membantu seseorang warga yang membutuhkan di tengah keadaan perekonomianku yang baik-baik saja dari hasil bertani. Namun atas kenyataan itu juga, aku semakin menaruh kesal pada Toni yang tidak juga mengambil tindakan yang benar untuk membantu para warga miskin, terutama dengan mengupayakan bantuan sosial untuk mereka.

Tetapi di tengah kejengkelanku atas penderitaan sejumlah warga, Toni malah tampak biasa-biasa saja. Setiap waktu, ia selalu terlihat tenang, seolah tidak punya beban atas tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Begitu pula saat ini, ketika aku dan Parlan masih berbincang-bincang di kolong rumahku, ia pun menghampiri kami dengan senyuman khas para pejabat korup yang sedang mencari perhatian warga. Tak pelak, aku pun merasa risi, sebab aku berkeyakinan bahwa ia hanya akan menyita waktu kami untuk mendengarkan cerocosnya tentang program pemerintahannya yang sekadar omong kosong.

“Bapak-bapak, ini aku ada oleh-oleh,” katanya, lantas mengeluarkan dua bungkus roti dari dalam tentengannya, kemudian memberikan untuk kami masing-masing.

“Terima kasih banyak, Pak Desa,” ucap Parlan kemudian, dengan raut senang.

“Terima kasih,” kataku, sekenanya, lantas melayangkan senyuman simpul yang singkat atas pemberiannya yang kuanggap sebagai sogokan hina.

Toni pun menangguk-angguk dengan senyuman lebar. “Sama-sama.”

Untuk beberapa saat, keadaan pun hening. Kami seolah sama-sama kesulitan untuk memancing dan mencairkan perbincangan. Toni terlalu elitis, Parlan terlalu sungkan, dan aku terlalu malas.

Hingga akhirnya, Toni membuka pembahasan, “Oh, iya, aku mau tanya, apa semalam Bapak tidak mendengar suara-suara aneh di rumahku?” tanyanya, sembari menoleh kepadaku.

“Suara aneh seperti apa yang Bapak maksud?” tanyaku, setengah penarasan, sebab aku mulai curiga bahwa ia telah menyadari akibat dari tindakanku.

Baca Juga:  Kasus Rasisme Papua, Amsori: Mari Sama-sama Mempersatukan Bangsa

“Begini, Pak. Tadi, aku cek isi laciku. Dan ternyata, seamplop uang bantuan sosial di dalamnya telah hilang. Aku yakin betul, seseorang telah mencurinya. Apalagi, aku melihat isi lemariku tampak acak-acakan.”

Aku pun jadi waswas. Takut kalau-kalau aku meninggalkan jejak dan ia tahu bahwa aku adalah pelakunya. Tetapi aku lekas menggeleng dan menyangkal, “Aku tak mendengar apa-apa, Pak. Mungkin karena tidurku benar-benar pulas malam tadi.”

“Uang yang hilang banyak, Pak?” tanya Parlan, penasaran.

Toni mengangguk-angguk pelan. “Enam ratus ribu rupiah, Pak, di dalam sebuah amplop,” katanya, kemudian menghela dan mengembuskan napas yang panjang.

“Kasihan juga si calon penerima bantuan sosial itu. Ia mesti kehilangan uang yang seharusnya menjadi haknya,” timpal Parlan, dengan raut prihatin.

Toni pun mendengkus. “Karena itulah, aku minta maaf, Pak Parlan, karena uang itu sebenarnya hendak kuberikan kepada Bapak.”

Seketika, perasaanku pun tersentak.

“Loh, begitu, toh?” sergah Parlan, terkejut.

Toni menganggguk. “Iya, Pak. Aku sudah menimbang-nimbang ulang terkait daftar warga yang layak menjadi penerima bantuan sosial. Hasilnya, aku telah mengganti beberapa penerima bantuan terdahulu dengan orang yang lebih pantas, termasuk Bapak.”

Aku sontak merasa bodoh sendiri.

Wajah Parlan pun tampak muram. “Jadi, bagaimana dengan hakku itu, Pak.”

Toni lantas melayangkan senyuman. “Bapak sabar saja. Besok, kalau aku sudah menerima gaji, aku akan mengganti uang untuk Bapak itu.”

Seketika, Parlan jadi senang. “Terima kasih banyak, Pak.”

Toni pun membalas dengan anggukan tenang.

Tak beberapa lama kemudian, setelah obrolan kami tandas, Toni kembali ke rumahnya, disusul Parlan yang pulang dengan rona wajah yang ceria.

Sampai akhirnya, sejenak berselang, aku pun melihat Hasrin melintas di depan rumahku dengan mengendarai sepeda motor baru cicilannya, sembari memboncengkan istrinya. Aku menaksir bahwa mereka baru saja pulang dari pasar. Aku bisa melihat berbagai macam belanjaan mereka di bagian depan motor, atau pada keranjang di pangkuan sang istri, termasuk sepot bunga dengan daun yang berlubang-lubang.[]

Penulis: Ramli Lahaping. Lahir di Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di beberapa media daring. Akun Media Sosial: @ramlilahaping (Instagram); @ramli eksepsi (Twitter); Ramli Lahaping (Facebook)

Loading...
Advertisement

Terbaru

Advertisement

Terpopuler