Connect with us

Mancanegara

Venezuela, Hugo Chavez Dan Gurita Imperialisme AS

Published

on

Presiden Hugo Chavez

Presiden Hugo Chavez

NUSANTARANEWS.CO – Sejarah perjuangan para pemimpin revolusioner yang hebat tidak akan pernah mati. Kisah perjuangan mereka akan tetap hidup di dalam sanubari orang-orang yang telah mereka perjuangkan dan akan selalu menjadi inspirasi bagi orang-orang yang melawan penindasan. Perlawan Hugo Chavez terhadap supremasi kulit putih di Venezuela pun kini tercatat dalam siklus sejarah – di mana Chavez telah mendobrak monopoli kekayaan dan kekuasaan yang berada di tangan kulit putih dukungan Amerika Serikat (AS) – yang membuat rakyat pribumi Venezuela hidup menderita dalam jurang kemiskinan.

Memang bukan rahasia lagi kalau sudah sejak lama, AS sangat mendukung supremasi mereka di Venezuela. AS menutup mata terhadap perilaku korup mereka, bahkan membiarkan penindasan dan kekejaman mereka terhadap kaum pribumi – seperti halnya peristiwa pembantaian Caracazo pada tahun 1989, di mana tanpa pandang bulu pasukan keamanan membunuh 3.000 pengunjuk rasa dengan tangan dingin.

Akibat penindasan yang brutal, akhirnya muncul gerakan perlawanan rakyat pribumi terhadap arogansi oligarki kulit putih – hingga akhirnya rakyat berhasil merebut kekuasaan secara demokratis yang merubah jalannya sejarah Venezuela. Hugo Chavez berhasil memenangkan pemilu sebagai presiden negara itu pada tahun 1998. Bukan itu saja, kepemimpinan Chavez dengan Revolusi Bolivarian-nya, pada gilirannya menjadi ruh bagi gerakan Revolusi Amerika Latin yang lebih luas.

Baca: Setelah Empat Abad, Supremasi Kulit Putih Runtuh di Venezuela

Selama memerintah Venezuela, Chavez telah mengubah Venezuela menjadi negara kesejahteraan sosialis, sambil terus memimpin Revolusi Amerika Latin pada skala benua – revolusi yang membebaskan 12 negara di wilayah tersebut dari dominasi imperialis AS. Keberhasilan ini telah menjadikan Chavez sebagai inspirator perlawanan global terhadap neokolonialisme Barat di abad 21.

Namun satu hal yang mungkin dilupakan oleh Chavez adalah jeratan sistem gurita kapitalisme AS dan barat secara global. Suka tidak suka hegemoni Pax Americana dan dollar masih menguasai dunia hingga hari ini. Tidak mengherankan bila reformasi ekonomi Chavez yang kemudian dilanjutkan oleh Maduro tidak dapat berjalan mulus.

Ironisnya perdagangan Venezuela sebagian besar adalah dengan AS. Malah kekayaan minyak itu sendiri yang kemudian menjadi malapetaka – yang membanjiri hutang luar negeri Venezuela. Akibatnya, industri minyak malah menyandera Venezuela. Apalagi refinery minyaknya tidak dibangun di Venezuela, tetapi di Trinidad dan di negara-negara Teluk AS bagian selatan. Inilah salah satu faktor yang melemahkan industri strategis Venezuela karena industri minyaknya berada di tangan AS.

Ditambah lagi dengan ulah para elit komprador dan oligarkis korup Venezuela yang membiarkan pembangunan dalam negerinya dikendalikan oleh Bank Dunia dan IMF, termasuk kebijakan menjaminkan cadangan minyak serta aset sektor minyak negara sebagai jaminan untuk utang luar. Dengan kata lain, bila pemerintah Venezuela gagal bayar tepat waktu atas hutang luar negerinya, maka pemegang obligasi dan perusahaan minyak utama AS akan berada dalam posisi yang sah untuk mengambil alih kepemilikan aset minyak Venezuela.

Tidaklah mengherankan bila upaya Chavez mereformasi ekonomi Venezuela terutama dengan pendapatan minyaknya untuk membangun infrastruktur dan peningkatan standar hidup, seperti kesehatan, pendidikan, membuka lapangan pekerjaan dan lain-lain serta mendorong produktivas rakyatnya yang miskin tidaklah mudah, dan selalu mendapat gangguan.

Apalagi Chavez belum sepenuhnya mampu mengendalikan korupsi di sektor minyak serta membendung para penjarah kekayaan negara yang memindahkan kekayaannya ke luar negeri sambil melarikan diri. Tidak mengherankan menjadi sukar bila AS yang berada di balik layar dengan menggunakan “trik kotor” untuk menghentikan upaya Chavez menjalankan rerformasi ekonomi yang pro rakyat pribumi.

Hari ini Maduro jelas mengalami kesulitan yang tidak ringan untuk menyelamatkan ekonomi Venezuela tanpa gangguan dari AS. Sebab kebijakan luar negeri Washington masih tetap fokus pada minyak, seperti halnya invasi militer AS ke Irak di bawah rezim Dick Cheney. Sampai hari ini, Venezulea tetap diperlakukan sebagai perpanjangan tangan ekonomi AS, terutama terkait dengan cadangan minyak terbuktinya yang merupakan 20% cadangan minyak dunia.

Dengan menggunakan berbagai trik, seperti menjatuhkan sanksi ekonomi, AS dapat mengunci akses Venezuela ke deposito bank AS dan aset Citco miliknya, bahkan bila Venezuela tidak dapat membayar hutang luar negerinya – AS mempunyai alasan untuk mengambil alih sumber daya minyak Venezuela dan menyita asetnya.

Seperti diketahui, Maduro gagal menarik emas Venezuela dari Bank of England dan Federal Reserve. AS bahkan mempertontonkan arogansinya sekaligus sebagai peringatan kepada negara-negara lain bahwa cadangan emas resmi asing dapat disandera oleh kebijakan luar negeri AS, dan bahkan oleh pengadilan AS.

Serangan ekonomi AS terhadap Venezuela telah menunjukkan kepada negara-negara lain perlunya tempat berlindung dan transaksi yang aman untuk emas, cadangan devisa, dan pembiayaan utang luar negeri yang jauh dari jangkauan sistem ekonomi imperialis-kapitalis AS.

Maduro jika ingin menang melawan perang asimetris yang dilancarkan AS, tampaknya harus bergerak di luar sistem Bank Dunia dan IMF. Mencari dukungan diplomatis dari negara lain untuk mem-bypass sistem keuangan AS – dengan meminta bantuan Cina dan Rusia agar menyediakan mekanisme kliring bank alternatif – sekaligus sebagai tempat penyimpanan yang aman untuk emas Venezuela bila dapat diperoleh kembali dari New York dan London.

Belajar dari kasus Venezuela, ke depan, Rusia, Cina, Iran, dan negara-negara lain tampaknya perlu segera membentuk badan pengadilan internasional baru guna menandingi arogansi AS. Apalagi jika AS tetap menggunakan IMF, Bank Dunia, dan NATO sebagai perpanjangan tangan dari kebijakan luar negerinya. (Agus Setiawan)

Terpopuler