Connect with us

Mancanegara

Tentara AS di Afghanistan Awali Tahun 2018 Dengan Pertempuran, Satu Tewas

Published

on

Satu tentara AS tewas dan 4 lainnya luka-luka dalam sebuah pertempruan di Nangarhar, Afghanistan Timur. Foto: Lucas Jackson/Reuters

NUSANTARANEWS.CO – Di tengah gegap gempita masyarakat dunia merayakan tahun baru 2018, pasukan Amerika Serikat di Afghanistan sedang berjibaku dengan peluru tajam dan bom. Reuters melaporkan, tepat di hari pertama tahun 2018, satu orang tentara AS terbunuh dan empat lainnya luka-luka dalam sebuah pertempuran di Provinsi Nangarhar, Afghanistan Timur.

Pihak militer AS dalam sebuah pernyataannya menyebutkan pertempuran tersebut mengakibatkan tentara Amerika kehilangan nyawanya dan empat lainnya luka-luka serius dalam pertempuran sengit yang berlangsung pada Senin (1/1/2018) di Achin, Provinsi Nangarhar.

“Kami sangat sedih atas kehilangan salah satu dari kami. Pada saat yang sulit ini simpati tulus kami sampaikan kepada keluarga dan kerabat saudara laki-laki kami yang tewas dan terluka,” kata Jenderal John Nicholson.

Dua orang tentara dikabarkan terluka dan sudah dirawat di fasilitas medis serta kondisinya sudah stabil. Dua lainnya telah kembali bertugas.

Nangarhar merupakan sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan Pakistan yang diduga menjadi benteng militan yang umumnya dikenal dengan sebutan Daesh di Afghanistan. Sejak tahun 2015, Daesh ini memiliki kekuatan yang sangat tangguh dan berbahaya.

Daesh dan Taliban adalah dua kelompok militan yang tak sejalan. Sejak Afghanistan digempur AS, kedua kelompok tersebut masing-masing berjuang sendiri-sendiri.

Namun belakangan, AS mengatakan kedua kelompok militan tersebut cenderung sudah bergabung dan bekerjasama untuk melawan tentara AS dan sekutu yang terus menerus beroperasi di Afghanistan.

Kareanya, Pentagon sudah menyusun strategi baru untuk menghadapi para militan tersebut. Salah satu kebijakan yang diputuskan ialah menambah jumlah tentara di Afghanistan. Alhasil, saat ini tentara AS diperkirakan berjumlah 14 ribu. Ini merupakan kebijakan san strategi yang dikeluarkan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Baca Juga:  Ini Nama Tentara AS dan Niger yang Tewas di Sahel

Pasukan AS juga telah diizinkan untuk berpatroli bersama pasukan keamanan pemerintahan Afghanistan di tingkat batalyon, yang sekaligus menempatkan batalyon tersebut pada risiko yang sangat besar karena akan berhadap-hadapan langsung di garis depan pertempuran.

Tahun 2018 ini, seperti diakui Pentagon, tentara AS akan menghadapi perlawanan sangat besar dari para militan di Afghanistan. (red)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler