Connect with us

Budaya / Seni

Sofia, Jangan Lagi Kau Tanyakan Tentang Rindu

Published

on

Sofia, Jangan Lagi Kau Tanyakan Tentang Rindu - Lukisan by Akashay Avsare (Foto: artzolo.com)

Sofia, Jangan Lagi Kau Tanyakan Tentang Rindu – Lukisan by Akashay Avsare (Foto: artzolo.com)

Puisi Nuriman N. Bayan

JALAN YANG LAIN

Tak ada yang tau ketika kau memilih jalan itu
selain bising kenalpot dan darah yang mengalir
membasahi tubuh jalan, tapi langit
ayah dan ibumu hanya gerimis
meski kepergiaanmu, bukan sekadar pergi.

Morotai, 4 April 2018.

 

JANGAN LAGI KAU TANYAKAN TENTANG RINDU

Satu-satunya kata aku rindukan saat ini adalah rindu
selain itu hanyalah bayang-bayang di antara jalan
pergi ke kota-kota atau pulang ke tubuh kenangan
di antara debur ombak mereka menari bergembira
berbahagia seperti anak pinangan. setelah lelah
mereka pulang ke rumah, menyeduh teh manis
sambil mendengarkan ibu bercerita tentang ayah
dari lekuk tubuhnya kita tumbuh dan merdeka
tapi ibu selalu menyimpan keluh. meski peluh
bermusim-musim menyusun sabar. sama halnya orang-orang kecil
yang dinamis menjala waktu. merayakan hari depan di kaki
pantai sungai dan bukit-bukit. hingga waktu tersenyum
dan mereka pulang memenuhi panggilan beduk.

Satu-satunya kata aku rindukan saat ini adalah rindu
selain itu hanya dongeng-dongeng silam. mereka
hadir dari dasi dan basa-basi tanpa spasi
membuat kita dingin dan mabuk. benar-benar mabuk
karena setelah palu diketuk mereka pun raib
sementara harapan menjadi gaib. lalu di televisi
di kolom-kolom bergambar mereka berlaga
seperti wiro sableng, dengan jurus 212: dua tahun
membayar jasa. satu tahun mengganti pakaian
dan sisanya membuntingkan atm. agar ketika musim
akronim tiba mereka kembali. berlomba-lomba ikut audisi
dalam acara umbar janji dan obral wajah- seperti iklan
mereka bertengger di tikungan jalan
dengan kata-kata sok-sok puitis-

Baca Juga:  APBD Minus Terdampak Covid-19, OPD Pemprov Jatim Minta Tambahan Anggaran Sampai Rp 951 M

barangkali kekesalan kemarin belum tunai
ketika di subuh hening hantu-hantu itu datang
mengetuk-ngetuk pintu dengan bahasa paling ajaib
agar mata dan dada mereka dapat ditusuk
tapi sayangnya kita bukan dukun, kekasih. sehingga
segala berjalan seperti kontak jodoh. entah
tusukan kita menembus batin atau tidak
kita tak pernah tahu. sebab konon tanpa itu
kita bukanlah bangsa yang baik. meski pada akhirnya
mereka hanya mencari keuntungan sendiri
karena barangkali. mereka anggap koin-koin di tabungan
berasal dari keringat anjing kucing dan tikus.

Satu-satunya kata aku rindukan saat ini adalah rindu
selain itu hanya kata-kata yang tak pernah puisi
melompat dari mikrofon ke tembok-tembok angkuh
bermusim-musim tak jua digubris. padahal di televisi
dan surat-surat kabar mereka tampil seperti artis
dalam film pocong pakai dasi-

maka jangan lagi kau tanyakan tentang rindu
sebab sungguh, kekasih. tak ada lain selain rindu
ya, rindu kepadamu. kepada janji-janji kecil kita
bahwa kita akan bersama membangun segala
dengan kejujuran. mengerjakan sesuatu
dengan isyarat matahari. sebab kau pernah bilang
pemandangan paling indah adalah senja jatuh di Halmahera
dan kita duduk sambil membacakan mantra tentang Tuhan.

Ternate, 06 Januari 2018

SOFIA DI DODOLA

Setelah ombak pergi
laut sepi-

aku menulis Sofia di Dodola.

awan berarak-arak
melintas di atap Halmahera.

bermahabbahlah
wahai pantai
sejuta rindu—

biar senja di mataku
jatuh ke dada kita

sudah cukup
kita berenang
dalam air mata.

Morotai, 02 Mei 2018

Nuriman N. Bayan atau lebih dikenal dengan Abi N. Bayan lahir di desa Supu Kec. Loloda Utara, Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, pada 14 September 1990. Anak dari Hi. Naser Dano Bayan dan Rasiba Nabiu. Saat ini menjadi Pembina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan Komunitas Penulis Tepi. Buku puisi bersamanya, antara lain: Kita Halmahera, Kitab Puisi Penyair Maluku Utara, Mengunyah Geram, Rumah Seribu Jendela, Ombak Ombak Tepi, Soekarno dan Wong Cilik Dalam Puisi, Senja Langit Jatigede, Negeri Bahari, Senyuman Lembah Ijen, Embun-embun Puisi, Bait Kisah Musim Hujan dan pernah terbit di Majalah Simalaba, Majalah Mutiara Banten serta di beberapa surat kabar (Lampung Post, Bangka Post, Posko Malut, Kabar Harian Madura) juga terpublikasi di beberapa media online. Kini tinggal di Ternate.

Baca Juga:  Orang Itu Berdasi, Mereka Kaum Elit Sedangkan Kita Kaum Sulit

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler