Connect with us

Global

Sistem Pertahanan Rudal Canggih Israel Tak Berdaya Menghadapi Serangan Layang-Layang dan Balon Pejuang Palestina

Published

on

Sistem Pertahahan Iron Dome Israel

NUSANTARANEWS.CO – Serangan layang-layang dan balon gas yang intensif setiap hari dari Gaza telah membuat sakit kepala pemerintah Israel – karena serangan tersebut telah berhasil membakar ribuan hektar ladang-ladang pertanian Israel. Sistem pertahanan anti-rudal Israel yang canggih menjadi tak berdaya menghadapi serangan layang-layang dan balon gas yang diluncurkan oleh anak-anak Palestina.

Rasa frustasi pasukan teroris Israel akhirnya dilampiaskan dengan membantai ratusan pejuang Palestina di sepanjang perbatasan. Pembantaian membabi buta oleh tentara teroris Israel ini tampaknya akan segera menyulut perlawanan yang lebih luas pleh pejuang Palestina – yang memang ditunggu-tunggu oleh Israel sebagai dalih untuk melakukan serangan skala penuh ke Jalur Gaza.

Bulan Juli lalu, Divisi Lapis Baja IDF ke-162 telah mengadakan persiapan serangan ke Jalus Gaza dengan menggelar latihan di perbatasan. Sementara pos komando terdepan IDF telah menyebarkan sistem Pertahanan Rudal Iron Dome yang jelas-jelas tak berguna menghadapi layang-layang dan balon gas Palestina. Di samping itu, IDF juga telah mengerahkan pasukan cadangan untuk memperkuat pertahanan.

Seperti diketahui, Israel telah mengultimatum Hamas untuk menghentikan serangan layang-layang ke wilayah Israel. Tel Aviv telah memberi tenggat waktu sampai minggu ini – jika serangan layang-layang tidak berhenti pada minggu ini, militer Israel akan menyerang Jalur Gaza, seperti yang dikutip The Times of Israel.

“Israel memberi Hamas tenggat waktu hingga hari Jum’at untuk menghentikan serangan layang-layang dan balon gasnya – jika tidak, Israel akan mengerahkan serangan militer berskala besar.”

Israel mengirim pesan langsung ke Hamas melalui dinas intelijen Mesir. Hamas sendiri mengatakan bahwa mereka siap menghadapi dan menghentikan serangan teroris Israel, kata Hamas pada hari Jumat.

Pada hari Selasa, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang datang meninjau persiapan Divisi Gaza IDF, mengatakan bahwa Israel telah siap untuk menjalankan operasi militer skala penuh.

Pernyataan Netanyahu tersebut bersamaan dengan sindiran Parlemen Israel, Knesset, yang mengungkapkan ketidakmampunan perdana menteri dan menteri pertahanan untuk berperang. Kneset kemudian mengadopsi Undang-undang baru pada hari Selasa yang mendelegasikan kekuasaan pernyataan perang kepada Kabinet Keamanan – sebuah badan yang terdiri dari beberapa pejabat, termasuk menteri luar negeri dan keuangan. (Banyu)

Advertisement

Terpopuler