Connect with us

Global

Selamat Ulang Tahun ASEAN: Menuju Century Asia 2050

Published

on

asean, ulang tahun asean, hut asen, kelahiran asean, century of asia, visi asean, negara asean, komitmen asen, stabilitas asean, konflik asean, kepentingan asean, kekompakan asean, kebangkitan asia, nusantaranews

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO – Masa depan dunia adalah Asia (Century Asia). Di sektor ekonomi, Asia telah menjadi kekuatan sentral dalam perekonomian global. Ini merupakan kali pertama sejak awal abad ke-16 konsentrasi kekuasaan ekonomi global terbesar bergeser ke kawasan Asia.

Menurut Peneliti Kebijakan Lingkungan dari Institute of Strategic and International Studies Malaysia, Adnan Hezri, Century Asia ini dapat mencapai setengah dari output global, melalui perdagangan dan investasi pada tahun 2050 mendatang.

Hari ini, 8 Agustus Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) memperingati hari kelahirannya ke-51 sejak didirikan pada 8 Agustus 1967 di Bangkok.

Memasuki usia yang sudah lebih separuh abad, ASEAN telah mengalami kemajuan yang luar biasa dalam menjaga stabilitas kedamaian dan kemakmuran yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Kerjasama antar negara ASEAN ternyata mampu menjaga stabilitas kawasan dengan baik pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, mengimbangi kepentingan strategis AS, US dan Cina di Asia Tenggara. Sampai berakhirnya Perang Dingin kondisi kawasan Asia Tenggara relatif stabil tidak sampai meletus konflik bersenjata.

Patut diingat, Asia Tenggara adalah sebuah kawasan yang boleh dibilang paling beragam di dunia. Dihuni sekitar 640 juta jiwa yang terdiri dari 240 juta muslim, 150 juta Budha, 120 juta Kristen, serta jutaan umat Hindu, Konghucu dan Komunis.

BACA JUGA:

Selain itu, patut diingat pula bahwa sejarawan Inggris C.A Fisher pernah menggambarkan Asia Tenggara rawan konflik. Apalagi pengaruh komunis mulai menampilkan diri sehingga lima negara non-komunis seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand diperkirakan akan jatuh dalam efek domino komunisme.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa keberhasilan ASEAN ini berkat kepemimpinan yang kuat Presiden Soeharto yang mampu menggandeng Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad, Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew, Presiden Filipina Ferdinand Marcos dan Raja Thailand Bhumibol Adulyadej, untuk membendung pengaruh Komunisme di kawasan Asia Tenggara di tengah berkecamuknya Perang Dingin (Cold War) antara AS dan US (Uni Soviet).

Menurut Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi ada tiga hal yang mendasari ASEAN bisa solid. Pertama, melalui ASEAN Way, telah tumbuh budaya dialog, konsensus, inklusivitas, serta penyelesaian damai atas dasar penghormatan pada kedaulatan dan keutuhan wilayah.

Kedua, dari kultur dialog tumbuh kemampuan untuk mengembangkan institusi dan prinsip-prinsip seperti Zone of Peace, Freedom and Neutrality (ZOPFAN), Treaty of Amity and Cooperation, ASEAN Charter hingga terbentuknya Komunitas ASEAN.

Ketiga, ASEAN memberikan platform bagi negara-negara mitranya, termasuk kekuatan besar dunia, untuk dapat bertemu secara rutin.

Sampai hari ini, total Gross Domestic Product (GDP) seluruh ekonomi negara anggota ASEAN adalah US$ 2,7 triliun. ASEAN diprediksi bakal menjadi kekuatan ekonomi keempat dunia pada 2050, di mana GDP-nya mencapai US$ 8,1 triliun setelah Tiongkok di peringkat pertama, India, dan Uni Eropa.

Namun dewasa ini ASEAN menghadapi tantangan yang lebih serius, terutama perselisihan teritorial di Laut Cina Selatan yang menciptakan ketegangan di kawasan, serta persaingan geopolitik yang semakin ketat antara AS dan China yang menimbulkan ancaman lebih lanjut terhadap kesatuan ASEAN.

BACA JUGA:

Laut China Selatan menjadi isu yang paling disorot oleh negara-negara ASEAN. Pada KTT Menlu negara Asia Tenggara tahun 2017 lalu kesepuluh anggota ASEAN dilaporkan berbeda pendapat tentang bagaimana cara menghadapi sikap ambisius Tiongkok yang hendak menguasai secara penuh Laut Cina Selatan, di mana negara komunis itu sangat gencar membangun pulau buatan dan mengirimkan militernya ke laut yang disengketakan tersebut. Belum ada konsesus bersama apakah ASEAN akan memperkuat hubungan dengan Cina atau memprioritaskan hubungan dengan AS.

Retno Marsudi menyebut, ASEAN masih menghadapi tiga tantangan utama di antaranya bagaimana mengatasi persaingan geopolitik negara-negara besar, kejahatan lintas negara termasuk terorisme, serta menjaga keutuhan dan sentralitas ASEAN.

Kendati ada gejolak, kawasan Asia Tenggara relatif stabil bila dibandingkan dengan kawasan Timur Tengah yang hingga hari ini belum menemukan solusi damai. Bahkan mulai membawa konflik bersenjata ke luar kawasan. Kasus teror ISIS di Marawi merupakan contoh paling aktual.

Sekali lagi ASEAN telah menunjukkan ketangguhannya yang mengesankan dalam menghadapi berbagai hantaman krisis dengan unik. Terutama berakar pada budaya musyawarah dan mufakat (konsultasi dan konsensus) yang ditanamkan oleh Indonesia. Bandingkan dengan Dewan Kerjasama Teluk atau Asosiasi Kerjasama Regional Asia Selatan dan Uni Afrika.

Memang, ASEAN belum mampu mensejahterakan penduduknya. Namun ASEAN terus melangkah maju dengan modal stabilitas yang tampaknya sangat mahal dewasa ini. Terbukti dengan gabungan PDB telah tumbuh dari US$ 95 miliar pada tahun 1970 kini menjadi US$ 2,7 triliun. Ini menjadi platform yang menarik bagi keterlibatan geopolitik di kawasan Asia Tenggara. Tidak mengherankan bila penyelenggaraan pertemuan internasional selalu dihadiri oleh semua kekuatan besar dunia seperti AS, Uni Eropa, Cina dan Rusia.

Zaman bergerak, tantangan juga berubah. Kesadaran akan perubahan bentuk ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan suka tidak suka mendorong para pemangku kepentingan ASEAN untuk merumuskan strategi yang lebih jitu dalam mengukuhkan simpul kerja sama yang sudah mereka jalin. Terlebih di tengah-tengah arus globalisasi gelombang ketiga yang kini mulai melanda dunia, termasuk ASEAN.

Karenanya dengan ditetapkannya Visi ASEAN 2020 yang ditopang oleh tiga pilar yakni Masyarakat Ekonomi, Masyarakat Politik dan Keamanan, serta Masyarakat Sosial dan Budaya, ASEAN tetap mampu menjaga komitmennya agar tak digilas oleh globalisasi gelombang ketiga yang penuh dengan ketidakpastian.

Selamat ulang tahun ASEAN!

Editor: Eriec Dieda (dari berbagai sumber)

Komentar

Advertisement

Terpopuler