Peta geopolitik Indonesia. Foto: Wikimedia
Peta geopolitik Indonesia. Foto: Wikimedia

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Iran disebut contoh paling aktual untuk model pemberdayaan geopolitik sehingga diperhitungkan di panggung global. Dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, Iran mampu mengoptimalkan peran geopolitik dalam perpolitikan internasional.

“Setidak-tidaknya ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Ahmadinejad dalam psywar dengan Amerika Serikat (AS) beberapa tahun lalu, telah menimbulkan kekhawatiran para adidaya dunia, terutama bagi negara-negara yang sangat tergantung -jalur energinya -dari selat tersebut. Ini cuma sekilas contoh, betapa dahsyat pemanfaatan geopolitik suatu negara bila dikelola secara baik, bahkan dapat dijadikan geopolitic weapon, senjata geopolitik,” kata pemerhati geopolitik dari Global Future Institute (GFI) Arief Pranoto seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (5/12/2017).

“Seandainya kita menutup Selat Lombok atau Selat Sunda dengan alasan kepentingan nasional terganggu, atau berdalih untuk latihan gabungan TNI-Polri dalam rangka memerangi illegal fising ataupun terorisme misalnya apakah China, Australia, New Zealand, Jepang, dan lain-lain tidak bakal terkencing-kencing?,” lanjutnya.

Arief mengatakan, dari perspektif global Indonesia memiliki geopolitik strategis dalam interaksi di dunia internasional. Buktinya apa? Letak posisi geografinya di antara dua samudera (Lautan Hindia-Lautan Pasifik) dan dua benua (Asia-Australia) adalah peluang besar atau berdaya tawar tinggi atas peran yang seharusnya diberdayakan di panggung global.

“Juga memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) beraneka ragam lagi melimpah ruah, kita dilintasi pula oleh Sealane of Communications (SLOCs), yaitu jalur pelayaran barang dan jasa terutama tanker-tanker minyak dunia yang tak pernah sepi melintas di perairan Indonesia,” papar Arief.

Direktur Program Studi Geopolitik dan Kawasan GFi ini mengatakan bahwa selama bertahun-tahun bangsa ini seperti tak mampu mengelola secara tepat dan benar, baik mengelola letak kestrategisan geoposisi maupun kekayaan SDA yang dimiliki. “Kita kaya SDA namun hampir 80-an persen dinikmati oleh asing. Indonesia mempunyai 4 selat strategis dari 7 selat strategis yang ada di dunia, tetapi tak punya daya tawar di mata negara tetangga,” jelasnya.

Arief mengatakan, seandainya para elit dan pengambil kebijakan di republik ini membuat dan menerapkan aturan, melalui Tap MPR atau paling rendah UU, untuk kapal-kapal yang melintas di perairan Indonesia diwajibkan membayar dengan menggunakan rupiah, maka selain menambah devisa negara, juga niscaya rupiah tidak bakal melemah.

“Bank Indonesia tak perlu intervensi terus, karena rupiah dicari banyak negara yang berkepentingan melintas di Indonesia,” ucapnya. (red)

Editor: Eriec Dieda

Komentar