Connect with us

Mancanegara

Rencana Kanada Hentikan Penjualan Senjata ke Arab Saudi Terganjal

Published

on

penjualan senjata, ekspor senjata, senjata kanada, pertahanan kanada, kanada-arab saudi, perdana menteri kanada, justin trudeau, senjata arab saudi, perang yaman, jamal khashoggi, lav 6, lav, lav III, tank lapis baja, nusantaranews, tank tempur lapis baja

Light-armored vehicles atau LAV-25. (Foto: Wikimedia Commons)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Berbagai upaya negara-negara di dunia menghentikan sementara penjualan senjata ke Arab Saudi. Salah satunya Kanada.

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau tengah berupaya meninjau kembali kesepakatan senjata senilai 13 miliar dolar dengan Arab Saudi. Ini merupakan sikap protes Trudeau atas dugaan pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi dan perang di Yaman yang terus berlanjut.

Seperti diketahui, Jamal Khashoggi merupakan wartawan veteran Saudi, kolumnis Washington Post, penulis dan mantan pemimpin redaksi Al Arab News Chnanel. Ia dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu. Sementara itu, Perang Yaman dimulai sejak 22 Maret 2015 silam, di mana Arab Saudi bertindak sebagai pemimpin pasukan koalisi dan didukung penuh Amerika Serikat.

Baca juga: Seruan Amnesty International: Hentikan Pengiriman Senjata Kepada Koalisi Saudi dan UEA!

Baca juga: Koalisi Pimpinan Arab Saudi Masuk Daftar Hitam PBB Selama Perang di Yaman

Menurut laporan Amnesty International, dalam tiga tahun terakhir sudah ratusan ribu korban telah berjatuhan di Yaman akibat perang yang dilancarkan koalisi Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Namun, masih ada lebih dari 22 rakyat Yaman yang berjuang untuk bertahan hidup di bawah serangan udara dan tembakan senjata.

Kondisi itu mendapat perhatian serius dari pemerintah Kanada. Trudeau berkomitmen turut serta mendukung penghentian pembantaian rakyat Yaman oleh koalisi Saudi. Beberapa negara lain telah menyatakan penghentian sementara jual-beli senjata dengan kedua negara Timru Tengah tersebut di antaranya Jerman, Belanda dan Norwegia.

Sedangkan 5 eksportir senjata yang masih memasok ke Saudi dan UEA ialah AS, Inggris, Perancis, Spanyol, Kanada dan beberapa negara lainnya.

Baca Juga:  Jaga Stabilitas Harga Saat Natal dan Tahun Baru, DPRD Jatim Minta Pemprov Pantau Harga Sembako

Organisasi Amnesty International kemudian mengkampanyekan secara global agar negara-negara yang terlibat jual-beli senjata dengan Arab Saudi dan UEA segera dihentikan.

Baca juga: Ibarat Quick Count, Media Mainstream Barat Telah Menjadi Referensi Pembenaran Kejahatan Perang Yaman

Baca juga: AS Pemasok Senjata Terbesar Dalam Perang Yaman

Menyadari hal itu, Trudeau tengah berupaya membatalkan kesepakatan senjata 13 miliar dengan Arab Saudi. “Aksi pembunuhan seorang wartawan benar-benar tidak dapat diterima. Kanada menuntut jawaban dan solusi atas permasalahan itu,” katanya dikutip CTV Sunday.

Pada 2015 silam, mantan Perdana Menteri Kanada, Stephen Harper meneken kesepakatan untuk mengekspor tank pengintai lapis baja (light-armored vehicles atau LAV-25) ke Arab Saudi.

“Kami memang terlibat ekspor dan tengah mencoba serta melihat kembali apakah ada cara untuk tidak lagi mengekspor kendaraan (tempur) ini ke Arab Saudi,” kata Trudeau.

Pada 2014, Kanada telah memasok 928 kendaraan pengangkut personel lapis baja, LAV 6 (LAV III) ke Arab Saudi yang diproduksi General Dynamics, kontraktor pertahanan terbesar keenam di dunia.

Namun, rencana pembatalan pemasokan LAV terbaru ke Arab Saudi terganjal kesepakatan kontrak antara pemerintahan Kanada dan General Dynamics Land Systems. Sesuai kesepakatan, jika Trudeau membatalkan kontrak tersebut secara sepihak maka Ottawa harus membayar 747 miliar dolar.

“Jika Kanada mengakhiri kontrak secara sepihak, Kanada akan menanggung miliaran dolar dari kewajiban untuk General Dynamics Land Systems,” kata perusahaan itu dikutip Globe and Mail yang bermarkas di Toronto.

(eda/mj)

Editor: Almeiji Santoso

Loading...

Terpopuler