Connect with us

Hukum

Profil Willie Sebastian Terungkap, Granad dan Felix Dinilai Sudah di Luar Batas Etika Kesopanan

Published

on

profil willie sebastian, willie sebastian, uu keistimewaan diy, terungkap, granad, felix juanardo winata, batas etika kesopanan, nusantaranews

Aksi mendukung Keistimewaan DIY. (Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Tokoh asal Yogyakarta, Roy Suryo mengaku dirinya harus bersikap tergas terhadap Felix Juanardo Winata dan kelompok Granad yang berusaha menggugat UU Keistimewaan DIY.

UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan keistimewaan ke Yogyakarta untuk mengelola tanahnya sendiri. WNI keturunan China, Felix Juanardo Winata yang juga mahasiswa FH UGM itu menggugat UU tersebut ke Mahkamah Konstitusi (MK). Aksi Felix sepertinya mendapat dukungan dari Gerakan Anak Negeri Antidiskriminasi (Granad) yang diketuai Willie Sebastian.

“Sebagai orang asli Ngayogyakarta Hadiningrat, saya harus bersikap tegas, meski tetap njawani. Kelakuan Felix Juanardo Winata, ditambah dengan tantangan kelompok Granad wis jan ora umpan papan alias sudah di luar batas etika kesopanan,” ujar Roy kepada redaksi di Jakarta, Sabtu (23/11/2019).

Baca juga: Keistimewaan DIY Digugat Warga Tionghoa, Roy Suryo: Jogja Ora Didol!

“Saya juga mendukung statemen GKR Hemas, Permaisuri Sri Sultan HB X, Anggota DPD Dapil DIY yang secara tegas juga melawan kelakuan-kelakuan orang-orang yang tidak mengerti sejarah di Jogja ini, maka saya katakan jangan gentar Bu GKR Hemas, saya 1000% mendukung anda,” tambah Roy.

Harap diingat, kata dia, ini bukan soal etnis apalagi rasis seperti provokasi Felix dan Granad. “Jangan belah rakyat seperti si hoAk (tahu kan maksudnya siapa?) Bagi kami-kami di Ngayogyakarta Hadiningrat inilah Sabda Pandhita Ratu Dwi-Tunggal HB-PA dan menjaga UUK DIY. Jas Merah, kata Bung Karno,” ucap Roy.

Soal tantangan pembuktian pribumi dan non pribumi seperti dilakukan Granad, Roy menuturkan alih-alih untuk membela Felix, tindakan tersebut justru bersifat hendak membelah Indonesia.

Baca Juga:  Islam, Radikalisme dan Masa Depan Bangsa

“Makanya saya menyerukan warga asli Jogja untuk, jawab tegas tantangan Willie Sebastian, Ketua Granad dan Felix tersebut. Mereka harus buktikan dulu nama lahir (akte) -nya, TTL, Papah/Bapak hingga Engkong/Eyang -nya. Mereka jangan cuman asal bunyi dan berani menggelar jumpa pers tanpa bukti,” cetus politisi Partai Demokrat ini.

“Kalau dalam bahasa Betawi, lu jual gua beli. Semua ada data digitalnya, terlampir bukti forensik data-data dari Felix dan Willie Sebastian tersebut yang tercantum nama asli saat lahir, siapa-siapa orang tuanya dan lain sebagainya,” pungkasnya.

Sekadar tambahan, dari akta kelahiran, Willie Sebastian namanya tercatat Li Chuan Shien. Ia lahir pada 1950. Ayahnya tiba dari daratan Tiongkok sebelum masa kemerdekaan. Sementara ibunya perempuan peranakan Tionghoa yang moyangnya sudah kawin-mawin dengan orang Jawa sejak kolonialisme Belanda bercokol kuat di nusantara.

Pasca kudeta politik 1965, pemerintah Orde Baru mewajibkan warga keturunan Tionghoa mengindonesiakan namanya. Li Chuan Shien lalu mengganti namanya menjadi Willie Sebastian. (eda)

Editor: Eriec Dieda

Loading...

Terpopuler