Connect with us

Global

Pengamat: Sebagai Leader ASEAN, 2019-2020 Indonesia Berpeluang Menjadi Penjaga Perdamaian Dunia

Published

on

Peta ASEAN (ASEAN MAP). (Foto: Istimewa/Ilustrasi)

Peta ASEAN (ASEAN MAP). (Foto: Istimewa/Ilustrasi)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara atau Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) tepat pada 8 Agustus memasuki usianya yang ke-51 tahun sejak didirikan pada pada 8 Agustus 1967 di Bangkok. Memasuki usia yang sudah lebih separuh abad, ASEAN telah mengalami kemajuan yang luar biasa dalam menjaga stabilitas kedamaian dan kemakmuran yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Patut diingat, Asia Tenggara adalah sebuah kawasan yang boleh dibilang paling beragam di dunia. Dihuni sekitar 640 juta jiwa yang terdiri dari 240 juta muslim, 150 juta Budha, 120 juta Kristen, serta jutaan umat Hindu, Konghucu dan Komunis. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan ASEAN ini berkat peran besar Indonesia.

Baca juga: Tiga Alasan Mengapa ASEAN Solid

Namun dewasa ini, ASEAN menghadapi tantangan yang lebih serius, terutama perselisihan teritorial di Laut Cina Selatan yang menciptakan ketegangan di kawasan, serta persaingan geopolitik yang semakin ketat antara AS dan China yang menimbulkan ancaman lebih lanjut terhadap kesatuan ASEAN.

Pengamat Pertahanan Susaningtyas Kertopati mengatakan, sebagai anggota tidak tetap DK PBB, maka Indonesia sebagai ASEAN leader dapat memperkokoh jejaring dengan berbagai negara dan organisasi internasional yang menangani global security.

“Selain hard power dan soft power, Indonesia juga dapat mengoptimalkan smart power,” kata dia kepada redaksi, Jakarta, Kamis (9/8/2018).

Baca juga: KTT ASEAN-India, Pengamat: Indonesia Harus Jadi Penghubung Samudera Hindia dan Pasifik

Pengamat yang akrab disapa Nuning ini menuturkan, smart power Indonesia dapat dijabarkan ke dalam berbagai program aksi ASEAN Political-Security Community (APSC) untuk mewujudkan perdamaian di berbagai belahan dunia yang dilanda konflik.

“Periode 2019-2020 dapat menjadi peluang Indonesia menjadi global player yang sesungguhnya sebagai penjaga perdamaian dunia,” ujarnya.

Nuning menambahkan, smart power dapat ditunjukkan dengan memberi kesempatan beberapa Perwira Tinggi TNI untuk menjadi komandan misi PBB, seperti Perwira Tinggi TNI AL berbintang tiga sebagai Komandan Maritim Misi PBB di Libanon (UNIFIL Maritime Task Force Commander).

Baca juga: Latihan Gabungan Angkatan Laut ASEAN Pertama di Thailand

“Promosi jabatan tersebut juga sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia untuk berperan aktif menjaga perdamaian di Timur Tengah,” pungkasnya. (bya/erc/red)

Editor: Eriec Dieda

Advertisement

Terpopuler