Patung di Tuban Tuai Protes Keras, Zulkifli: Saya Hanya Diminta Hadir

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ribut-ribut soal pembangunan dan peresmian Patung Jenderal China Kongco Kwan Sing Tee Koen di Tuban, Jawa Timur membuat Ketua MPR Zulkifli Hasan angkat bicara. Zulkifli diketahui turut serta meresmikan patung 30,4 meter tertinggi se-Asia Tenggara di Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban itu. Karena mendapatkan rekor MURI, Zulkifli pun menyambut positif.

Dalam sambutannya, Zulkifli berucap bahwa Kongco Kwan Sing Tee Koen mewariskan kesetiaan, kejujuran dalam membela negara. Sehingga dirinya mengatakan sifat-sifat tersebut sangat penting diteladani dalam kegiatan bernegara.

Belakangan, pendirian patung Jenderal China itu menuai protes. Pasalnya, Kongco Kwan Sing Tee Koen tidak ada ikatan sejarah dan peradaban dengan bangsa Indonesia. Lagi pula, Kongco Kwan Sing Tee Koen bukanlah pahlawan Indonesia. Dan menjadikan patung itu sebagai ikon Indonesia (Tuban) tentunya bukan ide yang cerdas. Bukankah pahlawan Indonesia banyak, bahkan lebih hebat dari Kongco Kwan Sing Tee Koen?

Zulkifli berkilah, dirinya menghadiri peresmian patung Kongco Kwan Sing Tee Koen karena memang diminta untuk hadir dalam peringatan ulang tahun Kwan Sing Tee Koen ke 1857.

“Terima kasih untuk banyaknya konfirmasinya mengenai Patung yang berdiri di Tuban dan kehadiran saya di sana saudaraku. Sebagai Ketua MPR, saya diminta untuk hadir dalam peringatan ulang tahun Kwan Sing Tee Koen ke 1857. Undangan ini saya penuhi dengan itikad baik, persaudaraan,” demikian klarifikasi Zulkifli yang tersebar berantai di grup-grup Whatsapp seperti dikutip redaksi, Jakarta, Rabu (2/8).

Baca: Patung Kwan Sing Tee Koen, Distorsi Simbolik Sejarah Indonesia

Zulkifli menegaskan, harus digaris-bawahi bahwa izin mendirikan patung, berapa tinggi dan besarnya bukan wewenang Ketua MPR.

Baca Juga:  Patung Jenderal Perang Cina di Tuban, Simbol Kekalahan Ranggalawe Abad 21

“Saya datang dalam rangkaian acara peringatan ulang tahun/memorial, bukan mengizinkan pendirian patung,” kata politisi PAN itu.

Dikatakannya lebih lanjut, kewajiban Ketua MPR adalah menjaga kebhinnekaan, merawat keberagaman dan mengayomi semua golongan, termasuk kelompok Tionghoa di Tuban. “Kita semua adalah saudara sebangsa,” tukasnya.

Baca: Ilegal, Patung Jenderal Perang Cina Akan Dirobohkan

Sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari pihak Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban terkait motif didirikannya patung raksasa itu. Namun di berbagai lini masa tak sedikit kecaman dan kritikan muncul. Bahkan, sudah beredar adanya rencana untuk melakukan aksi pembongkaran. Sebab, patung itu dinilai tak pantas berdiri di wilayah kedaulatan NKRI. Dan jika dibiarkan, tak menutup kemungkinan akan mendistori sejarah dan peradaban bangsa Indonesia. Apakah Ketua MPR tidak memikirkan dan mempertimbangkan hal-hal substansial itu sebelum akhirnya memutuskan ikut serta meresmikan berdirinya patung Kwan Sing Tee Koen? (ed)

Editor: Eriec Dieda