Mimpi Meikarta dan Iklan Pembangkit Hasrat Memiliki

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Bising kendaraan sepanjang jalan raya mendendang-dendang gendang telinga. Polusi udara membaluti wajah tegang oleh tugas-tugas kantor dan daftar keinginan. Lalu keinginan dan impian seolah menabrak badan lemas dari depan. Impian yang meledek fitrah kemanusiaan masyarakat urban.

Tetapi, sebising apapun, semacet apapun, dan sekotor apapun udara Jakarta, toh orang-orang tetap bertahan demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk masa depan yang lebih baik dan bermartabat? Demikianlah potret masyarakat urban di kota metropolitan, kota Ibu Negara Republik Indonesia.

Lalu, adakah jalan keluar? Jalan untuk tetap mempertahankan status pengumpul uang tanpa kehilangan jauh dari Jakarta? Lippo Grup menjawab dengan pembangunan kota raksasa yang diberi nama “Meikarta”. Ya, Meikarta yang tengah menjadi pergunjingan banyak orang.

Meikarta dibicarakan karena menawarkan banyak fasilitas pendukung kebutuhan hidup masyakat Urban. Meikarta dibicarakan karena lokasinya yang strategis alias tidak terlalu dengan Jakarta, apalagi ada kereta yang bisa digunakan sebagai alat transportasi menuju tempat kerja di pusat.

Pun demikian, Meikarta diperbincangkan lantaran diinisiasi oleh James Riady yang disebut-sebut sebagai salah satu dari sembilan Naga alias pengusasa kelas kakap raksasa yang kerjaan bisnisnya dimana-mana. Selain itu, pembangunan Meikarta disebut-sebut belum mengantongi izin. Jika benar, mengapa pembangunan terus berlangsung? Unik dan Ajaib!

Selanjutnya, ada benarnya pernyataan Hersubeno Arief dalam tulisannya “Menjual Mimpi Kota Meikarta” bahwa, siapapun Anda orangnya, punya duit atau tidak, kalau Anda tergolong orang yang masih normal, pasti tergiur untuk membeli apartemen di Kota Meikarta. Apalagi bagi warga Jakarta dan belum punya tempat tinggal. Yang sudah punya pun, pasti tergiur.

“Iklan-iklan Kota Meikarta yang bertebaran di media massa, terutama di televisi, sungguh menggoda. Salah satu iklannya menggambarkan bagaimana frustrasinya warga di sebuah kota besar yang muram (Jakarta), terjebak kemacetan gila-gilaan. Pemukiman padat dan kumuh, banjir, polusi dan ancaman keamanan,” jelas Hersobeno Arief.

Baca Juga:  Seperti Laron, Orang-Orang Berbondong Menuju Kota Raksasa Meikarta

Ia menyampaikan, lewat seorang bocah perempuan di dalam sebuah mobil, kita disuguhi sebuah kontras. Setelah melewati terowongan, tiba-tiba muncul sebuah kota yang sungguh indah, tertata, tidak ada kemacetan, karena tersedia transportasi publik berupa kereta layang ringan (LRT).

Meikarta, kata dia, adalah sebuah kota impian, fasilitas modern, high tech, wajah-wajah penghuni terlihat sangat bahagia. Yang lebih menggoda lagi, ketika anak-anak pulang dari sekolah atau bermain, kedua orang tuanya ada di rumah. Dengan kecanggihan teknologi, mereka cukup bekerja di rumah.

“Iklan berdurasi 60 detik dengan judul “Aku ingin pindah ke Meikarta” itu, benar-benar disiapkan sebagai sebuah strategi pemasaran yang bisa menghipnotis alam bawah sadar kita, terutama warga Jakarta,” kata dia.

Menurutnya, iklan itu adalah gambaran nyata kehidupan sehari-hari di Jakarta yang telah didramatisir. Jika hanya dalam beberapa menit –dengan asumsi kereta api cepat Jakarta-Bandung jadi dibangun– ada sebuah kota “impian” seperti itu, mengapa pula kita tidak segera bergegas untuk pindah.

Ditambahkan Arief, banyak nitizen yang membandingkan iklan Meikarta seperti film Hollywood berjudul Elysium (2013). Film yang dibintangi aktor Matt Damon itu menggambarkan setting bumi pada tahun 2154 yang tidak lagi mampu menampung ledakan populasinya.

“Peperangan, polusi udara yang tinggi, penyakit, kemiskinan, kejahatan jadi warna keseharian,” tegasnya.

Penulis/Editor: Ach. Sulaiman