Connect with us

Mancanegara

Menlu Retno dan PM India Sambangi Myanmar dan Bangladesh

Published

on

Seorang gadis tampak sedang menggendong bayi di pengungsian korban Rohingya/Foto Istimewa

NUSANTARANEWS.CO, Dhaka – Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi tengah berada di Myanmar untuk mengadakan pertemuan dengan pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi. PM India, Narendra Modi juga dijadwalkan bertemu dengan Suu Kyi guna membahas krisis kemanusiaan di Rakhine State yang melibatkan etnis Rohingya.

Sepekan terakhir, Myanmar mendapat tekanan dari negara-negara dengan populasi Muslim besar termasuk Bangladesh, Indonesia dan Pakistan yang menyerukan penghentian kekerasan terhadap Muslim Rohingya setelah hampir 125 ribu mereka melarikan diri ke Bangladesh.

Menlu Retno pada Senin (4/9) bertemu dengan pemenang Hadiah Nobel Perdamaian dan Kepala Militer Myanmar Min Aung Hlaing untuk meminta Myanmar menghentikan pertumpahan darah. Menlu Retno dijadwalkan berada di ibukota Bangladesh, Dhaka pada Selasa (5/9).

“Pihak keamanan harus segera menghentikan segala bentuk kekerasan di sana dan memberikan bantuan kemanusiaan dan bantuan pembangunan untuk jangka pendek dan panjang,” kata Retno setelah pertemuannya di ibukota Myanmar seperti dikutip Reuters.

Kekerasan terakhir di negara bagian Rakhine di barat laut Myanmar dimulai pada 25 Agustus, ketika gerilyawan Rohingya menyerang puluhan pos polisi dan sebuah pangkalan militer. Bentrokan berikutnya dan serangan balik militer telah menewaskan setidaknya 400 orang dan memicu eksodus penduduk desa ke Bangladesh.

Loading...

Perlakuan Myanmar yang mayoritas beragama Buddha terhadap sekitar 1,1 juta Muslim Rohingya adalah tantangan terbesar yang dihadapi Suu Kyi, yang telah dituduh oleh kritikus Barat karena tidak berbicara mengenai minoritas yang telah lama mengeluhkan tindakan penganiayaan dan kekerasan.

Myanmar sendiri berkukuh bahwa operasi militernya di Rakhine State sah karena memerangi teroris yang bertanggung jawab atas serangkaian serangan terhadap pos polisi dan tentara sejak Oktober silam. Pejabat Myanmar menyalahkan militan Rohingya atas pembakaran rumah dan kematian warga sipil.

Baca Juga:  Tragedi Rohingya, Kapitra: Ini Bukan Kekecewaan Religius, Tapi Kemanusiaan

Namun, pemerhati hak etnis Rohingya yang melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh mengatakan bahwa tentara Myanmar berusaha memaksa Rohingya pergi dengan sebuah kampanye pembakaran dan pembunuhan.

“Indonesia memimpin dalam hal ini dan akhirnya ada kemungkinan negara-negara ASEAN bergabung,” kata penasihat politik Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina.

Myanmar juga diingatkan bahwa mereka adalah salah satu dari 10 negara yang tergabung dalam komunitas ASEAN. “Jika kita bisa menekan Myanmar dari ASEAN, dari India juga, itu akan bagus,” katanya.

Sementara itu, Perdana Menteri India Narendra Modi memulai kunjungan ke Myanmar pada hari Selasa. Modi akan bertemu dengan pejabat tinggi, termasuk Suu Kyi.

“PM Modi berkunjung ke sana dan sekretaris luar negeri kami sudah memberi tahu sekretaris asing India mengenai hal ini. Jika hati nurani internasional terbangun maka hal itu akan menekan Myanmar, ” kata HT. Imam.

Perkiraan terakhir jumlah orang yang telah melintasi perbatasan ke Bangladesh sejak 25 Agustus, berdasarkan perhitungan petugas PBB di Banglades, adalah 123.600 orang. Sejak Oktober, sedikitnya ada sekitar 210 ribu orang Rohingya mencari perlindungan di Bangladesh. Dan serangan terbaru telah mengirim sekitar 87 ribu orang ke Bangladesh. Dan para pengungsi terbaru ini banyak yang dalam keadaan sakit dan terluka karena luka bakar atau terkena peluru.

Menteri Luar Negeri Pakistan Khawaja Muhammad Asif menyatakan kesedihan mendalam atas kekerasan yang terus berlanjut terhadap Muslim Rohingya dan mendesak Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengambil tindakan segera dan efektif untuk mengakhiri semua pelanggaran hak asasi manusia terhadap populasi Muslim Rohingya yang tidak berdosa dan tidak bersenjata.

Pakistan adalah rumah besar bagi komunitas Rohingya. Malala Yousafzai, pemenang termuda Hadiah Nobel Perdamaian, pada hari Senin meminta Suu Kyi untuk mengutuk perlakuan yang memalukan terhadap Rohingya, dengan mengatakan bahwa dunia sedang menunggu agar dia dapat berbicara. (ed)

Baca Juga:  Mahkamah Kejahatan Internasional Diminta Tegakkan Keadilan atas Etnis Rohingya

(Editor: Eriec Dieda)

Loading...

Terpopuler