Connect with us

Budaya / Seni

Lelaki yang Meraba Kabut Sebelum Mendung Turun di Barat

Published

on

Lelaki yang Meraba Kabut Sebelum Mendung Turun di Barat. (FOTO: NUSANTARANEWS.CO/Ilustrasi: Neo-Surrealism)

Puisi Nuriman N. Bayan

LELAKI YANG MERABA KABUT SEBELUM MENDUNG TURUN DI BARAT

Kau pergi meraba kabut sebelum mendung turun di barat. bersama sebongkah harapan di atas mimpi mimpi yang unggun. aku mendoakanmu tapi tak serupa doa mama yang syahdu. pada pagi yang basah tiba tiba aku kehilangan peta. di antara warna kabut yang turun menyelimuti langit galela, angin mengirimkan kata kata ke jantung dodola. seperti sepuluh pisau menikam dadaku. risau dan cemas beradu seperti dua darah yang berperang pada tahun-tahun yang silam. air mata berloncatan seperti anak panah di musim yang rusuh. aku menatap pagi yang dingin seperti menatap ombak membanting di pantai kesekian. sungguh, ini pagi yang pedih bagi ibu yang kehilangan lelakinya. sungguh, ini pagi yang dingin bagi kakak yang kehilangan adiknya. sungguh, ini hari yang benar benar yatim, bulan yang benar-benar piatu bagi doa yang kehilangan harapannya.

Morotai, 31 Maret 2018.

DI JANTUNG BUMI MORO

Di jantung bumi moro. aku menghitung detik detik berlari, seperti petani menghitung biji biji hujan. musim yang tak menentu. doa bergelembung seperti awan pada malam malam yang dingin. dada yang telah payah menadah hujan dari kesendirian yang melelahkan. malam yang mengajari kita untuk tabah. adakah lelaki yang lebih risau dari bujang pada malam malam yang dingin? sedang di pantai kesekian perempuan menadah hujan. seperti ibu menadah asap dapur pada subuh yang basah. sungguh, malam ini surga tak benar benar bersabahat dengan kita.

Morotai, 31 Maret 2018.

Catatan: Bumi Moro: nama lain dari Pulau Morotai.

HUJAN DI TERNATE 4

Baca Juga:  Mahfud MD: Tak Mungkin Abu Bakar Ba'asyir Dikeluarkan dengan Bebas Murni

Di sebuah kedai
tiga lelaki saling menertawakan
sebelum selesai
meraba dada kemerdekaan
dan sebuah pesan yang lindap
di pundak sepuluh pemuda.

Di langit, petir mengamuk
angin. hujan
jalan jalan mengalir
seperti urat sejarah
yang baru saja-

lepas.

Ternate, 18 Maret 2018.

Nuriman N. Bayan atau lebih dikenal dengan Abi N. Bayan lahir di desa Supu Kec. Loloda Utara, Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, pada 14 September 1990. Anak dari Hi. Naser Dano Bayan dan Rasiba Nabiu. Saat ini menjadi Pembina Komunitas Parlamen Jalanan Maluku Utara (Komunitas Teater) dan Komunitas Penulis Tepi. Buku puisi bersamanya, antara lain: Kita Halmahera, Kitab Puisi Penyair Maluku Utara, Mengunyah Geram, Rumah Seribu Jendela, Ombak Ombak Tepi, Soekarno dan Wong Cilik Dalam Puisi, Senja Langit Jatigede, Negeri Bahari, Senyuman Lembah Ijen, Embun-embun Puisi, Bait Kisah Musim Hujan dan pernah terbit di Majalah Simalaba, Majalah Mutiara Banten serta di beberapa surat kabar (Lampung Post, Bangka Post, Posko Malut, Kabar Harian Madura) juga terpublikasi di beberapa media online. Kini tinggal di Ternate.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler