Ekonomi

Beras saja Impor, PB PMII Bertanya: Siapa yang Diuntungkan?

Impor beras dan Petani Indonesia (Ilustrasi Nusantaranews)
Impor beras dan Petani Indonesia (Ilustrasi Nusantaranews)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Kebijakan mengenai impor beras hingga saat ini masih menjadi polemik diberbagai kalangan masyarakat. Hal tersebut terpaparkan dalam diskusi publik tentang impor beras yang diselenggarakan oleh Bidang Politik, Advokasi dan kebijakan Publik Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Masa Khidmat 2017-2019.

Bertajuk “Impor Beras, Siapa yang Diuntungkan?”, diskusi berlangsung di aula lantai III Kantor PB PMII, Minggu, 27 Mei 2018. Hadir sebagai pembicara di bidang pertanian, mantan Sekjen PB PMII, Usman Sadikin, dan Ketua Umum DKN Pemuda Tani HKTI, Rina Saadah Adisurya.

Baca Juga:

Ketua Bidang Poltik, Advokasi dan Kebijakan Publik PB PMII, M. Zeni Syargawi, mengatakan diskusi publik tersebut merupakan kegiatan rutin bidangnya. “Diskusi tersebut untuk merespon apa yang menjadi persoalan masyarakat, khsuusnya para petani,” tutur Zeni.

Baca Juga:  DPRD Nunukan Gelar Paripurna Kesepakatan Terhadap KUA PPAS Perubahan APBD 2022

Sola impor beras, pihaknya pun mempertanyakan, apakah kebijakan impor beras ini dikarenakan oleh Indonesia kekurangan lahan ataukah kurangnya petani? Dia juga menyinggung mengenai adanya percetakan sawah baru diberbagai daerah.

Hal tersebut, kata dia, merupakan salah satu langkah yang cukup bagus. Namun, kebijakan tersebut harus disertai dengan kebijakan penggiring. Artinya, percetakan sawah baru harus dibarengi dengan pembangunan bendungan yang nantinya dimanfaatkan untuk mengairi sawah-sawah baru tersebut.

“Kan aneh kalau sawahnya saja yang dibuat, tapi airnya dari mana. Maka tentu harus disiapkan semacam bendungan, agar sawah-sawah yang dibuat baru itu bisa berfungsi dengan baik,” jelas pemuda asal Medan Sumatera utara ini.

Mantan Sekretaris PB PMII, Usman Sadikin, dalam diskusi tersebut menyampaikan bahwa saat ini perlu menciptakan petani-petani handal. Petani yang bisa bertani dengan baik, karena itu akan berpengaruh kepada jumlah produksi pertanian.

Untuk itu, dia mengajak PMII untuk menyiapkan semacam pelatihan bagi petani. “Kita buat saja pelatihannya, 10 orang misalnya saya sendiri yang latih, disini juga bisa kita laksanakan. Nanti ketika mereka pulang kan bisa meneruskan untuk melatih petani-petani di kampungnya masing-masing,” ujarnya.

Baca Juga:  Sumur Minyak Ditemukan, Permahi Aceh Desak Pemprov dan BPMA Aceh Entas Kemiskinan

Ketua Umum DKN Pemuda Tani HKTI, Rina Saadah Adisurya, juga mengatakan bahwa pemuda harus memiliki semangat untuk bertani. Dia terlihat cukup kesal dengan minimnya semangat pemuda untuk bertani. “Ada kampus pertanian, tapi alumninya orientasi kerja di bank,” kesalnya.

Oleh karena itu, Rina mengajak PMII untuk ikut konsen di pertanian. Karena menurutnya, PMII sebagai organisasi kemahasiswaan besar pasti memiliki visi untuk pertanian Indonesia yang lebih baik ke depannya.

Pewarta: Ucok A
Editor: Achmad S.

Related Posts

1 of 1.127