Connect with us

Global

AS, Inggris dan Perancis Telah Memulai Perang Dunia Ketiga

Published

on

Suriah dibombardir Amerika Serikat, Inggris dan Perancis. (Foto: Iran Corner)

NUSANTARANEWS.CO – Amerika Serikat, Inggris dan Perancis telah memulai Perang Dunia Ketiga yang selama ini tak diperkirakan akan terjadi. Dampak buruk dari bombardir Suriah oleh ketiga negara tersebut pada 14 April telah membuat dunia tegang. Pemerintah Suriah sudah pasti geram. Termasuk dua negara aliansinya Rusia dan Iran.

Komitmen AS, Inggris dan Perancis terkait perdamaian dunia memang patut dipertanyakan. Mantan wakil ketua Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) Willy Wimmer mengatakan serangan rudal AS, Inggris dan Perancis di Suriah merupakan langkah lain dari ketiga negara tersebut untuk menciptakan tatanan global versi mereka di mana mereka merasa berhak melakukan apa saja yang mereka inginkan tanpa meminta pertimbangan dan persetujuan PBB.

“Sejak perang ilegal melawan Yugoslavia pada 1999 silam, mereka (AS, Inggris dan Perancis) berambisi memiliki struktur internasional mereka sendiri. Mereka ingin menghancurkan Piagam PBB. Mereka sudah tidak tertarik lagi untuk memiliki organisasi internaisonal yang bisa diandalkan. Dan karena pandangan itu, mereka melakukan segala cara untuk menciptakan dunia mereka sendiri sesuai keinginan mereka,” kata Wimmer kepada Russia Today, Minggu (15/4/2018).

AS, Inggris dan Perancis melancarkan serangan dari berbagai posisi terhadap Suriah pada 14 April. Rusia melaporkan sedikitnya 103 rudal jelajah udara dilepaskan melalui pesawat dan kapal laut ketiga negara tersebut dalam rentang waktu lebih dari satu jam dengan target Damaskus dan Homs.

Iran Corner, melansir kantor berita Pan-Arab Al Mayadeen menyebut setidaknya 500 teroris telah dievakuasi dari Ghouta Timur, Suriah oleh lembaga kemanusiaan non pemerintah untuk dipindahkan ke Yaman guna melanjutkan kampanye teror mereka di sana usai dinyatakan kalah perang di Suriah melawan pasukan pemerintah Bashar Al-Assad.

“Bagi kita semua, kampanye militer ini (AS, Inggris dan Perancis) mengingatkan kita pada peristiwa menyakitkan yang telah kita lalui,” kata Presiden Serbia Aleksandar Vucic berbicara kepada televisi Serbia.

Vucic menambahkan, akibat serangan tersebut situasi dunia saat ini menyerupai apa yang pernah terjadi menjelang Perang Dunia Pertama. “Di mana ada perebutan sumber daya, minyak, tembaga, aluminium serta benturan kepentingan. Suasana ini mengingatkan saya pada apa yang terjadi sebelum Perang Dunia Pertama. Apalagi kekuatan militer negara-negara di dunia saat ini sangat besar,” tambahnya.

Sekadar informasi, Yugoslavia luluh lantak karena dibombardir NATO selama 78 hari antara 23 Maret hingga 10 Juni 1999. Pemboman NATO itu telah mengakibatkan kematian warga sipil lebih dari 5.700 orang, dan sejumlah daerah terkontaminasi radiasi gelombang uranium (DU) yang dilepaskan NATO.

AS, Inggris dan Perancis melancarkan serangan rudal di Suriah berdasarkan laporan palsu dari kelompok oposisi di Suriah dan organisasi relawan kemanusiaan terkait adanya penggunaan senjata kimia di Douma. Laporan ini nyatanya tidak terverifikasi dan tak ada bukti, bahkan Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan buktinya masih dan hanya akan menjadi sebuah rahasia.

Pasukan AS menggunakan pesawat B-1B bomber milik Angkatan Udara untuk menyerang Suriah. Menurut CNN, pesawat B-1B melepaskan 19 rudal jelajah JASSM yang membawa 450 kilogram hulu ledak dan memiliki jangkauan lebih dari 370 kilometer. Pesawat B-1B angkatan udara AS ini dilaporkan terbang dari Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar.

Kemudian Pentagon mengatakan 3 unit kapal perang AS dan satu kapal selam tutur berpartisipasi dalam serangan terhadap Suriah tersebut. Kapal-kapal ini melepaskan rudal jelajah Tomahawk untuk membombardir Damaskus. Dari Laut Merah, kapal penjelajah USS Monterey menembakkan 30 buah rudal Tomahawk dan kapal perusak USS Laboon meluncurkan 7 buah rudal. Sementara itu, kapal perusak USS Higgins melepaskan 23 rudal Tomahawk dari Teluk Arab Utara.

Selanjutnya serangan dilancarkan dari kapal selam USS John Warner yang menembakkan 6 buah rudal Tomahawk dari Laut Mediterania. Kapal perusak kelas Arleigh Burke milik Angkatan Laut AS, kapal penjelajah kelas Ticonderoga dan kapal selam kelas Virginia membawa lusinan rudal jelajah Tomahawk dengan jangkauan 2.500 kilometer.

Tahun lalu, Angkatan Laut AS juga diketahui menembakkan 60 rudal Tomahawk di pangkalan udara Suriah dan rudal yang sama masih dijadikan andalan AS untuk kali kedua membombardir Suriah.

Kemudian Inggris. Angkatan Udara Britania Raya (RAF) menyumbang 4 unit jet tempur Tornado yang dipersenjatai rudal jejalah Storm Shadow dalam operasi bombardir Suriah. Selain itu, jet tempur Typhoon juga dikerahkan dalam misi tersebut.

Seperti diwartakan sebelumnya, jet-jet Inggris ini lepas landas dari pangkalan udara kerajaan Siprus di Mediterania Timur, RAF Akrotiri. Tugasnya ialah situs senjata kimia Suriah di Homs.

RAF dilaporkan mengerahkan jet tempur jenis Tornado GR4, pesawat serangan darat utama Inggris yang dipersenjatai rudal Storm Shadow. Rudal ini memuat hulu ledak seberat 400 kilogram dan mampu menjelajah sejauh 400 kilometer. Total 8 buah rudal Storm Shadow yang ditembakkan RAF dari jet tempur tersebut.

Adapun Perancis mengerahkan jet tempur Rafale untuk misi Penghancuran Suriah. Menteri Pertahanan Perancis Florence Parly menuturkan jet-jet tempur tersebut terbang dari pangkalan udara Perancis. Seperti Tornado Inggris, Rafale juga bermesin ganda dan dipersenjatai rudal Storm Shadow yang mampu terbang sejauh lebih dari 250 mil.

Selain Rafale, Angkatan Udar Perancis juga mengerahkan jet tempur Mirage (Dassault Mirage 2000) yang melepaskan total 9 buah rudal.

Serangan AS, Inggris dan Perancis ini tidak mendapat sanksi Dewan Keamanan PBB. Malah, PBB menyetujuinya dan menyalahkan pemerintah Suriah atas tuduhan palsu terkait serangan kimia di Douma. DK PBB tampaknya tak juga mempercayai informasi hoax dari kelompok LSM dan barisan opisisi Suriah, tanpa terlebih dahulu menunggu proses penyelidikan dari Organisasi Larangan Senjaka Kimia. Padahal, organisasi internasional semacam ini menjadi satu-satunya kesempatan bagi dunian untuk mencegah perang terjadi.

“Sikap Prancis, Inggris dan Amerika adalah sikap yang mirip dengan sikap digunakan oleh Adolf Hitler pada 1939 untuk masuk ke Perang Dunia II,” cetus Wimmer. (red)

Editor: Eriec Dieda

Komentar

Advertisement

Terpopuler