Ilustrasi Ledakan Nuklir
Ilustrasi Ledakan Nuklir

NUSANTARANEWS.CO – Presiden Donald Trump telah mengabaikan nasihat sejumlah sekutu Eropanya dengan melemparkan kasus kesepakatan nuklir Iran ke tangan Kongres Amerika. Trump mengatakan kepada Kongres bahwa perjanjian tersebut memiliki “banyak kelemahan serius.” Menurut Trump, dalam kesepakatan tersebut, sejumlah sanksi internasional terhadap Iran telah dicabut sebagai kompensasi atas pembatasan program nuklir Teheran.

Kini bola berada di tangan Kongres AS yang dikuasai oleh Partai Republik. Kongres harus segera memutuskan apakah akan menjatuhkan sanksi baru lagi kepada Iran? Sebuah langkah yang dipastikan akan merusak perjanjian.

Seperti diketahui, Iran telah mematuhi seluruh isi kesepakatan tersebut. Namun, Trump tampaknya hendak mengambil alih kesepakatan dan mengubahnya menjadi sebuah krisis internasional yang bisa memicu terjadinya perang.

Sementara Prancis berusaha mendesak Kongres Amerika agar tidak membatalkan kesepakatan nuklir Iran setelah Presiden Trump menolak mengesahkan kembali perjanjian yang telah dibuat pada 2015 itu.

“Kami sangat berharap Kongres yang sekarang bertanggung jawab atas kemungkinan adanya pembatalan kesepakatan,” kata Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian dalam wawancara dengan AFP. “Bagi kami, perjanjian Wina adalah perjanjian yang bagus. Itu membatasi proliferasi nuklir dan mencegah Iran mendapatkan senjata atom. Perjanjian itu kuat,” tutur Le Drian

Dibentuknya kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) oleh Presiden Obama adalah bertujuan untuk membatasi semua jalan Iran menuju pembuatan bom nuklir dan mencegah perang dengan Iran. Melalui JCPOA, AS (Obama) dan Iran telah mencapai keberhasilan diplomatik sehingga mengurangi ketegangan antar kedua negara. Kesepakatan itu juga telah mengurangi kemungkinan bahaya konflik militer yang mendorong pemerintahan Barack Obama lebih bersemangat mencari solusi diplomatik terhadap krisis ini.

JCPOA adalah kesepakatan untuk mencegah perang, sedangkan membatalkan kesepakatan itu berarti menciptakan perang. Nah, jika Trump membatalkan kesepakatan dan Iran memulai kembali program nuklirnya – maka AS akan menghadapi dilema yang sama dengan Obama pada 2013. Perbedaannya adalah Presiden sekarang adalah Donald Trump, seorang pria yang bahkan tidak tahu bagaimana mengeja diplomasi, apalagi melakukan itu.

Menurut mantan wakil direktur CIA Michael Morell, ketika program nuklir Iran dipercepat, membuat situasi AS “lebih dekat berperang dengan Republik Islam Islam dibanding peristiwa Revolusi 1979.” Negara lain mungkin menyadari juga atmosfir bahaya tersebut.

Dengan situasi mirip seperti yang dihadapi oleh Presiden Obama – Presiden Donald Trump tampaknya akan mendapat tekanan kuat dari Israel, Arab Saudi dan beberapa elemen di AS untuk menghentikan program nuklir Iran – dengan membom fasilitas nuklir Iran dan bila perlu melancarkan serangan militer skala penuh. Kita tunggu saja. (Banyu)

Komentar