Connect with us

Budaya / Seni

Alam “Dua Lelaki Itu Penjinak  Sepi”

Published

on

Dua lelaki penjinak Sepi di kursi (Ilustrasi). Foto: Dok. Honoré Daumier

Cerpen: JJ Mansyur Maroha

Malam jumat itu ada yang meninggal di selatan rumahku, tetangga juga sih karena rumahnya tidak jauh dari rumahku. Saat itu gerang malam dirangkum dengan adanya kematian itu, ditambah dengan isak tangis orang yang melayat, jalan-jalan buming dengan kabar atas kematian. Tiba-tiba ada sebuah ucapan dari kerabatnya juga, masih separuh baya pamanku Tuhan telah memungut nyawanya, ujar sikerabat sambil menepuk dadanya dicampur aduk dengan tangis. Habis dikebumikan malam itu juga, ada satu lelaki berjalan lirih langkahnya seakan bertasbih, pelan-pelan aku menghampiri si lelaki itu sembari berjabat tangan sebagai tanda perjumpaan sesama manusia. Ternyata si lelaki itu Mahwan sahabat dekat saya, dia dikampung dijuluki pendekar sepi karena setiap malam selalu menyendiri. Di perjalanan itu angin sangat akrab menyuarakan ketenangan, tiba-tiba si Mahwan memperlihatkan seiris kain putih atau kain kafan di depan wajah dengan aroma yang sangat harum.

Dia bilang dengan suara lirih. “kain ini adalah kain dari si meninggal tadi, saya minta kekeluarganya untuk dibuat sesuatu?”

“Mau dibuat apa hanya sehelai kain ini?” tanyaku dengan penuh penasaran sambil menggeleng-geleng kepala tentang  maksud dari sehelai kain yang di pegang.

“Kain ini nantinya akan menjaga rumahku dan rumahmu.” Aku semakin terlego penasaran tentang refleknya mahwan berbicara seperti tadi, padahal hanya kain kok bisa bersifat seperti manusia, pikiranku seperti melayang jauh ini. Aku tak habis pikir mahwan ini, apa kesambet ya?

Loading...

“Benar,  kain ini nanti ada maksudnya loh?” Katanya dengan nada tinggi. Aku hanya terdiam untuk memastikan tanpa aku menyangga ucapan. Langsung aku berbalik arah menuju rumahku.

**

Malam kedua dari meninggalnya Roji’. Suasana tidak seperti biasanya, jalan-jalan sepi, batu-batu bersilah iba dan pohon berdiri tegang di pinggir jalan tanpa melambai dari lelah keseharian ditambah hujan berserakan menyuarakan kesedihan.

Baca Juga:  Konon, Namanya adalah Celurit: Kisah Dua Algojo (1)

“Roji’ itu dikenal kesehariannya sebagai orang humoris, mungkin orang-orang pada gemetaran mau jalan”, gerangan apa yang dibuat khayalan ini sampai pikiran melayang kemana-mana,  kataku dalam benak. Mau melangkah pun berat seakan ada beban, pelan-pelan aku mampir kerumah mahwan melihat malam-malam ayahnya membuat lincak dari bambu sebagai tempat peristirahatan pas pada waktu meninggalnya Roji’. Tanpa basa-basi aku langsung duduk diteras rumahnya sambil menyuluti rokok sendiri dan komplit dengan kopi yang disuguhi ayah mahwan.

“Kenapa kamu merasup lincak malam-malam?”, tanyaku santai sambil minum kopi. Disudut kanan terlihat lampu yang remang penuh dengan laron yang haus demi perut.

“Kenapa tidak rasup siangnya?”, lanjut obrolanku dengan ayah mahwah sambil menghalusi bambu-bambu yang sudah diiris, tapi ayah mahwan tetap saja fokus pada aktivitasnya tanpa menyadari bahwa aku sedang bicara sama dia.

“Man Rahman, bukannya saat ini bukona padengkongan*?”, bentakku dengan ucapan gemetar. Aku terdiam megingat obrolan ibuku kemarin dengan tetangga sebelah, katanya jika ada orang yang buat sesuatu tepat ke tinana padangkongan, “ maka sesuatu itu akan kerapkali ditemenin orang yang meninggal itu man rahman,” ujarku diperjelas sambil ngeluarin senyum dikit dan membasuh karat-karat sepi yang menghampiri.

“Justru itu cong, paman sengaja buat lincak ini tepat ada orang meninggal, supaya nanti rumah ini yang ditempati khususnya tidak sepi dari orang, tiap malam mesti ada orang yang duduk di sekitar rumah ini,” jawab Man Rahman dengan suara terbata-bata.

“Ini mitos apa bukan Man Rahman?” bantaku untuk membuktikan peristiwa aneh.

“Tunggu saja malam-malam selanjutnya,” hal ini adalah jawaban Man Rahman tantangan untuk membuktikan kepadaku.

“Malam semakin larut,

Denting dada berdegub runcing,

Merinding atas keanehan yang terjalin,

Baca Juga:  Berita

Mesiu tubuh rapuh,” ialah syairku di kala tersulut sepi, sendiri aku memuji.

**

Malam ketiga dari meninggalnya Roji’, aku derek jendela sedikit untuk memandangi orang yang berjalan di depan rumah Mahwan, beberapa segelintir orang pun lewat disana hanya sedikit suara terekam ditelinga.

“Permisi,,, numpang lewat Man Rahman,”sapaan yang sangat halus dari pamanku yang kebetulan pulang malam dari tempat kerjanya. “Pamanku memastikan tapi ada orang yang duduk bersila diteras rumahnya, tapi tidak ada sahutan sama sekali,” igau pamanku dihantui hal tadi.

Sesampainya paman dirumah, jam masih menunjukkan 11.00  malam keatas, tiba-tiba handponku bersalawat dengan nada dering yang sangat merdu, sedikit nafasku legah terdengar lafad Allah dan rasulNya.

Suara paman sedikit ketakutan, “ada dimana Mang?” sapanya dengan gemetaran.

“Aku ada di dalam ruman,” balasku pada pamanku di dalam telpon.

“Tadi aku lewat di tetangganya kamu itu di rumahnya Mahwan, paman sudah memastikan dengan mata kepala sendiri bahwa ada orang duduk diteras rumahnya Mahwan, ia paman sapa,” curhat pamanku. Aku hanya mengangguk tanpa suara, suaraku seakan kosong.

Tiba-tiba paman menggertakku, “heii Mang?”. “iya,,,,apa?” sapaku dengan suara yang baru rampung, tadi suaraku dijarah ketakutan.

“Iyah sudah,” paman tanpa basa-basi apalagi langsung mematikan handponnya. Hanya menyisakan ucapan itu tadi, sampai aku tidak bisa tidur gara-gara gerangan pamanku.

**

Malam berganti malam, suasana saling mencekam, kemenyan pada beraroma kehadiran, cicak pada berisak membuntuti kakekku sedang menghadiri arisan, kakeku itu tak kenal malam, tak kenal takut, kalau berjalan pelan-pelan. Aku akui kakekku mulai kemarin memang berani berpapasan dengan arwah gentayangan, biasanya kakekku sepulang dari arisan sendirian dengan pedang ditangan itu sudah jadi kebiasaan.

Kebiasaan kakekku biasanya sering mampir sepulang dari arisan dirumah Mahwan yang jadi bumerang orang. “Rumah ini kosong gak ada orang sama sekali dan pintu tertutup rapat, ditemani dengan kokok ayam menandakan sudah masuk sepertiga malam,”  kakekku termenung sejenak sambil istirah sebentar merebahkan rasa penatnya. Tiba-tiba kakekku melihat gelagat orang sendirian dengan rambut panjam dan muka suram sedang menggeser kandang sapi dari sendinya yang terbuat dari batu itu.

Baca Juga:  Pelacur Negeri (Bagian 6: I) – Novelet Yan Zavin Aundjand

“Ternyata penyebab keanehan di rumah ini adalah kain ini,” kakekku sambil tersenyum, geleng-geleng kepala sembari melepas ikatan kain kafan yang terbelit di pagar bambu.

Dua lelaki, Marwan dan Ayahnya tiba-tiba di bangunin sama kakekku dengan mengedor pintunya. “Bangun,,,,,,dar,,dar,,,dar,,,”

“Ada apa kak Marha,” sahut ayah Mahwan sambil menyatuakan sukmanya, karena kaget dari gertakan kakekku tadi.

“Apa, sial iya?” kakek sambil menggenggam kain kafan itu

“iya,,,sial kak,” jawabnya dengan muka kusam

“Itulah akibat dari kelakuan kamu, kain dan lincak itu buang jauh-jauh,” jawab kakek sambil menunjukkan kain yang dipegang. “kamu tau apa yang datang tadi,?” “Gak tau,” jawab Marwan dan ayahnya.

“Menyeramkan,” jawab kakek.

_________________

*Bukona Padangkongan: kebiasaan orang madura mengatakan tentang larangan membuat sesuatu tepat pada orang meninggal dunia yang berakibat akan mendatangkan arwa si mati tersebut tiap malam.

JJ Mansyur Maroha: lahir di Sumenep Madura Jawa Timur 15 Maret 1994. Pernah nyantri di Pondok Pesantren Hasyim Asyari Jogja, sekaligus mendalami sastra Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Antologi bersama: seharusnya kita tak saling rindu (2016), Lelaki bercelana kulot di sebuah pesta pernikahan(2016),Tears of aleppo(2016), Indonesia Bersajak(2016), Pesan damai seluruh manusia PCINU MAROKO(2016).

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: redaksi@nusantaranews.co atau selendang14@gmail.com

Loading...

Terpopuler