Connect with us

Cerpen

Sungai Kematian, Karya Muhtadi ZL

Published

on

puisi, kumpulan puisi, puisi indonesia, penyair indonesia, nusantaranews, keheningan malam, iqbal manglak

Ilustrasi. (Foto: Eriec Dieda/NUSANTARANEWS.CO)

Sungai Kematian, Karya Muhtadi ZL

Di desa Gedangan, orang-orang dibuat geger seantero desa. Karena kematiannya tak diduga dan tragis mengenaskan. Mayat itu ditemukan tempatnya tidak lazim, di bawah batu. Begitu Tosan mengabarkan pada orang-orang. Keberadaan batu itupun mampu membuat bulu roma berdiri, sebab batu itu ditemukan di sungai Ajung, Sungai yang terkenal keramat.

Tosan memang tidak sengaja menemukan mayat itu, saat pertama melihat, degub jantungnya berdetak bukan main. Sebab hal itu tak terbesit dalam tempurung kepalanya kalau di bawah batu yang terbaring cukup besar ada mayat yang entah mayat siapa, tak ada identitas, lebih parah, mayat itu hampir tulang belulang.

Sebelum kejadian itu. Hari memang sore, kebetulan Tosan punya waktu lowong. Dalam hati ia ingin menyetrum ikan di sungai Ajung, dengan penyetruman yang berkekuatan aki sepeda motor. Arus listrik yang dihasilkan sudah cukup membuat ikan-ikan terkejut dan bergelintangan.

Tosan melihat jam. “Masih jam setengah empat,” ucapnya pelan.

Loading...

Ia berdiri dan melangkah ke dalam untuk mengambil penyetruman. Dan pamit pada istrinya yang sedang mengiris bawang.

“Buk, Bapak berangkat dulu, mau nyetrum. Eman-eman mumpung ada waktu,”ujarnya. Istrinya tersenyum.

“Hati-hati, Pak, jangan lupa baca bismillah, sungai Ajung soalnya.”

“Iya, Buk. Bapak paham. Doakan saja, semoga rezekinya banyak dan ikan-ikannya gede-gede,” tambah laki-laki paruh baya itu.

Dengan penyetruman yang sedari tadi ia gendong, Tosan keluar rumah dengan langkah pelan.

“Suryo tidak di ajak, Pak?” tanya istrinya lantang.

“Tidak, Buk. Takut ada apa-apa,” sahut suaminya dari ambang pintu.

Dalam perjalanan Tosan merasa tidak enak. Ketika menelan ludah, kerongkongannya terasa sakit. Apa ini karena yang akan saya tuju sungai Ajung. Ucapnya pelan.

Dulu, di tahun 80-an. Sungai itu menjadi tempat ajang kematian. Sebab setiap hari ada saja orang yang bunuh diri, jika tidak seperti itu, sungai itu menjadi tempat pembuangan mayat yang di cincang habi-habisan, karena masalah desa atau antar keluarga, namun yang kerap terjadi antar tetangga.

Baca Juga:  Gunung Tidar, Paku Tanah Jawa

Bahkan di tahun itu pula, desa Gedangan pernah menyandang desa kematian. Julukan itu sangat pas, sebab darah yang bercampu dengan air.

Ketika masih kecil, Tosan pernah melihat langsung pembunuhan di tepi sungai Ajung. Tubuh dan hatinya bergetar, mulutnya tak mampu berujar. Air di pelupuk matanya mengalir, pelan. Ia tidak tega melihat tetangganya yang sedang ia pandang. Pak Rakmin, begitu Tosan akrab memanggil orang yang sedang dibunuh itu.

Sungai Ajung cukup curam, semak belukar yang menjalar, ditebing-tebing yang timbul akar. Membuat sungai itu tampak seram, seolah ada mahluk halus yang sedang berdiam. Membuat bulu kuduk meriang, karena suana tampak seram dan mencekam.

Pernah suatu hari, tetangganya bercerita, melihat penampakan mahluk halus yang gentanyangan. Tetangganya juga menambah, kalau yang ia lihat adalah tetangga utara rumahnya yang pernah di bunuh tempo hari. Tapi Tosan percaya tidak percaya pada berita itu. Selama ia nyetrum di sungai Ajung, ia tak pernah melihat penampakan apapun.

“Rapek, pemuda yang suka mancing itu, katanya juga pernah melihat mahluk halus,” tambah tetangganya dengan mimik serius.

“Yang benar saja, kau tidak salah dengar kan,” begitu tanggapan Tosan bila mendengar cerita-cerita seperti itu.

“Tidak, kang. Saya tidak salah dengar,” tegas tetangganya.

“Ya, sudah, itu kan ucapan Rapek dan kamu, percaya iya, tidak percaya, iya. Lagian itu tak pernah saya alami,” ucap Tosan santai sambil mengangkat kedua bahunya.

Tak mendapat tanggapan positif dari Tosan, tetangganya pergi membawa bingung dan cemas. Tapi tetangganya akan tetap berkoar kepada tetangga yang lain. Meskipun demikian, tosan tak menjadikan beban pikiran dengan cerita ihwal itu.

Sebanarnya akhir-akhir ini, Tosan mendapat kejanggalan, karena ada satu tempat ketika ia setrum banyak ikannya dan ikannya pun beda dengan tempat yang lain, besar-besar.

Tosan mulai gelisah, sebab kecamuk pikirannya belum juga reda. Rasa penasarannya sudah membuncah, dua hari kegelisahannya ia redam. Ke esokan harinya ia pamit pada istrinya untuk pergi menyetrum lagi.

Baca Juga:  The Light Of Aceh Meriahkan Borobudur Int’l Art & Performace Festival 2018

“Buk, Bapak mau nyetrum lagi. Bapak punya firasat, kalau ikannya banyak sekarang sebab ada yang tanggal di sungai itu, Buk,” pamit Tosan datar.

“Ya sudah, hati-hati, ingat kata Ibuk, jangan lupa baca bismillah Pak,” ucap istrinya yang menuang detergen ke bak cuciannya.

“Iya, Buk, Bapak berangkat,” ia melangkah dengan penyetruman yang sudah ia gendong dan memperbaiki topinya yang serong.

Terik matahari cukup terasa, meski sedikit awan yang terkadang menghalangi. Tosan melirik jam di ruang tamu.“Masih jam setengah tiga,” gumamnya pelan.

Bibir yang kering, kumis agak tebal dan jenggot jarang-jarang menguatkan umur Tosan, kalau ia sudah berumur senja. Ditambah dua anak yang satu sudah kuliah dan satu masih duduk di kelas dua SMA membuat ia harus kerja ekstra.

Dalam perjalanan, tak banyak orang yang ia temui, itupun hanya petani. Tosan tidak menganggap itu masalah, sebab mengingat hari yang sudah menuju peraduan dan waktu yang pas untuk pulang bagi petani. Jadi wajar saja jika yang ia temui hanya penjaga bumi.

Sampai dibibir sungai Ajung, ia berdoa, semoga keselamatan menyelimutinya. Setelahnya ia turun ke air, terasa dingin, dan bulu kuduknya berdiri. Tak seperti biasanya. Ucapnya pelan.

Airnya jernih, di kedalaman yang hanya di bawah lutut. Samar-samar ia melihat ikan-ikan yang berkejaran dan hilir mudik, entah apa yang mereka lakukan. Seketika ia menekan tombol hidup peyetrumannya. Ikan-ikan itu langsung bergelimpangan, mengapung dan lansung dihadang dengan jaring di tangan kirinya.

Bebatuan yang halus, membuat ia mudah melangkah, secarik senyum ia tampakkan, melihat ikan-ikan yang putih-putih mengapung.

Tak lama, ia sampai di tempat yang membuatnya janggal, hal itu sudah ia duga, ketika ia menyetrum di bawah batu yang lebih besar dari badannya itu. Selama tiga menit, ikan-ikan yang bergelimpangan tak henti-henti keluar dari bawah batu itu. dan ikan-ikan yang keluar besar-besar tidak sama seperti yang lain. Kejanggalan memantik dalam tempurung kepalanya.

Baca Juga:  Kwintet Bebop Bawah Tanah – Cerpen Muhamad Kusuma Gotansyah

“Apa yang ada di bawah batu ini, barangkali sumur atau goa yang curam,”batinnya menerka.

Satu titik di hatinya untuk membuka batu itu.

Dengan tergesa Tosan meletakkan penyetrumannya di tepi sungai. Ia mencari kayu untuk dijadikan katrol, agar memudahkannya membongkar batu itu.

Setelah menemukan kayu yang tak jauh dari tempat itu, Tosan langsung menjungkitnya. Dengan pelan ia tekan ke bawah. Ia melihat celana yang compang-camping. Ia tidak merasa janggal ataupun mengundang tanya. Sebab di sungai itu memang menjadi pembuangan sampah, itu sudah lama dan sudah dilegalkan oleh pemerinta. Mungkin itu sisanya saja.

Tosan terus saja menekan ke bawah, hingga, tak lama berselang batu itu terjunkit ke depan, jatuh melawan arus. Mata Tosan terbelalak, jantungnya berdegup kencang. Mulutnya tek henti-hentinya mengucap istigfar. Ia tidak percaya, kalau yang sedang ia lihat adalah mayat dengan separuh tubuhnya tertutup kain, celana.

Sontak ia pergi menuju perumahan dengan berjalan tergesa. Untuk melapor kepada pak Camat. Bak pelari estafet, berita itu menyeruak cepat. Sampai membuat desa Gedangan geger.

Dihari itu, desa kerajan kelimpungan mencari identitas mayat itu. Tosan yang tak tahu apa hanya bungkam.

Kesokan harinya, identitas mayat itu detemukan, menurut kabar yan tersiar, mayat itu, pak Babun mantan kepala desa dua tahun lalu. Desa-desus yang beredar, pak Babun pernah korupsi beras raskin, dan ia sangat dibenci di desa Gedangan. Besar kemungkina ia dibunuh oleh orang-orang yang tidak suka padanya.

Beselang beberapa jam kemudian, stasiun televisi memberitakan, radio-radio pun menyiarkan. Sehingga seatero negeri tahu kalau pak Babun kepala desa yang mati dan mayatnya ditemukan di bawah batu sungai Ajung itu.

 

 

Penulis: Muhtadi ZL, Pengurus Perpustakaan PP. Annuqayah daerah Lubangsa dan Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA). Jurusan Hukum Ekonomi Syari’ah (HES) serta aktif di Komunitas Penulis Kreatif (KPK) dan Komunitas Cinta Nulis (KCN) Lub-Sel.

Loading...

Terpopuler