Connect with us

Puisi

Peluk Setiap Penyair, Dari yang Datang Kemudian Hilang

Published

on

pengorbanan, tak abadi, puisi elsa rosalia, puisi indonesia, puisi nusantara, puisi penyair, penyair indonesia, nusantaranews

Prisioner of Hope, mahakarya Hendra Gunawan. (Foto: Ciputra Artpreneur)

Peluk Setiap Penyair, 1

ya, jantungmu, kekasih, yang berulang menabung rindu penuh racun
uapnya meniadakan resah sekaligus risalah cinta yang diam memendam malam
matamu, menggugurkan jarum-jarum hujan, bercinta dengan tanah yang rekah
jangan dulu, katamu. sebab musim masih sembab, kata menyanyikan kota yang silap
dibunuh mimpi dan janji-janji, siapa lagi akan berkata merawat perih selain bocah peminum air mata
hidup hanya sepenggal bayang-bayang, menitah penyair yang berdatangan ke curam raga
ingin meminum seluruh sakitmu. kau bilang dendam bisa merajam, tapi kobar dari setiap pelukan
adalah keinginan untuk terus mencintaimu dalam senyap perjamuan—

kita lihat orang-orang
mengarak tuhan
atas nama kitab-kitab suci
meludah kepada peribahasa

Surabaya, September 2019

 

Dari yang Datang, Kemudian Hilang

Loading...

sesudah Chairil,
datang penyair yang mengenakan mantel hujan
menulis anak-anak gerimis
yang lapar bahasa

dari yang datang kemudian hilang,
aku lebur dalam huruf-huruf mimpi
ada yang meracik luka dari aroma matahari gugur
tapi bukan kamu
atau apa yang kau sebut raung hari lalu

sekadar berjalan mencari sebab
mengapa yang datang
menolak pulang
dan yang pergi
mencari muasal cinta yang sunyi
mengurung bayang yang rimbun kenangan
harum silam membentang kalbu ibu
debarnya aroma maha lapar:
urung kau santap

: ingin kusesap

Surabaya, September 2019

Kenapa Kau Tulis Aku Sebagai Puisi

tahun kian mabuk, penyair tumbang di ujung kata-katanya sendiri
tafsir tak cukup menampung makna yang tak selesai diurai
kenapa kau tulis aku sebagai puisi
sedangkan penyair-penyair telanjur bunuh diri

lembar-lembar koran memakamkan jasad mereka
meski kafan dan kabung air mata tanpa upacara

Baca Juga:  Kerja di Indonesia, Imigrasi Karawang Temukan WNA Asal China Berbekal Buku Pedoman Partai Komunis

maut menyulam tubuhnya
sebagai kata yang merdeka

Surabaya, September 2019

Romansa Kedai

barangkali sepedih dendam
kusesap kesedihanmu
buku-buku roman membuka lembar
bagi cinta yang tak kau tuliskan
sebagai puisi

Surabaya, September 2019

 

Tak Ada yang Lebih Percaya Selain Penyair

serupa juni yang abai,
hujan sembunyi
ke bilik rahasia

semayam kekasih
meninggalkan kisah roman
di jalan lengang
jalan yang membentang dari kembara laparku
lapar yang berujung puisi picisan

kutulis larik yang mengungkap malammu

masih ada yang termakan kabar
kota-kota belum pulih dari kobar silam

hanyut dalam gerimis dendam
perulangan hujan yang mendidih
dari belukar jantungmu

Surabaya, September 2019

 

 

 

 

 

Penulis: Muhammad Daffa, lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 25 Februari 1999. Puisi-puisinya dimuat Radar Banjarmasin, Banjarmasin Post, Media Kalimantan, Koran Banjar, Tribun Bali, Koran Merapi, Sumatra Ekspress, Palembang Ekspress, Buletin Jejak, Majalah Santarang, tatkala.co, nusantaranews dan Lokomoteks. Buku puisi tunggalnya TALKIN (2017) dan Suara Tanah Asal (2018). Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga.

Loading...

Terpopuler