Connect with us

Cerpen

Kamar Kerinduan

Published

on

kamar kerinduan, cerpen, rifqi hasani, nusantaranews, kumpulan cerpen, cerpen indonesia

Kamar Kerinduan. (Foto: Ilustrasi/IST)

Kamar Kerinduan
Sebuah cerpen karya Rifqi Hasani

Selesai shalat subuh, aku berjalan di sekitar rumah sekadar menghirup udara segar di pagi hari. Sisa bintang masih sangat indah dilihat meskipun cahayanya sudah mulai pudar sebab sinar matahari yang menempel di muka bumi. Kicauan burung terdengar di mana-mana sehingga aku asyik mendengarnya, serta para angin pagi menyerang tubuh, dan anginnya membuatku kedinginan walaupun memakai jaket.

Aku berjalan lebih jauh lagi menelusuri lorong kecil meskipun kabut pagi menghalangi jalan. Langkah demi langkah menghantarkanku pada sebuah bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah dan pemandangannya sangat bagus dilihat serta lautannya masih indah walaupun jaraknya jauh sekali di mata. Perahu kecil pada berlayar di tengah lautan seperti jalannya mobil yang berada di jalan raya dan kapal besar menetap sendiri saja di tengah samudera yang sangat luas itu.

Ketika selesai menikmati pemandangan, aku memutuskan untuk pulang karena terik matahari sudah terasa hangat di tubuh. Aku melangkahkan kaki dengan penuh semangat menuju jalan kerumah dan kabut pagi tidak menghalangku lagi. Burung-burung pada berada di sangkarnya sebab takut dengan teriknya matahari dan angin semakin kencang sehingga membuat pepohonan bergoyang-goyang. Akhirnya aku sampai di depan rumah dan melihat ibu di serambi sedang duduk santai serta keringat yang membasahi wajahnya karena habis menyapu lantai dan halaman rumah.

“Dari mana kamu nak?,” tanya ibuku sambil mengusap keringat.

“Dari bukit bu,” jawab ku.

“Oooooo jangan lupa nanti sore kita pergi ke makam kakek,” kata ibuku.

“Iya bu,” jawab ku lagi.

Aku hampir lupa bahwa ibu mengajakku pergi kemakam kakek, karena besok aku akan mondok dan itu sebagai terakhir kalinya aku berziarah, jadi aku merasa sedih sebab berpisah dengan orang tua dan sahabatku, namun ini keinginan orang tuaku untuk mondok supaya dapat menambah ilmu lebih banyak lagi dan mencapai cita-cita yang aku dambakan ketika masih duduk di bangku MI (Madrasah Ibtidaiyah).

Sore hari tiba, aku bersiap-siap untuk pergi kepemakaman kakek bersama ibu, tetapi sang mentari terhalang oleh awan hitam yang menandakan hujan akan segera turun, jadi ibu menyuruhku untuk segera bersiap, karena takut diguyur hujan di tengah jalan nanti, akupun bergegas mandi dan berwudhu lalu mengambil sarung yang berada di lemari, kemudian memakai baju putih dan memasang songkok yang bergantung di dinding. Setelah itu aku berangkat kemakam kakek dengan berjalan kaki walaupun jaraknya agak jauh dari rumah.

Baca Juga:  Memahami Visi Indonesia PR untuk Presiden Jokowi 2019-2024

Sedangkan di langit masih diselimuti oleh awan hitam meskipun awannya tidak begitu tebal, namun ibu menyuruh mempercepat langkah kakiku supaya lekas sampai di pemakaman kakek kerena takut hujan turun secara tiba-tiba. Langkah demi langkah aku berjalan walaupun kaki sudah merasa lelah, tapi aku tetap semangat, meskipun kaki sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan.

Akhirnya sampai juga pada tujuanku yaitu makam kakek, kemudian ibu menyuruhku duduk di samping pemakaman untuk membaca surah yasin dan tahlil, lalu hujanpun terun dengan derasnya dan untung saja makam kakek ada atapnya jadi aku bersama ibu tidak kehujanan.

Setelah selesai membaca surah yasin dan tahlil hujan masih turun dengan deras, akhirnya aku dan ibu tidak bisa pulang dan memilih pulang nanti setelah hujan meredah.

Menjelang adzan isya, aku baru sampai di rumah, kerena sejak berada di makam kakek terjadi hujan sampai adzan magrib berkumandang, dan sesampainya dirumah, aku bergegas untuk shalat magrib, sebab takut ketinggalan waktu shalat magrib. Ketika sampai di tahiyah akhir, adzan isya pun berbunyi di surau kecil dekat rumah, kemudian aku melanjutkan shalat isya dengan khusyu’. Rakaat demi rakaat aku kerjakan dengan seksama, meskipun kaki masih terasa capek, karena habis berjalan jauh dengan ibu.

Setelah shalat isya, aku bergerak kekamar untuk menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke pondok besok dimulai dari baju, peralatan mandi, al-qur’an, dan lain-lain. Aku memasukkan baju ke dalam tas yang berwarna hitam, lalu menyetrika baju yang baru diambil di jemuran depan rumah, tetapi mengapa ketika sudah selesai membereskan semua barang, tiba-tiba saja hatiku merasa tidak sanggup untuk hidup di dunia pesantren sebab harus meninggalkan orang tua dan sahabatku dan bola matapun mengeluarkan tetesan air suci yang mengalir diatas pipiku, namun aku sadar bahwa diriku adalah saorang pria, mana ada pria cengeng seharusnya kuat menerima cobaan walaupun berpisah dengan orang yang aku sayang. Kemudian rasa ngantuk datang sehingga aku tertidur diatas kasur yang empuk itu.

Baca Juga:  Kontingen Garuda Sertakan Personelnya Dalam Latihan yang Diadakan Sector East Indbatt

Adzan subuh berkumandang di surau kecil dekat rumahku. Ibu membangunkanku yang sejak tadi malam mengukir mimpi diatas kasur, lalu aku bangkit dan langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, kemudian melangkah kesurau untuk melakukan shalat subuh berjama’ah. Setelah beberapa langkah, akhirnya aku sampai juga di surau dan langsung melaksanakan shalat subuh dengan khusyu meskipun badan masih terasa capek. Sesudah shalat, aku berniat untuk jalan-jalan dulu sebelum berangkat mondok. Bunyi burung mulai terdengar ditelingaku dan para gemintang masih cantik di langit walaupun sang mentari sudah mulai memancarkan cahayanya yang indah itu di ufuk timur.

Karena merasa sudah cukup berjalan, aku memutuskan untuk pulang karena sinar matahari sudah terasa hangat di tubuhku. Aku telesuri jalan kecil yang berarah kerumah. Burung-burung beterbangan dari pohon kepohon yang lain untuk pergi kesangkarnya dan ada pula yang mencari makanan buat anak dan dirinya sendiri.

Sampai di rumah, aku merasa sedih lagi, karena harus berpisah dengan orang yang aku sayangi, tapi aku ingat dengan kata-kata yang aku ucapkan tadi malam, bahwa seorang pria tidak boleh cengeng dan harus kuat menerima cobaan yang menimpa aku saat ini.

Jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit, mobil yang mau mengantarku sudah terparkir di halaman rumah, orang-orang berdatangan untuk mengucapkan selamat berproses kepadaku dan ada juga yang mendoakan semoga memperoleh ilmu yang bermanfaat serta mendapat barokah kyai, lalu aku menjawabnya dengan kata sederhana amien.

Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya aku berangkat juga kepesantren yang dituju yaitu Pondok Pesantren Al-Hidayah yang berlokasi di desa Jelbudan kecamatan Dasuk kabupaten Sumenep, namun aku tidak gembira malahan sedih dan air mata tidak bisa membendung lagi, sebab kesedihan sudah melekat di hatiku. Meskipun ibu mencoba menenangkan hatiku, tapi usahanya sia-sia untuk meredakan tangisanku di dalam mobil.

Di tengah jalan aku melihat disisi kananku terdapat sepeda motor, mobil, dan sepeda ontel yang saling menyalip atau berjalan menelusuri jalan raya yang di tengahnya ada garis putih agak panjang dan di sisi kiriku terlihat anak-anak kecil sedang bermain kejar-kejaran serta terdapat pohon dan rumah yang tersusun rapi ditempatnya.

Baca Juga:  Potensi Geothermal Indonesia Bisa Mencapai 28.000 MW

Tidak disangka, aku telah sampai di Pondok Pesantren Al-Hidayah yang tampaknya lumayan banyak santrinya. Lalu aku keluar dari dalam mobil dan melangkah ke arah dhalem kyai untuk bersowan kepadanya. Aku melangkahkan kaki dengan penuh semangat walaupun hati masih saja terasa sedih. Orang tua berpesan untuk berperilaku sopan ketika memasuki dhalem.

Ketika selesai bersowan ke kyai, aku bersama orang tua pergi kemasjid Pesantren untuk duduk santai dulu. Ayah dan ibu berbincang-bincang tak tahu apa yang mereka bicarakan sedangkan aku hanya termenung saja di tangga masjid sambil memikirkan kehidupanku di pesantren nanti.

Beberapa menit kemudian perbincangan kedua orang tuaku selesai, lalu mereka mengajakku mencari kamar yang ada di Pesantren Al-Hidayah. Setelah menelusuri setiap kamar, akhirnya aku menemukan kamar yang di dalamnya hanya dihuni lima santri saja, oleh karena itu aku memilih kamar tersebut untukku jadikan sebagai tempat tinggal selama nyantri di Pesantren Al-Hidayah.

Hati semakin sedih ketika orang tua pamit pulang kepadaku dan berpesan untuk tidak bertengkar sesama teman dan memperbanyaklah belajar agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berbarokah. Kemudian mereka berpamit pulang lalu aku mencium tangannya secara bergantian.

Mobil pun semakin jauh dihadapanku membuat hati semakin sedih, aku hanya pasrah menjalani hidup di Pesantren ini. Lalu aku berjalan kearah kamar untuk beristirahat sebelum melaksanakan kewajibannya seorang santri. Memasuki kamar terlihat lima teman baruku sedang menanti kehadiran diriku, kemudian aku menyapa mereka dengan satu persatu. Meskipun aku baru kenal sama mereka, tapi kami langsung saling menyapa dan seperti teman yang sudah lama kenal.

Di hari kedua seperti halnya di hari pertama, hatiku masih saja terasa sedih ketika berdiam di dalam kamar, tetapi aku heran, mengapa berada di kamar hatiku terasa sedih dan ketika keluar rasa sedih tersebut mulai perlahan menghilang di dalam hatiku, dan hal itu terus terjadi meskipun sudah berbulan-bulan aku berada di Pesantren Al-Hidayah dan kemudian rasa sedih tersebut berubah menjadi sebuah kerinduan kepada orang tua sehingga aku memberi julukan kamarku dengan nama Kamar Kerinduan.

 

 

Rifqi Hasani adalah pengurus perpustakaan PPA. Lubangsa Selatan dan anak asuh komunitas PERSADA (Persatuan Santri Dasuk)

Jurnalis dan editor di Nusantara News, researcher lepas. | life is struggle and like in silence |

Terpopuler