Budaya / SeniCerpen

Aku Dokumen Terakhirmu (Bag. II)

Cerpen Ongky Arista UA

Pada sebuah catatan, tertulis aku yang menulis;

Aku takut jika aku tak dapat berbuat apa-apa bila suatu waktu, dekat-dekat ini atau jauh-jauh mendatang terjadi hal yang mungkin tak dapat aku selesaikan dengan ingatan gang-gang dan jalan-jalan setapak. Ingatan yang dulu dipaksa oleh kekasihku menjadi tak berguna, percuma dan mati menjadi ingatan semata.

“Kau terlalu bodoh mencintai wanita sepertiku, bahkan kau tak dapat menghafal di mana dan dari mana aku melangkahkan kaki setiap hari.”

Dan ia berkata menusuk hati,

“Aku tak suka lelaki bodoh sepertimu.”

Jika bukan karena aku dianggap bodoh oleh gadisku, aku tak mungkin nekat menghafal jalan dan gang di mana dia berputar-putar setiap hari dan malam selama bertahun-tahun. Ia tak tahu saat aku berputar dari gang ke jalan di tengah malam, sepanjang tahun lalu hanya untuk menghilangkan anggapan bodoh padaku. Agar lekas pula aku menjadi kekasihnya.

“Jika kau lupa, satu gang saja, kau tak boleh bertemu satu bulan denganku.” Ia memang kejam, berkata dan memperlakukan cintaku seperti tawanan penuh dosa. Aku tak sempat menanyainya apakah ia mencintaiku atau tidak. Kunikmati saja perasaanku.

Lima belas kali kecelakaan. Semuanya disebabkan oleh kegiatanku menghafal jalan dari barat ke timur. Dia tak pernah paham itu. Aku tak menceritakan apa-apa padanya. Dia juga tak menanyaiku soal itu. Aku diam saja sepanjang waktu soal usahaku menghafal jalan di kota besar macam Jakarta.

Dunia menjadi berubah begitu saja waktu itu, saat aku tak dapat menghafal jalan dan gang di depannya. Ia memperlakukanku bagai seseorang yang tak dia kenali, yang tak dia cintai. Sungguh menyiksa, aku mengingatnya. Terekam jelas di kepala waktu itu percakapan kami yang menusuk-nusuk hati.

“Kau tau mengapa aku datang?” tanyaku padanya di suatu malam, di sebuah gardu tempat kami biasanya bertemu tanpa sengaja.

“Aku tak tau, seharusnya kau tak datang malam ini. Karena kau sudah tau, aku tak mencintaimu.” Jawabnya membentur tanyaku. Semoga aku tak tiba-tiba sakit. Aku menghela nafas panjang menahan sakit sekuatnya.

“Bukan, bukan,” Aku menggelengkan tangan dan kepalaku.

Aku kembali menghela nafas lirih, aku mengeluarkannya dengan pelan dan tenang berharap oksigen memperbaiki hatiku yang retak karena ucapannya.

“Bukan, aku datang bukan untuk cinta. Bukan karena cintaku, juga bukan karena ingin memaksa cintamu,” jawabku meluruskan niat.

“Lalu?” Tanyanya kembali, mempersingkat basa-basiku.

“Kau tau apa yang lebih indah dari cinta?” Tanyaku yang kesekian padanya.

“Mengapa kau selau bertanya? Sedangkan kau tau jawabannya. Mengapa tak kau jawab sendiri?” Jawabnya kesal mendengarku banyak tanya.

“Aku pergi saja, jika kau tak mau tau,” ucapku mengakhiri sekaligus memotong kesalnya sesegara mungkin.

“Silahkan!” Dia mempersilahkan.

Aku berdiri, memulai langkah pergi lalu berbisik di telinganya.

“Aku datang karena rindu. Yang indah dari cinta adalah rindu. Karena rindu cerita cinta tak selesai-selesai, tak tamat-tamat. Kalau bukan karena rindu, tentu aku tak akan datang menemuimu malam ini. Aku hanya ingin melepas rindu. Bukankah kau suka membentuku melepas sesuatu? Melepas cinta juga rindu? Cintaku telah kulepas, tapi rinduku tak akan pernah selesai meski kulepas berkali-kali.”

Aku ingat sekali hal itu. Mencintai gadis persimpangan jalan membuatku mengingat paksa persimpangan jalan, gang dan segala macamnya yang berhubungan dengan gadisku si pedagang asongan. Jika bukan karena aku mencintainya, aku tak akan menghafal jalan dan gang yang begitu rumitnya. Pergi dari ujung barat ke timur, lelah dilawan, susah diterjang, kecelakaan tak diperdulikan.

Pada tahun ke lima, ingatanku tentang jalan dan gang, termasuk gang buntu, sempurna. Gadisku lalu menerimaku menjadi kekasihnya. Kami jadian, menjadi sepasang kekasih di atas jalan dan gang-gang kota bertahun-tahun. Ia sering mengetes ingatanku ketika hendak berjumpa. Kemudian kami berjalan-jalan menyusuri gang-gang kota, jalan-jalan paving kota, kenangku.

Aku bertanya padanya,

“Mengapa kau suka melihatku mengingat gang dan jalan?”

“Agar kita tak pernah tersesat berjalan meski kita tak punya tujuan berjalan di gang dan jalan kota ini.”

“Alasan lain?” Tanyaku kembali.

“Biar kita tak pernah tersesat dan telat saat janjian bertemu di sebuah tempat sepadat kota ini.”

“Mengapa kau mengancamku, jika aku tak mengingatnya?”

“Kau sudah mengingat jalan dengan baik, apakah kau masih terancam melihat senyumku hari ini?”

Aku tak banyak berkata-kata setelah jawabnya membekukan pertanyaan selanjutnya yang hendak aku tanyakan. Aku selalu tak mengerti apa mau dan inginnya pada jalan dan gang. Aku menjadi mengerti saja meski aku tak sepenuhnya mengerti.

“Suatu saat, kota, jalan, gang ini akan menjadi permadani yang tak akan pernah musnah ditelan waktu. Bila suatu saat aku tiada, atau kau tiada, di antara kita yang lebih akhir menghuni kota ini akan mengenang sebuah masa, senyum, rindu dan cinta. Dan, suatu rasa akan kekal saat ia dikenang. Aku titipkan senyumku pada gang, jalan yang telah kamu ingat dengan sempurna.”

“Tapi mengapa kau lakukan itu?”

“Bapakku adalah pelayan negeri, seorang arsitek handal. Ia dibunuh oleh kaum mafia karena tak mau menerima suap atas proyek pembangunan kota ini. Bapakku dipaksa untuk membangun kota ini dengan kualitas rendah, tapi ia tak mau. Ia dibunuh setelah kota ini selesai dibangun.”

Ia menangis.

“Menjadi pedagang asongan adalah caraku mencintai bapakku membangun kota ini, mengenang semua sudut kota, jalan dan gang. Aku mencintai bapakku.”

***

Itu percakapan terakhir kami, yang aku ingat dalam catatan sebelum ia dibunuh oleh sekolompok bajingan di persimpangan jalan dan gang yang aku ingat dengan sempurna. Ia dibunuh karena memegang dokumen penting ayahnya. Ia gadis cerdas, sarjana bahasa di Universitas Indonesia yang memilih menjadi pedagang asongan demi sebuah kenangan dan cinta pada ayahnya.

Aku adalah dokumen terakhir tentang ayah dan dirinya. Saksi cerita kematian ayahnya. Saksi mata pembunuhan dirinya. Berulangkali aku ditabrak oleh orang tak dikenal dengan sengaja, hingga hampir tewas. Berungkali aku masuk rumah sakit, dikawal banyak polisi dan dokter ahli dari kepolisian negara untuk menyelidiki ingatan tetang jalan dan gang, juga ingatan tentang dokumen ayah juga gadisku.

Aku berusaha menutupi semua ingatanku. Aku pura-pura amnesia di depan dokter ahli yang cantik itu. Salah satu perampok yang membunuh gadisku adalah salah satu polisi yang mengawalku di rumah sakit. Aku berusaha berpura-pura tak ingat semuanya agar semuanya aman, bahkan aku berpura-pura lupa pada kedua orang tuaku agar mereka aman.

Ini menyiksaku. Semua ingatanku tentang pembunuhan gadisku menjadi peluru mematikan bagi semua kenanganku dengannya. Kematiannya adalah hilangnya data-data penting tentang cinta yang ada di ingatanku. Aku harus pura-pura tak ingat bahwa dia telah meninggal dunia, dan tak tau ke mana dia saat ini. Kematiannya menjadi tangis setiap waktu, di tengah acting-ku menjadi lelaki yang amnesia demi menjaga amannya diriku dan keluargaku di rumah.

Baru satu minggu dari kematian gadisku, tepatnya, aku ditabrak orang yang tak menginginkan dokumen rahasia ayah gadisku terungkap. Kematiannya belum juga lama dan tentu masih melekat senyumnya di ingatanku, kemudian aku dipaksa dalam-dalam untuk lupa dan harus berpura-pura amnesia dan masih menganggapnya hidup. (Habis)

 

Ongky Arista UA, lahir 24 Juli 1994 di Desa Banbaru, Giliraje-Sumenep. Cerpennya, “Sumur Darah” meraih Juara II di ajang menulis cerpen bertema bebas Nasional oleh Forum Aktif Menulis Indonesia tahun 2017. Kini mukim di Somalang-Pakong, Dusun Barat Rt 001/Rw 001, Pamekasan. Facebook; Ongky Arista Ujang Arisandi.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Ikuti berita terkini dari Nusantaranews di Google News, klik di sini.

Related Posts

1 of 514