Anies-Sandi/Foto Istimewa/Nusantaranews
Anies-Sandi/Foto Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Analis politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, mengungkapkan bahwa jelang hari pencoblosan di Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua, ada fakta sosiologis yang menyatakan masyarakat Jakarta tengah diliputi rasa kecemasan tentang siapa yang akan memenangkan kontestasi hajatan politik 5 tahunan tersebut.

“Mari kita bedah untuk mengobati kecemasan itu dengan memprediksi siapa pemenang pilkada DKI dengan tiga cara,” ungkapnya kepada wartawan, Jakarta, Rabu (19/4/2017).

Cara Pertama, menurut Ubedillah, memprediksi kemenangan bisa dengan cara membaca atau mempelajari fakta ilmiah yang ada. Cara ini dilakukan berdasarkan hasil penelitian ilmiah. Ini cara prediksi paling kuat. Tentu dengan memegang teguh prinsip-prinsip metodologi ilmiah dengan benar. Salah satunya melalui survei elektabilitas calon gubernur yang rigid metodologinya.

Dalam beberapa waktu terakhir, Ubedillah mengatakan, setidaknya ada sejumlah lembaga survei yang cukup kredibel yang merilis hasil risetnya kepada publik, diantaranya adalah Median Center, LSI, SDI, Pollmark, dan SMRC.

“Kelima lembaga riset tersebut mengemukakan temuannya bahwa jika pemilihan dilaksanakan pada hari survei tersebut (awal April) pasangan Anies-Sandi menang dengan selisih kemenangan antara 1 sampai 8% dibanding Ahok-Djarot. Meskipun ada sekitar 2,5 sampai 6% belum menentukan pilihan (undecided voters), tetapi dengan mencermati kecenderungan temuan lembaga riset tersebut,” ujarnya.

Satu lagi, Ubedillah menyebutkan, di hari terakhir sebelum hari tenang, lembaga survei Charta Politica merilis hasil surveinya. Hasil survei Charta Politica menyebutkan elektabilitas Ahok lebih tinggi 4% dibanding Anies.

“Berdasarkan catatan saya, Charta Politica kredibilitasnya diragukan publik sejak kedekatannya dengan Ahok terbongkar akhir tahun 2016. Dari enam lembaga Survei, hanya Charta Politica yang surveinya memenangkan Ahok. Tentu ini mengundang tanya publik. Sebab jika ada 6 lembaga survei, lalu 5 lembaga survei memenangkan Anis-Sandi tetapi hanya satu lembaga survei yang memenangkan Ahok-Jarot, maka patut dipertanyakan metodologi dan sekaligus kredibilitas lembaganya,” ujarnya menyindir.

Kedua, dengan menganalisis perbandingan kekuatan masing-masing pasangan cagub-cawagub. Menurut Ubedillah, jika dianalisis berdasarkan kekuatan pasangan calon (paslon), misalnya dari segi kekuatan mesin politik secara kuantitas dan kualitas.

“Secara kuantitas mesin politik Ahok-Jarot lebih unggul karena didukung oleh 6 mesin partai (PDIP, Nasdem, Hanura, Golkar, PPP,PKB) ditambah sebagian mantan relawan Jokowi-Ahak saat pilkada 2012, dibanding pasangan Anies-Sandi yang didukung 5 mesin partai (Gerindra, PKS, PAN, P.Perindo, P.Idaman) dan relawannya,” katanya.

Tetapi, lanjut Ubedillah, jika dicermati secara kualitas, militansi mesin politik berdasarkan fakta pemilu ada pada partai di belakang Anies-Sandi terutama PKS dan Gerindra, dan relawan Anies-Sandi dari berbagai kalangan yang saat musim kampanye putaran dua terlihat sangat militan.

“Namun, jika partai pendukung Ahok-Jarot memperbaiki militansi mesin partainya (khususnya PDIP) maka kekuatan mesin politik kedua paslon tersebut sama-sama kuat, problemnya ini sudah hari tenang, tidak ada lagi waktu kampanye untuk memperbaiki mesin politik. Dari faktor kualitas mesin politik ini nampaknya pasangan Anis-Sandi lebih unggul dibanding Ahok-Jarot,” ungkapnya.

Selain itu, Ubedillah mengatakan, faktor kekuatan lain yang cukup signifikan mempengaruhi kemenangan adalah financial capital (modal finansial).

“Berdasarkan faktor kekuatan ini, pasangan Ahok-Jarot lebih kuat dibanding pasangan Anis-Sandi. Ini jika Ahok-Jarot benar didukung penuh oleh konglomerasi yang memiliki modal tak terbatas untuk memenangkan pilkada,” ujarnya.

Alat ukur Ketiga yang bisa untuk memprediksi kemenangan adalah menganalisis seberapa fatal tindakan paslon dan timnya dihari-hari terakhir menjelang pencoblosan.

“Saya mencatat tindakan fatal yang merugikan paslon dan dapat secara signifikan memperparah penurunan elekabilitas ada pada tim atau relawan Ahok-Jarot. Pada hari pertama hari tenang (16 April) panwas Jakarta Barat menangkap tangan tim atau relawan Ahok-Jarot yang bagi-bagi sembako dengan diselipi kertas berisi pesan-pesan politik yang mengarah kampanye,” kata Ubedillah.

Bahkan, Ubed menilai, salah satunya adalah cara bagi-bagi sembako dilakukan dengan mengumpulkan Kartu Keluarga (KK). Ini terjadi di jl bulak simpul RT 9/ RW 4 Pegadungan kalideres Jakarta Barat,  dengan barang bukti 6 mobil pengangkut sembako.

“Perilaku tim atau relawan Ahok-Jarot ini sangat negatif menurut pandangan publik sehingga mempengaruhi pandangan publik yang kemudian bisa membuat kesimpulan bahwa tim pasangan Ahok-Jarot berbuat curang dihari tenang. Pandangan negatif publik ini memberi pengaruh pada penurunan kepercayaan publik terhadap pasangan Ahok-Jarot,” ujarnya.

Jadi, Ubed menyatakan, jika menggunakan tiga cara untuk memprediksi pemenang pilkada DKI putaran final pada 19 April 2017 mendatang sebagaimana dijelaskan diatas, maka dapat disimpulkan berikut ini.

Dari segi analisis fakta ilmiah pasangan Anies-Sandi, terlihat lebih kuat dengan selisih unggul rata-rata dari 6 lembaga survei sekitar 2 % (selisih maksimal 8% untuk Anies-Sandi dari 5 lembaga survei dikurangi selisih maksimal 4 % dari satu lembaga survei yang memenangkan Ahok Jarot lalu bibagi dua pasang).

Sedangkan, kata dia, Jika dianalisis dari kekuatan mesin politik  masing-masing paslon nampak sama sama kuat dan cenderung Ahok-Jarot lebih kuat dari segi kekuatan finansial.

“Jika dianalisis dari seberapa fatal tindakan paslon dan tim nya dihari-hari terakhir menjelang pencoblosan nampak tim  atau relawan Ahok-Jarot telah melakukan tindakan fatal merugikan daya elektabilitas Ahok-Jarot, sehingga Anies-Sandi nampak pada sisi ini lebih mendapat keuntungan,” katanya.

Maka dari tiga kategori tersebut, Ubedillah menambahkan, paslon Anies-Sandi mengungguli dua kategori, sehingga peluang untuk memenangkan pertarungan ada pada paslon Anies-Sandi meski kemenanganya tipis.

“Tetapi prediksi tersebut bisa tidak berlaku jika pelaksanaan pemilu diwarnai berbagai kecurangan, karena seringkali kecurangan merusak cara-cara ilmiah dalam memprediksi kemenangan pemilu. Jika kecurangan terjadi, ia tidak hanya merusak cara-cara ilmiah dalam memprediksi tetapi juga merusak situasi sosial pasca pilkada,” katanya. (DM)

Editor: Romandhon

Komentar