Patroli di Laut Cina Selatan/Foto Dok. Getty
Patroli di Laut Cina Selatan/Foto Dok. Getty

NUSANTARANEWS.CO – Seluruh analis ekonomi dan politik sepakat bahwa dunia kita diami sekarang tengah dilanda badai dan turmoil yang hebat. Itu bukan sekadar ketidakseimbangan unbalance, tetapi juga kerusakan sistem yang sifatnya mendasar.

Amerika Serikat menanggung utang yang besar. China utang publiknya mencapai 31.7 triliun dolar. Arab Saudi sejak kejatuhan harga minyak akhirnya membuka wajah krisis negara tersebut. Tahun 2015 Arab Saudi menjadi negara paling agresif dalam meperdagangkan surat utang.

“Kondisi fiskal Arab Saudi adalah yang paling mengkuatirkan di dunia one of the worst fiscal deficit. Tingkat defisit fiskal Arab Saudi pada tahun 2015 hampir mencapai 15 persen dari GDP mereka,” ujar analis ekonomi politik Salamuddin Daeng, Senin (27/2/2017).

Sementara harga minyak rendah tampaknya akan bertahan lama. Ada dua penyebab utama. Pertama China yang selama ini sebagai motor penggerak pertumbuhan global mengalami kontraksi yang besar. Pertumbuhan ekonomi negara tersebut tersisa 5-6 persen saja dari pertumbuhan double digit sebelum tahun 2010.

Ekonomi Cina tidak mungkin tumbuh lagi. Namun sangat mungkin untuk jatuh lebih dalam. Kedua, Amerika Serikat sebagai konsumen minyak terbesar tidak lagi membutuhkan impor minyak dikarenakan negara ini mampu memproduksi seluruh kebutuhan minyak mereka. Bahkan di saat OPEC menurunkan kuota produksi minyak justru AS meningkatkan produksi mereka.

USA telah menendang minyak sebagai bahan bakar semata dan tidak lagi menjadi dasar bagi nilai mata uang dolar. Sama seperti era tahun 1970-an ketika mereka menendang emas sebagai perhiasan semata. Dolar Amerika Serikat sudah semakin independen sebaga mata uang global. Dolar bahkan sudah tidak menggantungkan dirinya pada kebijakan Amerika Serikat. Melahirkan instrumen akumulasi sendiri melalui cara cara spekulasi.

Itulah mengapa terjadi buble finance. Uang begitu banyak, namun semua negara menanggung utang. Utang global sudah mencapai 150 persen dari PDB semua negara. Jumlah uang sudah melampaui 10 kali dari PDB dunia. PDB dunia 60 triliun dolar. Tapi produk pasar keuangan mencapai 600 triliun dolar lebih. Uang tidak lagi memiliki dasar. Emas bukan, minyak bukan, PDB bukan, negara juga bukan. Akibatnya uang mencari mekanisme pengamanan sendiri. Mencari ruang ekploitasi yang paling efektif.

“Tetapi over produksi, over akumulasi dan buble finance capita, tidak lagi dapat diatasi dengan pembukaan pasar, Liberalisasi barang publik, dan delegasi keuangan. Mengapa?  Karena daya beli masyarakat dunia sudah jatuh. Orang sangat miskin mencapai 2 miliar manusia. Negara negara tidak sanggup lagi menyerap utang. Sebagian besar negara telah menanggung utang melebihi PDB mereka. Bahkan negara negara maju rata-rata sudah di atas 100 persen PDB,” papar Salamuddin.

“Hanya ada satu peristiwa yang dapat menyelesaikan krisis, yakni puncak krisis itu sendiri. Apa itu? Tidak lain adalah perang global. Perang menciptakan penghancuran, perampasan, pasar baru dan akhirnya keseimbangan baru. Lalu di mana perang ini akan dilangsungkan… wallahualam,” pungkasnya.

Penulis: Eriec Dieda

Komentar