Connect with us

Budaya / Seni

Teh yang Tumpah dan Ketika Kopi Harus Diteguk

Published

on

Tatacara Minum Kopi Tempo Dulu/Foto: Jurnal Bumi

Tatacara Minum Kopi Tempo Dulu/Foto: Jurnal Bumi

Puisi Nuriman N. Bayan

DAN OMBAK

Jangan biarkan
kesepian menetap
di kepalaku yang musim
hatiku terlalu sunyi
untuk menunggu
angin mengecup
bibir malam yang harum
kopi, terlalu lama
aku tinggalkan
untuk segelas teh manis yang bunda.

Jangan biarkan
kesepian menetap
di dadaku yang musim
doa terlalu banyak
berloncatan dari lidah yang luka
dan ombak, sudah cukup
menepi ke teluk yang tak jua peluk.

Morotai, 17 Juli 2018.

TEH YANG TUMPAH

Ini malam kesekian
kau melompat dari genting
lalu terpelanting ke dadaku.

Ada gigil tiba-tiba mendesis
di antara asap rokok dan
segelas teh yang tumpah
di rahim perempuan.

Ternate, 10 November 2017.

KETIKA KOPI HARUS DITEGUK

Di antara pahit, menghitam
aku menyaksikan terik membakar
para pekerja batu
di tangan yang tabah
aku menemukan seratus kanak-kanak
berlari ke kota kota
membawa sang saka
dengan lantang, “kami Indonesia”.

Di gumpalan asap rokok
aku melihat anak-anak harapan
jatuh, terkulai, tertindih kabut tebal
tak ada mereka di sana
selain beberapa truk beranjak ke Kota
mengangkut batu batu
meletakkan di gang gang kota
di sana, anak anak menjerit
menunggu dua tiga lembar
dari keringat yang tumpah.

Adakah tuan yang masih tertidur?

Tobelo, 22 Oktober 2017.

DI DALAM HIDUPKU

Di dalam hidupku
ada dua kebiasaan
tak bisa kau terka. tapi nanti
aku sendiri yang mengatakan

di dalam hidupmu akan
hidup dua kemungkinan
dan di sana aku
tak bisa mengucap apa-apa.

Morotai, 19 Juli 2018.

Nuriman N. Bayan atau lebih dikenal dengan Abi N. Bayan, lahir di Desa Supu Kecamatan Loloda Utara Kab. Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara pada 14 September 1990. Anak dari Hi. Nasir Do Bayan, dan Rasiba Nabiu. Anak keenam dari sembilan bersaudara. Karyanya dipublikasikan dalam media daring dan tergabung dalam antologi Kita Halmahera, Kitab Puisi Penyair Maluku Utara (Garasi Genta, 2017), Embun-Embun Puisi (Perahu Litera, 2017), Langit Senja Jatigede (Proses Penerbitan). Kini tinggal di Ternate Utara.

Baca Juga:  Warga Komplek Cadek Permai Baitussalam Aceh Besar Peringati 16 Tahun Tsunami Aceh

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Loading...

Terpopuler